Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#72 : Merasa Kurang


__ADS_3

Gladies menatap nyalang pantulan wajahnya di cermin, kedua tangannya bergetar mengepal dengan kuat. Selama ini, tidak ada yang pernah mengungkit masa lalunya, termasuk Jhonatan. Pria itu tergila-gila padanya dan tidak memikirkan masa lalu, tentang siapa dirinya.


"Dia mengungkitnya,"


Gladies ingat betul, ketika ia meninggalkan pria itu dengan Jhonatan. Dia tersenyum puas meninggalkan pria itu yang memohon dengan air mata merembas keluar. Pria itu bersimpuh di kakinya, padahal selama ini tidak ada yang tahu masalah ini kecuali ia dan Jhonatan.


"Aku tidak mau berpisah dengan Jhonatan, aku terlalu menyayanginya."


Gladies langsung menutup kedua matanya, ia melipat kedua lututnya dan menangis. "Bagaimana ini? seumur hidup ku, aku sudah melupakannya, aku hanya ingat waktu bersama Jhonatan."


Selama berkuliah, menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Dia memang sudah berhubungan dengan Jhonatan. Ia memang menaruh hati pada Jhonatan, namun ia tidak menampakkannya. Demi Jhonatan, ia mencampakan seseorang dalam hidupnya.


"Aku tidak mau,"


Sedangkan Jhonatan.

__ADS_1


Pria itu selalu memukul dadanya dengan sebelah tangannya. Sesuatu di masa lalu yang ia lupakan, kini hadir menyiksanya. Bagaimana ia melihat seorang laki-laki yang bersimpuh di kakinya dan kaki Gladies. Pria itu memohon agar tidak meninggalkannya.


Ini karma mu di masa lalu


Jhonatan merasakan amat sakit di hatinya, ia meremas rambutnya dan menggeleng pelan. "Kenapa?"


"Kau sudah ingat?" tanya tuan Alexander di ambang pintu kaca itu. Dia melihat putranya berdiri di balkon dan matanya menerawang jauh. Ia belum puas sebelum memarahi anaknya. Karena baginya, masa lalu Jhonatan dan Gladies tidak akan pernah bahagia di atas penderitaan orang lain. "Kalau kau tidak ingat biar aku yang membantu mengingatkan dirimu,"


Tuan Alexander menghampiri Jhonatan, sebenarnya ia tidak tega melihat anaknya serapuh ini. Tidak ada seorang ayah yang menginginkan kesedihan anaknya. "Kau mengingatnya, bahkan aku tidak lupa ketika orang itu memohon di kaki mu dan sekarang kau melupakannya, sungguh bahagia hidup mu bersama Gladies."


"Kau merasa bersalah setelah bertahun-tahun melupakannya."


"Dan kau juga menyakiti Bella, aku memang membawa Bella pergi jauh karena aku tidak mau kau menambah kesalahan mu, tapi aku terlambat."


"Dad," Jhonatan semakin memeluk kedua kaki tuan Alexander.

__ADS_1


"Minta maaflah padanya, meskipun kau tidak bisa mengobati luka di hatinya. Kau seorang laki-laki, jangan jadi pengecut. Oh, atau kau masih belum merasakannya, di hati mu tidak ada rasa penyesalan."


"Aku minta maaf Dad,"


"Maaf mu melukai hati Daddy, Nak. Kau mengecewakan Daddy, sampai Daddy seorang laki-laki malu memiliki putra seperti mu. Daddy tidak pernah mengajarkan mu seberengsek ini Jho, bahkan Daddy, pengorbanan Daddy selama ini sia-sia Jho." Tuan Alexander menarik nafasnya sedalam-dalamnya, rasa sesak itu tertahan di hatinya.


"Minta maaflah, aku ingin kau minta maaf dan juga istri mu, sekalipun kau tidak bisa mengulangi waktu, ingat! hasil rampasan tidak akan pernah bahagia. Seseorang menunggu Gladies, kau harus mengakuinya."


"Baik Dad, baik, akan aku lakukan."


"Tebus kesalahan mu, jangan pernah berubah, sekalipun kau tidak bisa mendapatkannya."


Tuan Alexander membantu Jhonatan berdiri sejajar dengannya, pria itu sangat kacau dan menunduk. Jhonatan tidak berani mengangkat wajahnya, ia malu dan sekarang ia mengerti, kenapa hidupnya yang bahagia selalu merasa ada sesuatu, kadang ia bahagia, kadang ia merasa kurang.


"Dia akan datang besok pagi, kau harus meminta maaf padanya."

__ADS_1


__ADS_2