
"A-ada apa Dad?" tanya Gladies gugup, ia meneguk ludahnya yang tiba-tiba terasa kering.
Tuan Alexander tersenyum licik, sudah lama ia tidak mendengarkan suara ini. "Bagaimana kabar mu? kau tidak melupakan aku kan? atau kau melupakan sesuatu?"
"Daddy,"
Tuan Alexander terkekeh, lalu tertawa keras. Dia mendongak, menatap sang bulan yang terpancar jelas. Dia meneguk wine di tangannya. "Aku kira kau melupakan sesuatu," ejek tuan Alexander. Siapa yang tidak tahu masa lalu Gladies, tentu saja ia tahu. Namun Jhonatan menutup mata pada wanita sepertinya.
"Dad, apa mau Daddy?" tanya Gladies. Ketika dalam ketakutan menghantuinya, ia jadi teringat perkataan Jack. "Tenang saja Dad, aku pasti akan memberikan Daddy cucu yang menggemaskan."
Tuan Alexander menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. Ia hanya menganggap perkataannya hanya bahan tertawan untuknya. "Syukurlah, aku ingin segera menggendong cucu."
Tapi bukan anak mu lanjut tuan Alexander dalam hati.
"Iya Dad, o iya nanti saya akan mengunjungi Daddy, saya senang Daddy mau menerima saya."
Tuan Alexander menggaruk pipi yang tak gatal. Dia sangat menyukai permainannya, bagaimana kalau suatu saat nanti Gladies tahu Jhonatan memiliki anak yang sudah dewasa? sungguh, ia ingin melihatnya.
"Dad, maafkan aku di masa lalu."
__ADS_1
"Tidak masalah, hanya masa lalu," ucap tuan Alexander. Dia memang tidak akur dengan Jhonatan, tapi Gladies selalu menempali semua perkataannya pada Jhonatan.
Seharusnya Daddy melupakan saja wanita masa lalu Daddy, buat apa Dad? masa lalu tidak akan membuat kita tenang? apa lagi hanya wanita yang tidak jelas asal usulnya.
Ia tahu, perkataan anaknya dari Gladies, wanita itu berhasil membuat Jhonatan gelap mata, bahkan melawannya. Mungkin karena perusahaannya tidak ia berikan.
"Iya, masa lalu harus di lupakan bukan."
"Benar Dad, masa lalu tidak harus di ingat, agar hidup kita nyaman."
Tuan Alexander meremas ponselnya, ia ingin lihat seberapa besar Jhonatan melupakan masa lalunya. Ia ingi tau, apa benar pria itu bisa melupakannya?
"Baik, akan Gladies sampaikan Dad. Daddy jaga kesehatannya."
"Iya, aku tutup dulu." Pamit tuan Alexander. "Orang yang sangat pintar berbicara, harus di buktikan."
Tuan Alexander menaruh ponselnya dengan kasar ke atas meja di sampingnya. Ia tidak sabar ingin bertemu dengan Jhonatan, putranya yang terbaik itu.
Sedangkan Bella, dalam kesunyian malam, angin berhembus melewati jendela kaca yang terbuka itu, gorden melambai-lambai mengikuti alunan sang angin.
__ADS_1
Dia menghadap sang ilahi, mengangkat kedua tangannya, dalam hati lubuknya yang paling dalam dengan air mata yang deras, dia meminta ampunan untuknya, kedua orang tuanya, mertua sekaligus suaminya, Jhonatan, dan keluarganya, ia berharap mantan suaminya akan bahagia, begitu pun dirinya, harapannya pada sang Tuhan di berikan keselamatan untuknya dan anaknya. Dia berharap, anaknya kelak taat pada Tuhan, bukan taat padanya, jika ia salah sebagai orang tua, maka anaknya akan mengingatkannya.
Setelah selesai berdoa, Bella tersenyum, hatinya tenang dan damai. Seakan hidupnya tidak ada kejadian apa pun. Dia mengelus perutnya yang masih rata, ia tidak sabar melihat anaknya. Dokter pribadinya sudah menjelaskan, anaknya belum di ketahui jenisnya karena masih sebiji jagung. Ia berharap empat bulan yang akan datang, ia bisa melihat anaknya.
"Aku lapar," ucap Bella sambil mengelus perutnya. Semenjak hamil, pola makannya pun bertambah, tak tanggung-tanggung, ia bisa makan empat kali bahkan lima kali. Bahkan ia merasa pipinya bagaikan bakpao.
Bella membereskan peralatan sholatnya, kemudian menuju ke dapur. Dua orang pelayan yang berjaga, setiap malam akan ada dua orang pelayan yang berjaga, tuan Alexander memerintahkan pada dua pelayan untuk bergantian, takut Bella bangun dan merasa lapar. Dia sangat menjaga dan memanjakan cucunya itu.
"Apa nyonya lapar?" tanya seorang ketua pelayan. Tepat jam 12 malam, dia akan menghidupkan Alarmnya, sebagai jaga-jaga. Tiap malam dia akan berkeliling dan melihat sang nyonya.
"Aku ingin makan daging," ucap Bella.
"Baik nyonya, untuk minumannya, apa nyonya ingin meminum sesuatu."
"Tidak, air putih saja," ucap Bella.
Dia pun duduk sambil menunggu makanannya datang. Kadang ia melihat dua pelayan dan ketua pelayan yang sedang sibuk.
"Sayang, kau bahagia kan, walaupun cuman sama bunda. Em, tidak, ada kakek yang sangat memanjakan mu," ucap Bella tertawa kecil. Dia sering kali berbicara sambil mengelus perutnya.
__ADS_1