
Seperti biasa, di kediaman Jhonatan hanya Gladies dan tawa anak kecil yang menghiasi ruangan makan itu. Mereka sudah terbiasa melakukannya, makan tanpa Jhonatan dan hanya berdua saja. Gladies, sangat merindukan kehangatan seperti dulu, ia merindukan Jhonatan yang hangat padanya, melakukan apa pun demi dirinya, tapi semenjak kejadian dimana ia di pertemukan dengan mantan suaminya, Jhonatan berubah dan ia menyalahkan ayah mertua, sekaligus mantan suaminya yang telah menghancurkan kehidupannya.
Sedangkan Jhonatan, setelah lika-liku kehidupan yang ia lalui, ia menjadi orang yang pendiam, tidak ada senyuman di wajahnya. Bahkan ia sering pulang ke Apartementnya dari pada rumahnya sendiri. Tak jarang dia mengingat semua kenangan Bella sambil melihat test pack di tangannya, dua garis merah yang menandakan kalau ia sudah menjadi seorang ayah, namun ia tidak tahu keberadaan anaknya.
Ia menepuk dadanya yang terasa mencekik lehernya. Dia menggenggam erat test pack itu dan sekali ia berteriak keras.
Ia membuang test pack itu, lalu kedua kakinya menekuk, ia menjambak rambutnya dengan kasar. Semuanya, semua perbuatan dan perkataannya di masa lalu ia sangat menyesalinya.
"Argh!!!"
"Argh!!!
"Argh!!!!!!!"
Ia tidak kuat, selama bertahun-tahun ia jatuh ke dalam keterpurukan, penyesalan yang membelenggunya.
Brak
"Tuan!" teriak Jack. Mendengarkan teriakan sang bos, dia langsung menabrak pintunya. Kini ia bernafas lega, sang bos tidak melakukan apa pun yang mengancam nyawanya.
__ADS_1
Sebagai seorang pria, ia tahu kesakitan yang di ciptakan sendiri oleh sang majikan. Ia tahu, pria itu dalam setiap detik sebuah rasa penyesalan yang amat dalam. Semua orang melihatnya hidup, tapi tidak, jiwanya telah mati.
"Tuan!" sapa Jack. "Mari saya bantu tuan duduk di atas," ucap Jack.
"Kenapa? Tuhan, aku ingin bertemu dengannya. Bella mengatakan, 'kalau hati mu ingin tenang, sholat lah, Allah SWT akan memberikan ketenangan di sini, kalau kau meminta sesuatu, mintalah, Dia akan mengabulkan semua keinginan mu," Bella menunjuk dada Jhonatan, pria itu tak bisa mengalihkan pandangannya.
"Aku sudah memintanya," tangis Jhonatan semakin pecah. Ia mencoba memperbaiki kehidupannya, sholat yang tak pernah ia lakukan, kini ia lakukan setiap waktu. Demi berubah menjadi pria yang baik, ia bahkan belajar mengaji. Ia ingin berubah, perkataan sang ayah menari-nari di pikirannya.
*Berubahlah, demi diri mu dan demi anak mu. Kau percaya sekarang kau menjadi seorang ayah, maka berubahlah menjadi pria yang baik, kau tidak ingin mengecewakan kedua anak mu, kan? jangan sampai ketika dia datang, dia tidak menerima sikap mu.
Daddy percaya pada mu, kau tidak akan mengecewakan anak-anak mu.
"Aku sudah berubah," lirih Jhonatan. Dia menunduk dan membiarkan tetesan air mata jatuh ke lantai.
Drt
"Aku akan mempertemukan mu dengan Bella,"
Sebuah pesan yang membuat Jhonatan langsung menghapus air matanya yang menghalangi tulisan di ponselnya. Ia kembali mengucek kedua matanya dengan sebelah tangannya, tulisan itu tetap sama dan di kirimkan oleh sang Daddy.
__ADS_1
###
Sedangkan Dominic, angin malam yang berhembus itu, ia menikmatinya. Sepanjang malam ia tidak bisa tidur, dadanya terasa sakit. Ia tidak bisa melihat Bella bertemu dengan Jhonatan dan anaknya memanggilnya Daddy, sedangkan ia, ia harus kehilangan panggilan itu. Ia tidak rela, sangat tidak rela.
"Bella, hah!"
Dominic memutar tubuhnya, langkah kakinya mengarah pada ranjang yang terdapat tuan putri kecilnya. Dia duduk di tepi ranjang sambil melihat putri angkatnya tertidur pulas. "Daddy tidak bisa, Daddy tidak rela,"
Ia menghapus air matanya dengan sebelah tangannya. "Kau berhasil, seharusnya aku membenci mu dan membenci ibu mu, tapi semenjak pertemuan pertama ku dengannya, aku terhipnotis dan tidak bisa membencinya, seharusnya kalian menjadi koban ku atas semua perlakuan Jhonatan,"
Dominic terkekeh, dia punggung tangan kanannya menepuk telapak tangan kirinya. "Iya, aku kalah. Ibu mu berhasil membuat ku merasakan cinta yang semakin dalam. Setiap hari cinta itu tumbuh dan berbunga. Aku tidak bisa melupakan senyuman indahnya, kau tahu alasan ku membawa mu kemana pun pergi? karena kau mirip dengannya, sehingga aku bisa menikmati seseorang yang sangat mirip dan menemani hari-hari ku."
"Aku tidak bisa, aku tidak rela." Dominic, pria itu akhirnya menangis dalam ketakutan. Dia sangat takut kehilangan apa yang saat ini ia miliki, ia takut semua orang pergi meninggalkannya, sama dengan orang di masa lalu.
###
Lain halnya dengan Bella, wanita itu terus menatap putranya yang sangat mirip dengan Jhonatan, ia yakin, setelah dewasa putranya semakin mirip, mungkin orang akan mengatakan mereka kembar. Wajah yang ia benci, kini terlipat di wajah putranya.
"Ibu mu berusaha kuat demi dirimu, Nak. Maaf, Ibu tidak bisa menjadi Ibu yang baik. Kau akan bertemu dengan ayah mu, ayah kandung mu. Sejujurnya ibu tidak rela, tapi ibu harus membuktikannya, kalau ibu wanita yang kuat. Ibu bahagia tanpa ayah mu."
__ADS_1
Bella mencium kening Vello yang tertidur lelap. "Terima kasih telah hadir dalam hidup Mommy, sayang."