
Tuan Alexander mendengus kesal pada laki-laki di depannya, rasanya baru kemarin ia melihat tampang wajahnya yang menjengkelkan.
"Daddy mertua, rasanya kurang cocok." Celotehnya.
Tuan Jhonatan menautkan jari-jarinya sebagai penyanggah dagunya. Dia melihat pria di depannya secara saksama, seperti seorang CEO yang mendominasi, padahal tidak menurutnya.
"Ada apa?"
Dominic cengengesan, bagaikan anak kecil yang tampak malu-malu. Dia membawa sendiri sekuntum bunga mawar merah. Karena Bella menyukai hal yang sederhana, jadi ia menggunakan cara sederhana.
"Ayah mertua, aku panggil ayah saja, lebih akrap."
Dominic berderhem, sedikit menegakkan tubuhnya. "Ayah mertua, secara khusus aku membawakan bunga mawar merah dan membawakannya tiga," ucap Dominic. Dia menyuruh sang asisten membawa dua tangkai bunga mawar merah dan satunya ia pegang sendiri sebagai tanda persembahan.
"Apa kau bercanda? kapan hidup mu tidak akan bercanda? kau pikir apa putri ku? aku bisa membelikannya ladang bunga mawar, bahkan bisa membuatkannya dan juga aku bisa membeli semua toko."
Apa maunya ayah mertua ini? bawa barang mewah salah? bawa barang sederhana juga salah, iya sekalian saja kau beli semua toko bunga, gerutu Dominic dalam hati.
"Bukannya tuan bilang sendiri kalau Bella suka sederhana, jadi sebagai awal pertemanan. Aku ingin memberikan bunga mawar ini." Tutur Dominic, dia menjelaskan secara rinci keinginannya.
"Sudah, aku tidak mau kau melakukan apa pun. Kau kan sudah berteman, jadi ya sudah, pergi saja, tidak perlu berteman lagi," ucap tuan Alexander gamblang. Dengan mudahnya dia menghancurkan kesabaran Dominic.
"Maksud ku, aku ingin bertemu dengan Bella."
"Bella tidak ingin menemui mu," sarkas tuan Alexander. "Dia hanya butuh aku,"
__ADS_1
Bukan Bella yang tidak mau menemui ku, tapi kau kakek tua, sabar ...
"Seorang teman pasti merindukan temannya, jadi aku sebagai seorang temannya ingin menemui temannya," tawar Dominic. Entah ia pakai cara apa lagi meluluhkan hati calon ayah mertuanya itu.
"Teman bisa menghilang kan?"
Dominic ingin menghajar pria di depannya, dengan mudahnya mengatakan, 'menghilang', kesabarannya kini berada di ujung tanduk.
"Tidak bisa, aku tidak mau kehilangan teman seperti Bella,"
"Baiklah, bagaimana kalau kita bertarung menggunakan samurai, sudah lama aku tidak mengeluarkan keringat ku," ucap tuan Alexander, keringat yang ia maksud adalah nyawa lawannya. Ia masih mengakliem Dominic sebagai lawannya.
"Baiklah, dengan senang hati, kapan?"
"Besok, silahkan pergi."
"Kau tidak mau pergi? apa perlu aku menyuruh dua pengawal ku menyeret mu."
"Sebenarnya, om kapan mempertemukan aku dengan Bella?" tanya Dominic dengan pasti. Dia bagaikan jemuran yang di gantung, lalu di bawa angin tidak tahu tujuannya.
"Setelah Bella melahirkan,"
Dominic menganga dengan lebar, ia syok, ia baru tahu kalau Bella sedang hamil, jadi sekarang ia mengejar bumil atau seorang janda. Oh, hidupnya memang sudah di permainkan oleh bapak mertuanya ini.
Dominic mengubah ekspresi wajahnya, yang tadinya menahan amarah kini berubah menjadi serius. "Apa yang di katakan om benar?"
__ADS_1
"Kau pikir aku bercanda?"
Dominic melirik ke arah lain, otaknya memikirkan Bella, ia kasihan padanya, bagaimana dia bisa melewati hari-harinya dalam keadaan hamil dan suaminya tidak peduli. "Aku mendaftar ingin menjadi seorang ayah untuk anak Bella,"
Tuan Alexander berdecih, menjadi ayah untuk cucunya, tentunya harus memasuki kriterianya. "Kau belum memenuhinya,"
"Om, aku ingin menjaga Bella, dia sedang hamil. Dia butuh sosok yang bisa menemaninya dan tiap saat bisa di butuhkan."
"Kau tau tuan Dominic, aku meragukan siapa pun yang sedang berbicara pada ku. Aku tidak pernah percaya pada mulut manusia, lidah tidak bertulang, lain di mulut, lain di hati. Aku sangat sulit mempercayai seseorang."
"Om, aku mohon." lirih Dominic, dia hanya ingin menjaga Bella melewati harinya. "Aku mencintai Bella, om."
Brak
Tuan Alexander mengebrak mejanya dengan kasar, ia tidak pernah mempercayai siapa pun. "Lancang, kau mengatakan hal yang menjijikkan,"
"Om, aku Dominic, bukan Jhonatan. Aku ingin menjadi ayah untuk anak Bella, aku mohon Om, ijinkan aku."
Dominic pun beranjak, berlalu ke samping tuan Alexander, dia melipat kedua sikunya dan duduk di lantai, sambil menunduk. Seumur hidupnya, ia tidak pernah merendah seperti ini. Ia berusaha melupakan Bella, namun tidak ada hasilnya. Semenjak pertemuan pertamanya, ia merasa terhipnotis dengan segala yang ada pada tubuh Bella.
"Kelak, anak itu akan membutuhkan seorang ayah? bagaimana kalau Jhonatan tau dan ingin mengambilnya? aku bisa om, aku bisa mengakuinya sebagai anak ku di depan Jhonatan."
Tuan Alexander tertawa lepas, mengambilnya, sungguh lucu. "Kau tau kekuasaan ku, kekuatan ku, aku akan gunakan kemampuan ku, kekuatan ku, kekuasaan ku untuk melawannya."
Apa lagi yang harus aku katakan? tidak mudah membuatnya menyerahkan Bella, huh.
__ADS_1
"Dia harus melangkahi mayat ku dulu,"