Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#9 : Pingsan


__ADS_3

Deru nafasnya tidak beraturan, kedua kelopak itu langsung terbuka lebar. Ia beranjak dari tempat pembaringannya, mengusap wajahnya dengan kasar. Kemeja yang melekat di tubuhnya, awalnya tampak rapi kini kusut dan basah.


"Sial!!! kenapa aku mimpi seperti ini?" Jhonatan menoleh, melihat tidak ada air di atas nakas dan di meja yang berada di dekat jendela, yang ada hanyalah minuman wine yang berserakah di atas meja. Ia bergegas turun, menarik kerah lengannya sampai.ke sikunya. Karena terlarut dalam kesenangan ia lupa membersihkan tubuhnya.


Tangan kekarnya mengambil sebuah teko kaca, lalu menuangkannya ke gelas keramik itu. Kanannya berkacak pinggang.


Ia meminum kembali setengah air di dalam gelas keramik itu hingga tandas. Kemudian menaruhnya di atas meja depannya itu.


Ia menarik kursi di sampingnya, duduk sambil menopang dan mengelus dagu yang du tumbuhi oleh bulu halus.


Kilasan mimpi itu mengerikan jika mengingatnya. Teriakan Bella membuat hatinya was-was.


"Apa yang akan aku katakan kalau Bella tahu semuanya?"


Pertanyaan itu langsung muncul di benaknya. Ia bangkit, bergegas ke kamar mandi. Cukup cepat ia menyelesaikan mandinya. Setelah itu, mengambil kemeja di lemarinya, berganti pakaian, lalu mengambil kunci mobilnya di atas nakas dekat lampu tidur.


"Apa maksud mimpi itu?" Sepanjang jalan ia memikirkan mimpinya. Anehnya, ia terus terbayang wajah Bella.


"Aku tanyakan saja keadaan di rumah pada Jack,"


Ia mengambil benda kecil di dasboard mobilnya, meletakkannya di telinganya. Kemudian memencet sebuah nomor.


"Iya tuan," ucap Jack di seberang sana.


"Apa terjadi sesuatu di rumah?" tanya Jhonatan. Setidaknya Jack tahu keadaan di rumahnya setelah mencarinya.


"Tidak terjadi apa-apa tuan," jawab Jack. Ia heran, tidak biasanya Jhonatan sang bos menanyakan keadaan rumahnya. Baru kali ini ia mendengarkan pertanyaan konyol itu.


Diam, Jhonatan termenung dengan pertanyaan sendiri. Ini bukan dirinya, ia langsung mematikan handphonenya sebelah pihak.


Jhonatan mempercepat laju mobilnya. Dia mengelakson mobilnya agar kedua security itu membukakan pintu gerbang. Ia turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa.


Ketua pelayan berkaca mata itu menyambutnya dan menunduk hormat padanya. Sebelum tuannya pulang, ia tidak boleh tidur sampai melewati jam 12 malam, ini adalah peraturan yang di buat khusus untuknya. Saat ingin hendak tidur, ia mendengarkan suara klakson mobil. Ia pun bergegas ke arah pintu dan menyambut sang tuan.

__ADS_1


Ketua pelayan mengekorinya, ketika Jhonatan menghentikan langkahnya, baru langkah kaki ketua pelayan itu menghentikannya.


"Apa yang dia lakukan?" tanya Jhonatan memastikan. Firasat mimpinya membuat perasaannya tidak enak.


"Nyonya berada di kamarnya setelah berbincang dengan tuan Jack. Tapi, saya rasa tubuh Nyonya tidak sehat. Ana dan Ani yang memapahnya sampai ke kamarnya."


"Hem... " Jhonatan Berderhem. "Panggilkan dia, aku ingin makan malam sudah siap 30 menit lagi."


"Baik tuan," ucap Ketua pelayan.


###


Tok


Tok


Tok


"Nyonya Bella, tuan ingin anda mempersiapkan makan malam." Tutut ketua pelayan.


Sekian menit dia menunggu, ia berbelok, mencari jendela. Sesampainya di dekat jendela, gorden tipis itu memperlihatkan ruangan dalam. Ia melihat sekeliling ruangan itu dan matanya langsung tertuju pada seorang wanita yang tidur di lantai.


"Nyonya!" pekik ketua pelayan.


"Tolong!" teriak ketua pelayan.


Ana dan Ani yang kamarnya bersebelahan pun langsung keluar. Mereka menghampiri ketua pelayan. Teriakan ketua pelayan membangunkan beberapa pelayan yang sedang tidur.


"Bibi Su!" panggil Ani kepada ketua pelayan.


"Cepat tolong Nyonya. Dia pingsan," ucap Bibi Su.


Ana mencari pertolongan, dia mencari pengawal yang masih siap siaga dan kedua pengawal pun mengikuti Ana.

__ADS_1


"Cepat kalian dobrak pintunya!" titah bibi Su.


Brak


Brak


Dobrakan kedua kalinya, mampu membuat pintu itu rusak. Bibi Su, Ana dan Ani masuk ke dalam.


"Nyonya!" Bibi Su menepuk pelan pipi Bella. Ketiga wanita itu membopong tubuh Bella ke kasur.


"Nyonya demam!" pekik Ani.


Ana pun berlari ke dapur. Dia mengambil alat kompres.


"Kamu kompres Nyonya, aku akan mengatakannya pada tuan," ucap bibi Su.


Ana dan Ani sangat khawatir, Ana mencelupkan sapu tangan itu, lalu memerasnya, meletakkanya ke dahi Bella. Sedangkan Ani, ia mengambil minyak kayu putihnya, kemudian mendekatkan ke hidung Bella.


"Bagaimana ini? dahinya semakin panas."


###


"Tuan, nyonya Bella pingsan," ucap bibi Su.


Jhonatan yang mendengarkannya pun sok. Tanpa babibu dia berlari menuju kamar belakang. Para pelayan memberikan celah, mereka mundur ketika melihat sang tuan akan memasuki kamar Bella.


"Bella!" Jhonatan menatap tajam pada Ana dam Ani, sekaligus ketua pelayan dan yang lainnya. "Apa yang kalian lakukan, hah?! kenapa nyonya kalian bisa pingsan?!" bentaknya.


Bibir pucat itu mengingatkannya pada mimpinya. "Bella?!"


Jhonatan menggendong tubuh lemah Bella. Dia sedikit berlari menuju kamar Bella di lantai atas. Lalu, dengan langkah lebarnya memasuki kamar sebelah. Mencari handphonenya dan memencet nomor dokter khusus untuk keluarganya.


"Cepat kesini, dalam 10 menit kau harus sampai!"

__ADS_1


__ADS_2