Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#Sah (End)


__ADS_3

Sah


Sah


Sah


Penghulu itu pun membacakan doa di ikuti yang lainnya, Bella mengusap wajahnya dengan doanya, dia pun menoleh meraih tangan Jhonatan, satu tetes air matanya membasahi tangan Jhonatan. Untuk kedua kalinya dia menyandang status istri Jhonatan.


Nyes


Jhonatan merasakan aliran hangat dan rasa hangat itu membuat hatinya bergerak kesakitan. Bibirnya bergetar, dia pun mencium kening Bella begitu lama dan sangat dalam. Ia memejamkan kedua matanya, mengingat pertama kalinya mencium kening itu.


Bella menatap wajah Jhonatan, pria itu pun memakaikan cincin yang sangat cantik di jari manis Bella.


Tuan Alexander menghapus air matanya, sekalipun pernikahan ini sederhana, tapi ia cukup senang, akhirnya Jhonatan menikah dengan wanita yang dia cintai. Vello dan Velli memiliki keluarga yang utuh, walaupun ia merasa masih ada sosok Dominic di samping Bella. Tapi ia yakin, Bella akan memilah masa lalu dan masa depan.


"Jho,"


Tuan Alexander memeluk Jhonatan dan menepuk punggungnya. Dia menatap putranya yang menangis dan sekali lagi memeluknya.


Sedangkan Bella, dia memeluk Gladies di sampingnya dan menangis dalam pelukannya, kedua wanita itu sama-sama menangis. Keduanya berkorban demi kebahagian orang yang di cintai, pernah mengalami luka yang mendalam, namun sekarang sudah di obati.


"Jangan menangis," Gladies menghapus air mata Bella. Wanita dia depannya sangat cantik menggunakan kebaya putih yang melekat cantik di tubuh kecilnya, pantas saja Jhonatan tergila-gila padanya, cantik wajahnya dan juga hatinya.


"Maafkan aku," ucap Bella. Dia semakin terisak dan merasa bersalah, tapi ini amanah suaminya. Dia ingin membuat Gio dan suaminya bahagia, entah ia bisa menerima Jhonatan atau tidak? tapi ia akan berusaha, karena sekarang dia memiliki kewajiban membahagiakan suaminya.


"Kau .. Kau tidak bersalah, aku, aku senang, kau kembali pada Jhonatan, aku merasa senang. Takdir mu kembali pada Jhonatan."


Gladies kembali memeluk Bella, dia pun melerai pelukannya saat tatapannya saling beradu dengan Jhonatan.


"Aku titip Jhonatan pada mu,"


Gladies menggenggam tangan Bella dengan tatapan memohon. "Dia pria yang baik, hanya saja takdir ku berpisah dan aku sudah merelakannya saat dia memilih mu, tapi aku yang egois, aku hanya memikirkan perasaan ku sendiri."


"Aku tahu, Dominic tidak bisa di hapus dari hati mu, tapi tolong berikan separuhnya untuk Jhonatan."


Gladies tersenyum sambil menghapus air matanya, dia pun beranjak pergi menuju ke balkon. Rasanya tidak kuat melihat semuanya, hatinya begitu sakit menyaksikan semuanya.

__ADS_1


Acara pernikahan Bella kini di gelar di kediaman tuan Alexander, awalnya semua orang ingin membuat pesta, tapi Bella tidak ingin pernikahannya di meriahkan.


Gladies memejamkan kedua matanya, menarik nafasnya yang terasa tercekat.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Justin. Dia pun menyodorkan sapu tangan pada Gladies.


"Aku tidak apa-apa," ucap Gladies. Dia mengambil sapu tangan itu.


"Aku senang kau baik-baik saja,"


"Kau kemana saja Justin?" tanya seorang wanita. Dia merasa kesal karena pacarnya tiba-tiba menghilang, sedangkan Austin tengah mencari ayahnya.


"Nyonya," sapa Ana tersenyum pada Gladies. Semenjak Justin menjadi pengikut tuan Alexander, kini Justin tengah dekat hubungannya dengan Ana dan beberapa bulan mereka sudah berhubungan dan akan melangsungkan pernikahan bulan depan.


"Kau mencari Justin,"


"Iya, maaf mengganggu waktunya, tadi Austin mencari Justin," ucap Ana canggung


Justin pun menarik pinggang Ana. "Gla, perkenalkan dia calon istri ku."


Gladies tersenyum, dia pun mengulurkan tangannya. "Selamat, aku senang kalian akan menikah dan kau akan menjadi ibu sambung Austin."


"Jangan menyakitinya, karena aku sudah menyakitinya," ucap Gladies pada Ana. Dia berharap, Ana membahagiakan Justin.


"Tenang saja, aku sangat mencintai Justin. Aku akan membuatnya bahagia." Ana menoleh pada Justin yang di angguki senyuman. "Ya sudah, kami masuk dulu, Austin pasti mencari kami."


Gladies tersenyum, inilah akhir kisahnya. Tapi ia senang, kini ia merasa tidak ada beban lagi dan berharap orang yang pernah ia sakiti bahagia.


***


Bella menatap dua foto figura itu, satu foto dirinya dengan Dominic dan satu lagi foto dirinya dengan Jhonatan yang berlangsung tadi.


"Dominic, aku sekarang memiliki suami, dan suami ku pilihan mu. Dia pilihan yang kau inginkan untuk menjadi Daddy Giordan."


Bella mencengkram sebelah tangannya. "Maafkan aku, aku sekarang memiliki kewajiban menjaga Jhonatan dan anak kita. Tapi percayalah, kau tetap ada di hati ku. Kalian akan memiliki masing-masing tempat."


Jhonatan yang baru selesai mandi dan mengusap rambutnya, kini mendekati istrinya, duduk di belakangnya, lalu memeluknya dan menyandarkan dagunya di bahu Bella.

__ADS_1


"Dominic, kau mempercayakannya pada ku. Aku berjanji akan membahagiakan Bella dan anak kita, aku akan mencurahkan segala nyawa ku untuk mereka. Aku tidak akan mengecewakan mu."


Bella mengusap kepala Jhonatan, "Aku harap kau tidak cemburu, kalau hati ku masih ada nama Dominic."


"Tidak, nama ku dan nama Dominic memiliki tempat masing-masing, aku justru berterima kasih padanya."


Bella memutar tubuhnya dan tersenyum. Jhonatan menyatukan keningnya dengan kening Bella, nafas keduanya pun saling menyapa dan menerpa wajah mereka.


Jhonatan menarik tengkuk Bella, dia memulai kecupan ringan di bibir Bella. Sorot mata teduhnya meminta lebih dan Bella mengangguk, dia tidak mungkin menolak suaminya, sekalipun pernikahan ini atas permintaan mendiang suaminya.


Jhonatan kembali mengecup bibir Bella, memberikan kecupan demi kecupan lembut. Ia pun memperdalam ciumannya, memainkan lidahnya dan lembut.


Dengan perasaan terburu-buru, dia pun membuka bathrobe itu, lalu membaringkan tubuh Bella.


Jhonatan membuang kain yang melekat di tubuhnya dan kembali mencium wajah istrinya dan seluruh tubuhnya.


Ia mengusap pipi Bella yang merona, sedangkan wanita di bawahnya merasa malu melihat tubuh kekar suaminya, seperti dulu, ia pernah melihatnya.


"Aku mencintai mu."


Jhonatan kembali menyerang bibir ranum itu, has.rat yang tertimbun begitu lama, kini tersalurkan. Bertahun-tahun dia berpuasa hanya karena cinta yang telah pergi, tapi sekarang cinta itu telah kembali.


Jhonatan mencium leher Bella, menyalurkan sengatan listrik kecil di kulitnya. Bella menerimanya, gelora di tubuhnya semakin menggebu, Jhonatan memperlakukannya dengan lembut dan membuat tubuhnya seakan menari-nari.


Pria itu pun berlanjut di milik Bella, kecupan demi kecupan dan beberapa tanda keindahan menghiasi miliknya, kini lidahnya bermain di keduanya.


Bella membuka kedua matanya, merasakan sesuatu yang kini menembus rahimnya. Setelah melahirkan, dia tetap merasakan sakit di sana.


"Maaf, apa sakit?"


Bella mengangguk sebagai jawabannya, ia malu saat ingin mengatakan iya.


"Aku akan melakukannya dengan hati-hati, sayang."


Jhonatan kembali mencium setiap inci tubuh Bella, agar tubuh Bella menerima miliknya dengan santai. Kini pesta keduanya pun berlanjut, Jhonatan melakukannya dengan lembut sambil mencium bibir Bella dan miliknya.


Jhonatan terus mendorong miliknya dengan lembut, suara merdu keduanya menghiasi suasana temaram itu. Tubuh keduanya di basahi oleh peluh keringat yang berkahir dengan hembusan nafas lelah.

__ADS_1


###


Jangan lupa baca karya baru Author "Lima Tahun Kemudian" yang bercerita seorang wanita yang sangat kuat.


__ADS_2