
Dominic menatap Jhonatan, kedua pria itu sama-sama terdiam. Dominic memutuskan kontak matanya, sedangkan Jhonatan malah menatap tajam Dominic, ia ingat betul, anak kecil itu, anak yang ia temui di Restoran.
Dia beralih menatap sang Daddy. Kedua matanya memancarkan aura kemarahan, ia butuh penjelasan mengenai semuanya.
"Kau ingin meminta penjelasan? aku akan menjelaskannya," ucap tuan Alexander yang mengerti akan tatapan putranya itu.
"Dominic, bawa Vello dan Velli pergi, mereka tidak boleh mendengarkan pembicaraan orang dewasa."
Dominic melihat Jhonatan dan kemudian beralih menatap Bella dan tuan Alexander. "Ayo sayang, ikut Daddy," ucap Dominic, dia menekan ka Daddy agar Jhonatan tahu, kalau ia sangat akrap dengan kedua anaknya itu, melebihi dirinya.
Apa kalian bisa menjelaskan?" tanya Jhonatan dengan nada menekan. Hatinya begitu sakit melihat pemandangan di depan kedua matanya. "Aku ayahnya, apa kalian berhak melakukan semua ini?"
"Kau ingin mendengarkan penjelasannya, baik, akan aku jelaskan rasa sakit yang Daddy terima selama ini, yang Daddy rasakan selama ini."
"Bella," tunjuk tuan Alexander pada wanita di sampingnya. "Wanita yang kau sakiti adalah anak masa lalu Daddy."
Jhonatan begitu terkejut, jantungnya seakan berhenti dalam sekejap. Tubuhnya terasa lemas, kakinya melangkah mundur, kedua matanya masih tercengang dalam keterkejutannya. Terasa bagaikan di hantam oleh ombak.
"Daddy pikir, cukup Daddy yang menyakitinya, jangan sampai putra ku mengulangi kesalahan di masa lalu, tapi Daddy terlambat. lalu sekarang kau ingin meminta penjelasan seperti apa? alasan Bella pergi? sudah pasti alasannya karena kamu," tunjuk tuan Alexander, kedua matanya menatap tajam dan tangannya gemetar. Tidak akan ada seorang wanita yang akan bertahan kalau hanya disakiti dan kau membohonginya, kau membuatnya percaya pada mu setelah kedua orang tuanya, katakan! siapa yang lebih kejam di sini?"
__ADS_1
"Ya, Daddy akui, selama inilah Daddy yang menyembunyikan Bella dan juga kedua anak mu,"
Bella menunduk, sebisa mungkin dia menahan tangisnya agar tidak pecah, mengingat semuanya, betapa sakitnya di masa lalu. Hatinya di permainkan dengan kejam.
Jhonatan menatap Bella, dia langsung berjongkok dan menggenggam kedua tangannya dan menatap wajah Bella.
Jhonatan menangis dalam hati yang sangat begitu dalam, rasa penyesalannya yang amat membekas, dia menyatukan keningnya ke kedua tangan Bella. "Maafkan aku, tolong maafkan aku, aku sangat menyesalinya. Aku mohon maafkan aku, Bella."
Sama halnya dengan Bella, ia merasakan sakit yang begitu luar biasa, hatinya telah hancur. Hingga ia ingin mencari kepingan hatinya. Dia pun melangkah mundur dan kedua tangannya terlepas dar tangan Jhonatan. "Kau tau? selama beberapa tahun ini aku selalu memendam rasa ke, Jho. Aku membenci mu sampai aku tidak ingin melihat wajah mu ini, tapi aku tidak bisa memungkiri, kau adalah ayah dari anak ku."
"Pria kejam seperti mu adalah ayah dari anak ku,"
"Aku sudah mempertemukan anak mu dengan mu, jadi sudah cukup."
"Tidak, aku mau kita seperti dulu, aku ayahnya."
Tanpa mereka sadari, ada seorang wanita yang tengah mengawasi mereka dan mendengarkan semuanya.
"Apa maksud kalian?!" teriak seorang wanita. Kedua telinga, bahkan hatinya terasa panas. Dia tidak mempercayai apa yang ia dengar dan ia lihat.
__ADS_1
"Kau sudah mendengarkannya, dia Bella istri siri suami mu, lebih tepatnya pernikahan pembalasan dendam."
"Kau bisa meminta penjelasannya pada Jhonatan,"
Gladies menggeleng dengan cepat, ia tidak mempercayainya, Jhonatan begitu mencintainya dan tidak mungkin mengkhianatinya. Dia pun berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Jhonatan. "Katakan kalau semua ini salah, Jho."
"Kau di paksa melakukan ini untuk menyakiti ku kan? ya, kau pasti di paksa," ucap Gladies mengelantur.
Gladies berdiri, dia menatap sengit Bella dan satu tangannya, langsung ia lambaikan ke arah pipi Bella dan membuat semua orang terkejut. Bella langsung menoleh, dia juga menatap Gladies tak kalah sengit. Sudah cukup baginya, terinjak-injak di masa lalu, ia tidak ingin terinjak lagi dan berhasil satu tamparan ia loloskan di sebelah pipi Gladies.
"Kau berani menampar ku?!" teriak Gladies.
"Ya, aku memang berani menampar mu, karena kau berani membuat ayah ku meninggal serta suami mu, kalian berhasil membuat ayah ku meninggal. Tanpa rasa bersalah, suami mu datang membalaskan dendam atas istri yang lagi koma, padahal yang lebih sakit aku," tunjuk Bella pada dadanya. "Aku yang lebih sesak, tapi suami mu ini malah tanpa berdosa membuat ku terlena dengan rayuan yang menjijikkan. Dia berhasil membuat ku jatuh cinta lalu menjatuhkan ku dan sekarang membuat ku membencinya."
"Bella ... " lirih Jhonatan. Perkataan Bella yang begitu membencinya membuat nafasnya seakan berhenti dalam sekejap.
"Heh! apa kau pikir aku percaya pada mu? wanita murahan seperti mu, pasti sudah di bayar oleh mertua ku? kau di bayar berapa? aku akan membayar mu."
Plak
__ADS_1