
Keesokan harinya.
Jhonatan, Gladies dan Tuan Alexander sampai di rumah sakit tempat Bella melahirkan tepat jam 8 pagi. Kedua pria itu pun sangat antusias menemui Bella dan anaknya yang baru lahir.
Tuan Alexander tidak sabar menimang cucu ketiganya dan Jhonatan, pria itu tidak sabar melihat wajah Bella pada wajah putranya.
Saat pintu lift terbuka, tuan Alexander melihat Marvin dan dua Bodyguard yang berjaga di luar pintu.
"Tuan," Marvin dan dua Bodyguard itu menyapa Jhonatan dan yang lainnya serta menunduk.
Tuan Alexander menerebos masuk, dia melihat Dominic yang sedang menggendong putranya dan Bella yang masih terbaring dengan selan infus di tangannya.
"Daddy, Jhonatan, Gladies."
"Daddy!" Velli merentangkan tangannya meminta di gendong pada Jhonatan. Bocah kecil itu sangat merindukan Daddynya yang sudah lama tidak menemuinya, sekitar satu bulan mereka hanya berhubungan lewat Vc.
Jhonatan mencium pipi Velli, lalu dia berjongkok dan mencium pipi Vello.
"Aku tidak mau turun Dad, aku ingin lihat adik."
"Iya sayang, ayo kita lihat."
Jhonatan menatap bayi mungil itu, mengingatkannya pada masa lampau, di mana Dominic akan menggendong anaknya. Betapa bodohnya dia dulu?
"Dia mirip dengan Dominic, aku kira dia mirip dengan mu," ucap Gladies sambil memperhatikan wajah bayi mungil itu dengan wajah Bella.
"Dominic ayahnya, tentu saja harus mirip," ucap Bella terkekeh kecil.
Dominic tertawa, air mata mulai menghalangi penglihatan Bella. Dia melihat ke arah lainnya dan langsung menghapus air matanya.
Tanpa Bella sadari, Jhonatan menangkap prilakunya. Dia merasa telah terjadi sesuatu, dan akan menanyakannya nanti.
Dominic menoleh ke arah Jhonatan dan tersenyum. "Kau ingin menggendongnya?" tawar Dominic.
Jhonatan menatap Bella dan tuan Alexander dan mendapatkan sebuah senggolan di sebelah tangannya.
"Jangan melihat mereka, istri ku pasti setuju dan tuan Alexander tidak akan memakan mu. Cobalah,"
"Tapi aku takut,"
__ADS_1
"Belajarlah menjadi seorang ayah, ayo."
Bella meremas selimut putih itu, hatinya merasa nyeri lagi. Apa lagi Dominic seakan menitipkan anaknya pada Jhonatan.
Dengan hati-hati, Dominic memindahkan bayi yang tengah tertidur pulas itu ke tangan Jhonatan. Hati Jhonatan menjadi tenang, pria itu mengecup kening putra pertama Dominic dan Bella. "Dia lucu sekali,"
"Si Kembar dulu juga mirip seperti dia." Dominic meneguk ludahnya susah payah, dadanya begitu sakit. Tatapannya beralih pada anaknya yang terasa nyaman bersama Jhonatan.
Dengan cepat Bella menghapus air matanya dan tuan Alexander menangkapnya.
"Bella, kau kenapa? apa merasa sakit?" tanya tuan Alexander. Sejak tadi dia diam dan hanya memeluk Bella, lalu beralih melihat cucunya.
Bella menggeleng, Dominic mendekat. Ia takut ada sesuatu yang Bella sembunyikan, apa lagi selesai melahirkan. "Aku panggilkan Dokter."
"Tidak, aku bahagia. Ini air mata bahagia."
Aku tahu sayang, kau memikirkannya, maafkan aku
"Ya sudah, jangan ada air mata. Kita sudah memiliki keluarga yang sempurna." Dominic mencium kening Bella, dan Bella merasakan hangatnya kecupan itu serta air mata yang mengalir.
Bella mengangkat wajahnya, dia menatap wajah Dominic yang masih kelihatan pucat. Pria itu menggeleng, tiba-tiba penglihatannya kabur. Ia melihat wajah Bella ada dua.
Tangan Bella bergetar saat darah segar itu keluar dari hidung suaminya. Bibirnya seakan ingin meneriaki nama suaminya.
"Dominic," tuan Alexander mendekat. Dia memegang kedua bahu Dominic dan melihat hidung pria itu yang mengeluarkan cairan kental berwarna merah. "Dominic, kau kenapa?"
"Aku tidak apa-apa Dad? aku hanya kelelahan."
Tuan Alexander tidak percaya, dia menoleh pada putrinya yang membeku. Tangannya terdapat tetesan darah suaminya.
"Sayang, jangan khawatir. Aku tidak apa-apa."
"Apa yang terjadi? apa yang kalian sembunyikan?" tanya tuan Alexander. Melihat kondisi Bella, ia sangat yakin telah terjadi sesuatu yang tidak ia ketahui.
"Dominic, aku Daddy mertua mu. Katakan!" tegas tuan Jhonatan.
Dominic memejamkan kedua matanya, dia pun menghadap ke arah tuan Alexander. "Aku memilikinya." Tidak ada lagi yang perlu ia tutupi, karena semakin di tutupi semakin ia menahan sesaknya. Putranya membutuh figur seorang ayah, ia ingin meminta Jhonatan menjaganya secara langsung, tapi tidak di depan Bella. Istrinya pasti menolak dan ia tidak ingin membuat Bella terguncang.
Dominic menceritakan semuanya tentang penyakitnya. Jhonatan, dia langsung berdecak pinggang, sedangkan tangan lainnya mengusap bibirnya. Entah bagaimana kehidupan Bella nanti dan putranya.
__ADS_1
Sedangkan Tuan Alexander, wajahnya pun tak kalah takut. Dia menatap putrinya yang tak berkedip sama sekali, seakan jiwanya telah hilang.
"Tidak, dengar," Jhonatan membalikkan tubuh Dominic, dia memegang bahunya dan menatap lekat sahabatnya. Sejuta kesedihan telah menumpuk di kedua matanya. "Aku akan memanggilkan Dokter yang terbaik untuk mu, kau harus melakukan operasi."
Sekalipun masih ada nama Bella di hatinya, tapi ia tidak seegois itu membiarkan Bella kehilangan sosok suami yang meurutnya melebihi dirinya. Sosok pria yang sangat tepat, biarkanlah ia menyimpan cintanya saja. Ia tidak peduli dengan dirinya, saat ini bukan hanya Bella tapi anaknya yang baru lahir.
"Setelah Bella pulih, kita akan berangkat ke luar Negeri. Lakukanlah pengobatan ini,"
Dominic langsung memeluk Jhonatan, dia menepuk punggung Jhonatan, ia tidak bisa mengeluarkan air matanya dan harus tetap tegar. Ia harus membuktikan pada Bella kalau dirinya kuat.
"Jangan khawatir, aku bisa bertahan."
Jhonatan mendorong tubuh Dominic yang merasa egois. "Tolong pikirkan Bella dan putra mu, dia membutuhkan mu Dominic. Apa kau marah pada ku."
Dominic menekan dadanya, ia berusaha menahan nafasnya. Untuk pertama kalinya ia merasa menjadi pria yang egois, memaksa Jhonatan dan memisahkan seorang anak dan ayah.
"Benar Dominic, Jhonatan akan menemani pengobatan, percayakan saja Bella pada ku."
"Aku akan membahasnya setelah istri ku sembuh. Kita sudahi pembicaraan ini."
***
Di ruangan temaram itu, Bella menangis dalam diam. Dia memalingkan wajahnya dan membiarkan air matanya mengalir dari sudut matanya, membasahi bantal putih itu. Ia tidak mengerti takdirnya seperti apa? ia merasa di permainkan. Seolah rasa sakitnya tidak akan ada habis-habisnya.
Krek
Langkah kaki itu semakin mendekat, Penerangan kecil itu memperlihatkan wajah Jhonatan yang tidak terlihat jelas. Dia menyelipkan kedua tangannya di saku celananya, kedua matanya memandang sosok yang terbaring itu, ia tahu kalau saat ini wanita di depannya pura-pura tidur.
"Aku tahu kau belum tidur,"
Bella membuka kedua matanya, tanpa ingin menoleh.
"Maafkan aku, tapi aku berjanji akan membuat Dominic menjalani pengobatan."
Tidak ada sahutan, Jhonatan mengulurkan tangannya mengusap kepala Bella. "Beristirahatlah, pengobatan Dominic biar aku yang mengatasinya. Aku akan berusaha, ini janji ku."
Bella menggigit bibir bawahnya, sebelah tangannya menutupi kedua matanya, dan Jhonatan keluar dengan langkah lunglai, dia perlahan membuka pintu ruangan itu. Lalu duduk di kursi tunggu. Mengusap wajahnya dengan kedua siku yang menahan di atas pahanya.
Dalam hidupnya berjanji membahagiakan Bella, entah bersama dirinya atau orang lain. Ia tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada Bella.
__ADS_1
Dia menyandarkan kepalanya ke dinding, pikirannya tertuju pada air mata yang terus mengalir itu.