Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#Melahirkan.


__ADS_3

Malam harinya, suasana ruangan temaram itu, terlihat seorang laki-laki yang tengah merenung. Seharian ini ia tidak melihat istrinya, ia menyesali perbuatannya yang tidak berkata jujur dan hari ini ia sangat ketakutan.


"Sayang," sapa Bella. Seharian ini bukannya ia marah, tapi ia ingin menguatkan hatinya.


"Honey,"


Dominic tersenyum, ia pun langsung menyambut kedatangan Bella dengan memeluknya. Kepalanya ia sandarkan ke dada Bella. "Kemana saja? kau marah pada ku?"


"Tidak, aku tidak pernah marah." Bella berusaha menahan air matanya, menghirup udara yang terasa panas itu. "Tadi dedenya rewel, aku juga harus bertemu dengan Vello dan Velli, si Kembar ingin kesini, tapi aku membujuknya."


Cup


Bella mencium pucuk kepala suaminya dengan sangat dalam. Dia akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan suaminya ini. "Sayang, kau sudah minum obat?"


"Belum, aku minta maaf."


Bella merangkup wajah Dominic, dia menyatukan keningnya. Hingga nafas keduanya bertabrakan. "Lupakan, sekarang fokus pada pengobatan mu. Jangan menyerah, kita akan melawan bersama-sama."


Dominic langsung menangis, dia kembali memeluk Bella dengan erat. Dia tidak salah memilih istri, Bella setia padanya dan tidak meninggalkannya di saat seperti ini.


"Aku membuatkan bubur untuk mu, selagi masih hangat aku akan menyuapi mu."


Bella menghidupkan lampu utama, dia mendapatkan kabar dari Marvin kalau suaminya sangat sedih dan membuatnya semakin khawatir. Marvin juga mengatakan kalau suaminya belum makan malam.


Dominic menerima suapan dari istrinya ini, sesekali dia tersenyum dan mengelus perut Bella.


Hati mana yang tidak sakit ketika melihat suaminya harus berjuang, ketika melihat suaminya tertawa di saat nyawanya terancam. "Ya, putra kita pasti mirip dengan mu."


"Iyalah sayang, aku kan tampan," ucap Dominic dengan pedenya.


Bella meletakkan mangkok yang telah tandas isinya itu, kini dia memberikan segelas air untuk Dominic. "Setelah ini kau istirahat,"


"Disini, tidurlah bersama ku." Dominic menepuk pinggirnya. Dia ingin sekali tidur bersama istrinya, tubuhnya istrinya bagaikan candu untuknya.


Bella menggeleng, "Aku harus menghubungi pengasuh Vello dan Velli,"


"Kenapa kita tidak menghubunginya saja sayang,"

__ADS_1


"Honey, kau harus menjaga kesehatan mu," ucap Bella dengan lirih dan tatapannya memohon. Hingga Dominic tak mampu menolaknya.


Bella pun duduk di samping suaminya, tangan kirinya di genggam erat oleh Dominic dan sebelah tangannya mengelus lengan Dominic, cukup lama dia memandangi wajah pucat suaminya, hingga terdengar dengkuran halus.


Air mata yang sejak tadi ia tahan, kini bercucuran dengan deras. Pikirannya memutar kembali kebersamaannya dengan Dominic, mulai dari si Kembar masih dalam kandungannya.


"Bagaimana aku bisa melepaskan mu begitu saja? sedangkan tawa mu sudah memenuhi hati ku. Kau yang berdiri dan menyambut si Kembar dalam pelukan mu. Kau yang memeluk ku, saat aku merasa kedinginan dan kesepian."


"Katakan, bagaimana aku bisa menjalaninya?" Bella meraba perutnya. Hatinya pedih saat mengingat putranya yang belum lahir, ia sangat takut kehilangan Dominic. "Kau jantung ku, Dominic."


Bella mencium kening Dominic, lalu mengusap pipinya. Mungkin karena efek obat, pria itu tidak merasa terganggu dengan perbuatannya. "Kau harus kuat, aku dan putra kita membutuhkan mu. Bagaimana kalau suatu saat dia mencari mu? apa yang harus aku katakan? kau tidak sejahat itu pada ku dan putra kita?"


Bella mengecup bibir Dominic, air matanya tidak pernah lepas sebagai saksi betapa ia sangat merindukan suaminya.


****


Keesokan harinya, Dominic di kejutkan dengan Bella yang tiba-tiba merintih dan memegangi perutnya. Air matanya bercucuran di sertai keringat, melihat Bella yang menggenggam tangannya sambil menarik nafasnya dan mendorong putranya yang ingin melihat dunia. Dia memaksa untuk menemani Bella melahirkan putranya setelah Dokter mengatakan kalau dia tidak bisa menemani Bella mengingat kondisinya, namun keadaan lemah itu bukan berarti mengurungkan niatnya. Dia menarik jarum infusnya dan melawan sang Dokter, sehingga Marvin pun turun tangan untuk menenangkan sang bos.


"Ayo Nyonya, sedikit lagi. Kepalanya telah terlihat," ucap seorang Dokter menguatkan.


"Sayang," Dominic mengusap air matanya dengan lengannya. "Sekali lagi, kita akan melihat putra kita."


"Huhf, Huft,"


Dada Bella naik turun, dia mengejam sekali lagi dan terdengarlah suara tangisan seorang bayi menggema di ruangan itu.


Bella memejamkan matanya, rasa lelah dan bahagia bercampur aduk. Dia pun membuka kedua matanya saat merasakan seseorang mencium setiap inci wajahnya. Dia melihat pertama kalinya, suaminya mencium bibir pucatnya.


"Terima kasih sayang, terima kasih. Aku sangat mencintai mu, kau memberikan kebahagian yang tiada tara bagi ku."


Dominic semakin menangis, sebelah tangan Bella terulur menghapus air mata yang mengalir, membelah pipinya. "Aku sangat mencintai mu, jadi jangan pernah meninggalkan kita."


Deg


Dominic mengangguk, ia tidak bisa berjanji. Ia tidak tahu umurnya sampai kapan? yang saat ini ia lakukan adalah membahagiakan Bella dan putranya.


"Coba lihat,"

__ADS_1


"Selamat tuan, bayinya sangat sehat," ucap Dokter berambut pendek itu. Dia menaruh baby kecil itu ke atas perut Bella. Dia mencari sumber kehidupannya.


Sebelah tangan Dominic terulur dengan gemetar, dia mengusap kepalanya. "Dia lucu sekali, sama seperti saat si Kembar lahir."


"Hey sayang, ini Daddy."


Tuhan, aku berharap waktu sejenak berhenti. Aku ingin melihat putra ku


"Kita akan melihatnya tumbuh dewasa dan kau yang akan mengajarnya berjalan."


Dominic mencium kening Bella, rasa haru dan bahagia tak bisa di pungkiri. Dia merasa menjadi suami yang paling beruntung.


***


"Daddy, Daddy, aku ingin melihat Adik kecil," ucap Velli sambil melompat. Dia ingin melihat adiknya yang sangat menggemaskan itu. Dia selalu saja memesan adiknya pada Mommy dan Daddy agar di buatkan adik yang imut.


Dominic sedikit berjongkok, dia memperlihatkan bayi kecilnya pada Velli dan Vello.


"Uwah, dia tampan." Velli mencium bayi yang memejamkan mata itu.


"Siapa lagi kakaknya," ucap Vello membanggakan dirinya.


"Tampan, ck, sepertinya wajahnya mu nyasar."


"Kau,," dengus Vello dengan kesal.


Marvin menghampiri Dominic setelah menghubungi tuan Alexander dan Jhonatan atas perintah Dominic.


"Selamat tuan, anda sudah menjadi seorang ayah."


"Tuan Jhonatan dan tuan Alexander akan melakukan penerbangan hari ini," ucap Marvin. Dia sangat senang tuannya begitu bahagia, tapi ia sedih entah sampai kebahagian itu akan bertahan.


"Jangan melihat ku, kau seperti kasihan pada ku. Tenang saja, aku akan merawat mereka."


Marvin tersenyum tipis dan mengangguk. Sejauh ini tuannya sudah bertahan, ia yakin dia akan bertahan lebih lama lagi.


***

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain, Jhonatan pun heboh. Saking bahagianya, dia mengatakannya pada Gladies sampai tertawa. Bagaikan anak kecil yang telah menemukan mainannya.


__ADS_2