
Acara pesta di sebuah hotel pun berlangsung, Jhonatan menggunakan tuxedo hitam, setelan jas berwarna hitam dan celana hitam, sedangkan Gladies dia menggunakan gaun berwarna Navy, dengan belahan dada terlihat dan bagian sebelah paha yang terlihat.
Dia berjalan bergandengan tangan dengan Jhonatan, berjalan dia atas karpet merah. Banyak rekan bisnis yang menyapa Jhonatan dan para istri pengusaha yang menyapa Gladies.
Keduanya pun berpisah dan berbincang-bincang.
"Tuan, itu tuan Jhonatan," ucap seorang rekan bisnis tuan Alexander. Kedua mata tuan Alexander pun melihat Jhonatan dan tanpa sadar keduanya saling bersitatap. Tuan Alexander langsung membuang wajahnya, semenjak kejadian itu, dia jarang berada di rumah.
Apa lagi sangat sulit menghubungi Bella, jadi ia memilih meenghindar.
"Tuan Alexander," sapa Dominic tersenyum senang. Para pengusaha pun berbisik-bisik, mereka pun tahu kalau Dominic dan Jhonatan saling bermusuhan, tapi tidak dengan ayah Jhonatan yang tidak memandang permusuhannya dengan Dominic.
Tuan Alexander menaikkan sebelah alisnya, ia menegak anggur merah itu dan melihat ke arah lain.
"Di cuekin," gumam Dominic.
"Ayah mertua," bisik Dominic tepat di telinga tuan Alexander.
"Tuan," sapa kedua orang yang di depan Tuan Alexander.
__ADS_1
Dominic mengangguk dan tersenyum, dia mengambil segelas wine yang di tawarkan oleh pelayan yang menghampirinya.
"Kau!" pekik tuan Alexander melotot tajam.
"Silahkan tuan Alexander berbincang-bincang dulu dengan tuan Dominic," ucap seorang pria setengah baya dan di angguki temannya, keduanya pun berjalan menjauh dari Dominic dan tuan Alexander.
"Hanya ingin mengucapkan terima kasih," ucap Dominic tersenyum. Hatinya berbunga-bunga mendapati lampu hijau dari tuan Alexander.
"Begitu?"
"Terima kasih buat apa?"
"Em karena ... "
Pria itu melebarkan kedua matanya, lagi-lagi ia tertampar dan menohok.
"Aku kan sudah bilang, nama mu sudah ku blokir."
Dominic mengelus dadanya, menghadapi kakek tua di depannya, harus ekstra sabar. "Tidak seperti ini kan?"
__ADS_1
Gelak tawa keluar begitu saja dari mulut tuan Alexander. Para pengusaha itu langsung menoleh, mereka seakan melihat matahari terbit dari arah barat dan kemudian kembali berbisik, mereka tidak pernah mendengarkan gelak tawa itu, baginya, tuan Alexander di kenal dingin, muka datar dan kejam itu tak tersentuh oleh siapa pun.
"Coba lihat, dia tuan Alexander tertawa karena tuan Dominic, baru pertama kali aku melihatnya." ucap seorang Pengusaha.
"Benar, padahal dengan anak sendiri tidak akrap."
Jhonatan mengepalkan kedua tangannya, telinganya panas dan hatinya panas. Seharusnya ia yang membuat ayahnya tertawa bukan orang lain.
Dia menoleh, melihat sang Daddy dan Dominic. Lagi-lagi ia melihat Dominic dan sang Daddy tertawa lepas. Tidak tahan melihat adegan itu, Jhonatan memilih mendekati ke arah meja yang terdapat beberapa gelas Wine yang telah tersaji, dia meneguk Wine itu dalam sekali tandas.
"Jho," Gladies memegang lengan Jhonatan agar berhenti minum.
"Kau lihat, mereka tertawa lepas, sedangkan aku."
"Jho, anak dan orang lain tidak akan sama, aku yakin Daddy mencintai mu."
"Huh," dengusnya. Kali ini ia tidak sependapat dengan perkataan sang istri. "Mereka sangat bahagia,"
Gladies melihat Dominic tertawa, di ikuti tuan Alexander. Entah apa yang mereka bicarakan hingga tertawa, padahal ada yang sakit hati di atas kebahagiaan mereka.
__ADS_1
"Bahkan dia tidak mengakui ku, aku anaknya atau bukan." Kedua air mata Jhonatan berkaca-kaca. Perasaannya sangat buruk, ia tidak tahan melihatnya lebih lama.
"Ayo kita pulang," ajak Gladies.