
"Aku gagal,"
Tuan Jhonatan mendekatkan telapak tangannya ke dahinya sambil menangis, meremas hatinya yang penuh dengan kepiluan. Bertahun-tahun dia menanggung sendiri siksa batinnya, siksa sanubarinya. Kesakitan demi kesakitan ia rasakan setiap detiknya.
Berusaha tegar hanya demi melihat masa lalunya, harapan pada anaknya yang tidak pernah berhenti yang berniat mencari relung hatinya.
Demi sang anak, ia mengorbankan kebahagiaannya, namun apa? ia tidak mendapatkan apa pun, hanya kepedihan yang ia dapatkan.
Duri yang menusuknya semakin dalam dan meracuninya perlahan. Bahkan, ia tidak tau apa itu senyuman? apa itu kebahagiaan?
"Argh! ini menyakitkan!"
Teriakan di taman itu membuat semua pelayan menoleh, dan pergi, tak ada satu pun yang berniat menenangkan sang majikan, karena mereka masih sayang dengan nyawa mereka.
"Apa dia berniat menyembunyikan identitasnya? hanya demi membalas dendam?"
Dadanya naik turun, ia mengepalkan tangannya. Pantas saja, dia menyiksa Bella, mungkin karena perempuan itu anak dari kekasih masa lalunya.
"Saya kurang tau Tuan, saya memiliki dua pemikiran salah satunya pemikiran saya seperti Tuan dan salah satunya Tuan Jhonatan tidak memeriksa keselurahan identitas nyonya Bella."
"Kurang ajar, selama ini aku di bodohi olehnya, hanya demi wanita itu, dia menyiksa anak dari kekasih ku." Caci Tuan Alexander.
Hatinya membara, rasa panas itu semakin berkobar. Anaknya sendiri mempermainkan perasaannya, bahkan bertahun-tahun.
"Aku akan memberikan pelajaran padanya." Mata membunuh itu semakin melotot tajam, bibirnya bergetar, tangannya terus mengepal.
"Jangan tuan," cegah Theo, Asisten pribadi yang selalu menemaninya. "Kalau tuan Jhonatan tau, anda mencari semua informasi nyonya Bella, saya yakin tuan Jhonatan akan mencari cara membuat nona Bella tersiksa. Di lihat wajah nyonya Bella, nyonya muda pasti sangat menyukai tuan Jhonatan. Karena selama ini, tuan Jhonatan lah pria pertama yang mendekati nyonya Bella."
__ADS_1
"Tuan bisa lebih leluasa melindungi nyonya Bella dengan menyembunyikan semuanya dan pura-pura tidak tau."
Tuan Alexander memikirkan perkataan Theo itu, dia tampak berfikir keras. Kalau ia menyembunyikan siapa dirinya, tentunya ia lebih leluasa.
"Sebaiknya tuan pikirkan?"
"Benar, aku akan melindunginya sebagai tanda permintaan maaf ku."
"Benar tuan, apa lagi mengingat status tuan Jhonatan."
###
Di lain tempat.
Jhonatan, pria itu kembali menghabiskan waktu bersama dengan Gladies, niat pulang itu pun ia urungkan, seakan ia lupa bahwa ada sosok istri yang sangat merindukannya.
Di salah satu Mall terbesar di kota Singapura. Vivo City, salah satu mall terbesar dan sangat lengkap. Vivo City terkenal karena memiliki sebuah gedung bioskop terbesar di Singapura. Selain itu juga terdapat Playground, kolam Air terjun, ford court dan lengkap. Mall yang memiliki Eksterior dan Interior termegah dan termewah menjadi salah satu pusat berbelanjaan Fashion yang terbaik dan menawarkan produk-produk branded.
"Sayang, aku mau ke toilet dulu, kamu tunggu di luar," ucap Jhonatan. Di pun berlalu, sedangkan Gladies menuju ke mobil dan akan menunggu di sana.
Gladies memasukkan paper bag itu ke dalam mobil di tempat duduk belakang. Dia memainkan ponselnya sambil bersandar di pintu mobil depan.
"Jhonatan," Gladies tersenyum dan hendak melangkah ke arahnya. Namun siapa sangka, sebuah tembakan langsung menghancurkan kaca depan mobil Jhonatan.
Langsung saja pria itu menarik istrinya dan memeluknya. Keduanya terbelalak. Jhonatan yang tak membawa senjata, langsung menuju ke arah mobilnya dan menunduk.
"Jho .... " Ia syok dan menelan ludahnya susah payah. Ini kedua kalinya dalam bahaya.
__ADS_1
"Kamu di sini, jangan kemana-mana, hubungi Jack dan suruh bawa yang lainnya."
Dia pun berjalan menunduk sambil melihat sekelilingnya, tidak ada yang aneh. Semuanya tampak sepi.
"Kemana orang itu? siapa yang melakukannya?"
Jhonatan beralih dari satu mobil ke mobil lainnya, mengintip suasana di basemant itu.
"Sial! aku harus secepatnya membawa Gladies pergi." Jhonatan kembali ke tempat semula. Dia langsung membawa Gladies masuk ke dalam mobilnya.
Mobil hitam itu pun hendak keluar, tepat mobil itu membelah jalan. Jhonatan dan Gladies tak henti-hentinya melihat ke arah Spion. Mereka sangat cemas, apa lagi Gladies yang merasakan ketakutan.
Dor
Sret
Mobil Jhonatan langsung aoleng, salah satu ban mobilnya terkena peluru. Untung saja dia bisa mengendalikan mobilnya yang berputar-putar dan berhenti tepat di pinggir jalan.
"Jho .... "
Gladies menangis, Jhonatan mendekap tubuh istrinya, yang ia takutkan saat ini keselamatan Gladies.
"Tunggu di sini jangan keluar."
Jhonatan mengambil pistolnya, dia melihat ke arah spion, namun anehnya, mobil hitam itu melewati mobil Jhonatan dengan lajuan cepat dan tembakan yang di kerahkan oleh Jhonatan meleset.
"Sial! siapa mereka?"
__ADS_1
###
Gelak tawa menggelegar di ruangan itu, dia sangat senang meneror Jhonatan dan membuat orang itu lengah pada salah satunya. Ini memang rencananya yang membuat Jhonatan lebih fokus pada Gladies dan lebih lama menemaninya.