Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#66 : Kepuasan Tidak Akan Mengurangi Rasa Sakit


__ADS_3

"Dad,"


"Hallo Dad, Dad .. "


Jhonatan meremas ponselnya, melakukan yang terbaik, tapi ini bukan yang terbaik untuknya. Dia kehilangan anaknya, ia telah hancur. "Aku tidak akan menyerah, aku akan menemukannya.


Keesokan harinya.


Jhonatan keluar dengan wajah tampak lelah, lesu dan tak bersemangat. Dia menuju ke kamarnya dan di sana ia tidak melihat siapa pun. Ia menoleh, terdengar suara gemercik air dari kamar mandi, ia pikir Gladies sedang mandi.


Jhonatan mengambil kopernya, lalu mengambil beberapa pakaian dan melipatnya, kemudian memasukkannya ke dalam kopernya.


"Honey,"


Jhonatan menoleh, dia melihat sang istri menggunakan jubah mandinya dan rambut yang di gulung dengan handuk kecil. Dia pun tersenyum dan kembali melanjutkan melipat pakaiannya.


"Honey, kau kenapa?" Gladies melihat dengan teliti wajah sang suami, kedua matanya sembab dan seakan habis menangis. "Kau menangis?" ulangnya.


"Kenapa? apa ada sesuatu? apa aku berbuat salah?"


"Tidak," Jhonatan langsung memeluk istrinya. Dia memejamkan kedua matanya, di iringi air bening yang terus mengalir. Aku hanya merindukan Daddy,"


"Semalam kau kemana? aku mencari mu, sampai berkeliling di rumah ini?"


"Aku tidur di sofa, ruang kerja ku."


"Aku kesana Jho, tapi aku tidak melihat mu?" Ia bahkan melihat Sofa dan keadaan sekitar, tapi tidak melihat bayangan Jhonatan sama sekali.

__ADS_1


"Aku keluar cari angin, lalu aku masuk lagi ke ruang kerja."


Jhonatan melepaskan pelukannya dan Gladies menghapus air matanya, dia pun berjinjit dan mencium bibir Jhonatan, dia mengalungkan kedua tangannya ke leher Jhonatan. Mamangut bibir dan mengecapnya, Jhonatan pun membalas ciuman sang istri.


Gladies semakin terbakarnya hangatnya api. Dia mengelus dada sang suami. Jhonatan pun mendorong tubuh Gladies, keduanya pun terbuai, entah semenjak kapan? tubuh Gladies dan Jhonatan telah polos tanpa sehelai benang apa pun. Jhonatan melakukannya dengan lembut dan suara erangan itu sedemikian rupa, Gladies benar-benar terbuai, hingga akhirnya keduanya lelah dengan aktivitas pagi itu.


Dia menoleh dan melihat sang istri yang tertidur pulas, Jhonatan menerawang jauh. Dia pun beralih melihat ke langit-langit, mendesah pelan. Kepuasannya tadi tidak bisa menenangkan hatinya. Padahal ia berharap, sakit hatinya tadi berkurang sedikit saja.


"Ternyata kepuasan tidak akan mengurangi sakit hati,"


Jhonatan pun bangkit, dia mandi dan akan bersiap-siap. "Honey, bangun kita harus bersiap-siap melakukan penerbangan," ucap Jhonatan.


Sedangkan di tempat lain.


Kedua pria tengah bertarung sengit, saling menyerang dan mempertahankan. Dominic berkali-kali memblokir serangan tuan Alexander. Pria itu menyerangnya membabi buta. Seakan dia adalah musuh bebuyutannya.


Kedua samurai itu saling beradu, kini giliran Dominic yang menyerang, dia melayangkan serangannya ke kanan, dengan sigap tuan Alexander membungkuk dan menendang perutnya.


"Hanya segini kekuatan mu, bagaimana kau bisa melindungi putri ku, huh?"


Dominic mengeraskan rahangnya, ia tidak boleh kalah melawan bapak tua ini di depannya. "Kau!"


Dominic bangkit, dia kembali menyerang tuan Alexander. Tuan Alexander sangat lihai dalam menepis dan menghindar.


Sial! bapak tua ini tidak bisa di remehkan.


"Kenapa menyerah?"

__ADS_1


"Kata siapa aku menyerah?"


Kedua samurai itu beradu, Dominic menatap tajam tuan Alexander. Sebuah ide jahil muncul dari otaknya.


"Bella!" teriak Dominic memandang ke arah belakang. Pandangan tuan Alexander pun teralihkan, dia menoleh ke belakang dan tanpa ia sadari, Dominic memental samurainya, hingga samurai di pegangan tuan Alexander terlepas, dengan sigap Dominic menendang perutnya.


"Kau!" pekik tuan Alexander dengan tajam.


"Wek," Dominic menjulurkan lidahnya dan tertawa terbahak-bahak. Dia berhasil membodohi tuan Alexander. Hingga pria itu berhasil di kalahkan.


"Kau curang!"


"Aku tidak curang, tapi itu siasat," ucap Dominic dengan santai.


"Kau curang, kau meneriaki nama Bella untuk mengelabui ku, kan?"


"Ini namanya siasat tuan Alexander, sudahlah, yang penting kau sudah kalah, kapan mempertemukan aku dengan Bella?" tanya Dominic. Dia menelonjorkan kedua kakinya, duduk di lantai sambil mengelap keringatnya.


"Tidak ada nama Bella di antara kita,"


"Hanya ada konidin begitu? kau mau iklan, tidak cocok sama sekali. Kalau kau berjualan, aku pastikan tidak akan ada yang beli."


"Kalah ya kalah, tidak perlu mengelak."


Tuan Alexander menendang bokong Dominic, "Pada calon mertua mu, kau tidak ada sopan-sopannya, aku memblokir nama mu," ucap tuan Alexander meninggalkan Dominic.


"Wah, kau sudah mengakui ku sebagai menantu?" teriak Dominic.

__ADS_1


"Aku memblokir nama mu!" teriak tuan Alexander membuat Dominic mendekik tajam.


__ADS_2