
Satu Bulan Kemudian.
Perlahan tubuh Dominic melemah, tiap hari dia harus meminum obat, suka tidak suka, lelah dan tidaknya, sudah pasti jawabannya ia tidak suka dan lelah, sejauh ini ia sudah bertahan melihat pertumbuhan putranya. Sekarang baby Gio tahu artinya senyuman dan saat itu dia merasakan senang melihat orang-orang di sampingnya.
Sesuai dengan janji Tuan Alexander dan Jhonatan dia melakukan pengobatan untuk Dominic, namun sayang seakan usaha mereka sia-sia. Kadang Jhonatan menangis dj depan Dominic melihat pria itu kini berada di atas kursi roda, namun Dominic membalasnya dengan senyuman. Seperti saat ini, Dominic tengah berada di kamarnya mengawasi Baby Gio, sedangkan Bella memilih memasak untuk keluarganya.
Gladies pun telah kembali, dia tidak mungkin berlama-lama di kediaman Dominic sedangkan Austin harus bersekolah. Lain halnya dengan tuan Alexander. Karena urusan perusahaan mendesak, dia harus kembali ke Jakarta.
"Kau tampan sekali, semua orang mengatakan kau mirip dengan ku. Aku suka, setidaknya masih ada aku di samping Bella. Kelak, saat dewasa kau harus melindungi ibu mu, Nak. Ingat, jangan seperti ayah mu yang bodoh, tahunya hanya mencari uang tapi tidak namanya cinta dan berakhir menyakiti."
Baby Gio tersenyum, seakan dia tahu kalau Dominic tengah menjelekkan pria yang akhir-akhir ini sering bersamanya. Sedangkan sang Ibu harus menemani ayahnya.
"Maafkan Daddy, Daddy merampas ibu mu. Dia meluangkan banyak waktu untuk Daddy."
"Sayang, buburnya sudah siap," ucap Bella muncul di ambang pintu. Dia menaruhnya di atas nakas dan berjongkok menatap wajah suaminya.
"Kenapa? lelah? biarkan Jhonatan yang menjaganya, entah kemana pria itu pagi-pagi sekali," kesal Bella. Meskipun kadang ia merasa risih, tapi mau bagaimana lagi? Dominic meminta Jhonatan untuk membantu mengawasi putranya, alasannya hany satu agar Jhonatan dapat merasakan sebagai seorang ayah dan baby Gio butuh sosok seorang ayah, walaupun ia kurang setuju dengan permintaan Dominic.
"Aku tidak lelah, aku hanya duduk di sini dan mengawasinya."
Bella mencium pipi suaminya, kini tubuhnya mulai kurus. Dia dapat merasakan kalau penyakitnya bertambah parah. "Aku mencintai mu, sangat menyayangi mu."
Dominic tersenyum, setiap harinya ia mendapatkan pernyataan seperti ini dari istrinya dan membuatnya merasa bersalah. "Aku juga mencintai mu istri ku,"
"Ya sudah, ayo makan," ucap Bella. Dia pun menyuapi Dominic dengan penuh kasih sayang.
Setelah usai memakan sarapannya, Bella memberikan Dominic obat. Pria itu pun meminumnya, namun darah segar itu kembali mengalir.
Bella menghapus darah segar itu dengan sebuah tisu di atas nakas, sebagai seorang istri dia tidak tega melihat suaminya yang menahan kesakitan. Ingin sekali dia berteriak melepaskan kesakitan di hatinya.
"Sudah tidak apa-apa, aku ingin mengajak baby Gio keluar."
Bella memanggil bibi Mira untuk menggendong baby Gio, sedangkan ia akan mendorong kursi roda suaminya.
Dominic merasakan harumnya bunga mawar yang di tanam oleh istrinya, rumahnya seakan di kelilingi oleh bunga mawar, istrinya selalu berkata, bahwa bunga mawar ini dia tanam untuk dirinya sebagai tanda rasa cintanya.
Dominic menarik nafasnya dengan dalam, langit tampak sangat cerah. "Apa hari ini akan turun hujan?"
__ADS_1
"Entahlah sayang, ayo aku bantu duduk."
Bella memapah tubuh Dominic duduk di kursi putih itu dengan hati-hati.
"Bi, berikan Gio pada ku,"
Bibi Mira pun memberikannya, dia memangku putranya yang tersenyum padanya. Takut jatuh, ia menyelipkan sebelah tangan Bella di bawah lengannya. Sedangkan sebelah tangannya memeluk pinggangnya.
Dominic tak kuasa, dia mengeluarkan air matanya dan membaringkan kepalanya di bahu Bella, sambil menatap Baby Gio.
"Bella, aku sangat mencintai mu. Aku tidak menyangka bisa merebut mu dari Jhonatan, pria brengsek itu. Aku berhasil merebut mu dan menjadikan mu sebagai istri ku. Sekarang ada baby Gio, aku merasa sangat beruntung."
"Bella, apa kau masih mencintai Jhonatan, sedikit saja. Apakah masih ada rasa untuknya?"
Bella menahan tangisnya agar tidak pecah. Dia tidak tahu, yang saat ini ia lakukan adalah membahagiakan suaminya, ia tidak peduli dengan perasaannya, ia hanya memikirkan perasaannya kalau ia telah mencintai Dominic.
"Hanya kau, aku tidak pernah memikirkan Jhonatan."
Dominic tersenyum, masih ada walaupun hanya sedikit.
"Aku titip Gio, tidak kau akan menjaganya."
Air matanya mengalir deras, ia tidak kuat lagi menahan air matanya itu. "Kita akan membesarkannya."
"Aku menginginkan seperti itu, tapi aku senang. Dia tumbuh sebagai bocah yang menggemaskan. Tiap hari kadang aku lelah mendengarkan Jhonatan yang membanggakan dirinya, seakan dia berhasil membuat tubuh putra ku sehat. Dia seperti pria gila, aku bosan mendengarkannya."
Bella sedikit menoleh, dia mencium pucuk kepala Dominic.
"Bella, kalau seandainya aku pergi, bukan berarti aku tidak mencintai mu. Bukan berarti aku tidak ingin melihat baby Gio tumbuh."
"Kau bicara apa? sudah jangan mengatakannya, kau akan sembuh."
"Jhonatan pria yang baik, dia sudah menyesalinya. Aku senang dia sakit hati, tapi jauh lebih sakit hati saat ini. Aku hanya merepotkan mu saja."
"Sayang, siapa yang merepotkan? justru aku senang."
Dominic tersenyum, nafasnya terasa berat. Kepalanya terasa sakit, ia meringis dalam hatinya. "Aku mencintai mu, sangat mencintai mu Bella. Aku bahagia bisa memiliki mu."
__ADS_1
Perlahan Dominic memejamkan kedua matanya, dia seakan ingin tidur damai dan merasa lelah dengan sakitnya yang tiap hari ia rasakan.
"Aku juga mencintai mu, sangat, sangat mencintai mu."
Bella merasakan tubuh baby Gio yang berat, seakan dialah yang hanya memegang tubuhnya.
"Sayang, kau tidak tidur kan? kau lelah."
"Kau pasti lelah, tidurlah?" Bella menepis rasa takutnya. Suaminya pasti lelah, karena akhir-akhir ini suaminya selalu ingin tidur.
"Sayang, bangunlah. Kau jangan bercanda."
Bibi Mira yang mengawasi kejauhan pun merasa khawatir, dia pun berlari dan melihat sang tuan yang telah memejamkan kedua matanya. "Biar saya yang menggendong tuan muda Nyonya," ucapnya. Dia segera mengambil bocah gembul itu yang merengek.
Ia merasakan tangannya dingin, ia pun mengulurkannya meraba pipi suaminya. Nafasnya naik turun menahan gejolak ketakutan di hatinya.
Kepala Dominic pun jatuh ke pangkuan Bella, dengan sigap sebelah tangannya menahannya. "Sayang,"
Bibi Mira, wanita itu telah menangis. baby Gio pun ikut menangis seakan dia tahu, kesedihan ibunya dan kepergian ayahnya.
"Aku sudah mengatakannya, kau akan mendengarkan ucapan cinta setiap harinya. Aku sudah mengatakan, jangan lelah aku dan baby Gio butuh sosok dirimu."
Dia menangis dalam sakit, mencium kening Dominic dan memeluk tubuhnya dengan erat. Ia belum rela, ia belum membahagiakan suaminya.
"Argh!!!!"
Bella berteriak kesakitan, dia mengeluarkan sesaknya apa yang ia rasakan.
"Jangan meninggalkan ku, jangan pergi."
"Argh!!!!"
Ia berteriak dalam kesakitan, air matanya mengalir deras. Dia terus memeluk tubuh suaminya nya.
"Nyonya,"
Bibi Mira tidak bisa melanjutkan perkataannya, ia merasakan sakit saat melihat air mata sang nyonya yang mengalir deras dan berteriak kesakitan.
__ADS_1
"Aku bilang jangan meninggalkan aku, jangan pergi Honey, aku mencintai mu."