
Saat Jhonatan hendak berbalik dan melangkah, Bella langsung masuk dan pandangan keduanya bertemu.
"Apa mereka sudah bangun?" tanya Bella. Dia pun melangkah dan melihat Dominic tertidur lelap. Sama dengan kedua buah hatinya. "Selalu seperti ini dan aku harus membangunkan mereka," keluhnya. Seakan dirinya menjadi ibu rumah tangga.
Jhonatan menghela nafas, di lihat dari sikap Bella. Ia merasa Bella telah memberikan celah pada Dominic. "Biar aku saja,"
Bella menoleh, namun tak menjawab. Dia memindahkan boneka lebah di tangan putrinya. "Sayang, bangun," lirihnya dengan pelan sambil mengelus pipi Velli.
Dominic membuka kedua matanya dan mengerutkan keningnya, ternyata ia tidur sampai waktu makan malam. "Maaf Bella, aku ketiduran."
"Okey, sudah menjadi kebiasaan ayah dom-dom yang harus seperti ini dan aku harus membangunkan mu, lalu bla.. bla.. " Bella memutar kedua matanya dengan jengah.
"Emm, Mommy."
Velli mengucek kedua matanya, dia pun beranjak dan langsung memeluk Mommy. Begitupun dengan Vello, dia menguap sambil mengucek kedua matanya.
"Mommy siapkan air hangat dulu atau kalian mau makan lama dulu?" tawar Bella.
"Tentu saja makan dulu, siapa yang mau makan masakan Mommy, tunjuk tangan!" teriak Dominic. Sontak Velli dan Vello mengacungkan tangannya.
"Bagaimana Bella? kau sudah siap menjadi istri ku? aku rasa, aku sudah pas menjadi Daddy mereka," ucap Dominic. Tanpa ia sadari di belakangnya ada monster yang siap menerkamnya dan membuat kulitnya tiba-tiba merinding. "Kok aku merasa dingin ya?"
Ehem
Sontak Dominic terkejut, dia pun langsung menoleh. "Kau rupanya ada di sini,"
__ADS_1
"Sudah-sudah, Vello, Velli bangun sayang. Ayo kita ke ruang makan, kakek pasti menunggu kalian," ucap Bella.
Vello melewati Jhonatan dengan datar dan Velli memandangnya tersenyum sambil menyapa, kemudian berlalu.
"Sampai kapan kau akan mendekati Bella?" sembur Jhonatan.
Dominic berdiri dengan santai dan menatap sengit pria di depannya. "Kau jangan serakah Jhonatan, apa sekarang karena kau menemukan Bella kau mau menceraikan Gladies, bagaimana kalau Gladies berubah? kau tidak kasihan padanya? kau yang menghancurkannya dan biarkan aku menjaga Bella."
"Tapi aku yakin Bella mencintai ku,"
"Terlepas Bella mencintai mu atau tidak, yang jelas dia tidak mau dengan mu. Dia datang kesini untuk mempertemukan anak mu. Bukan menghancurkan rumah tangga mu dan sekarang kau tidak tahu kan bagaimana keadaan Gladies? bagaimana kalau dia tiba-tiba meninggal dan kau sama sekali tidak merasa bersalah?"
Jhonatan mengepalkan tangannya, dia memang tidak mengabari Gladies setelah pertengkaran itu. "Aku akan menceraikan Gladies."
Dominic mengelus dagunya, ia tidak paham pemikiran Jhonatan. Sekalipun Gladies bersalah, tapi masih bisa di beri kesempatan. Bisa saja wanita itu akan berubah.
"Jhonatan, Jhonatan, aku tidak paham dengan pemikiran mu. Sekalipun Gladies berubah menerima anak mu, tapi belum tentu Bella mau dengan mu. Kau ingin bagaimana?"
krek
"Jhonatan, Dominic sampai kapan kalian akan berdiri di sana? semua orang menunggu kalian," ucap Bella. Sebenarnya ia menguping pembicaraan mereka. Ia bingung harus bagaimana? kalau di tanya tentang hatinya, tentu ia masih memiliki cinta, tapi ada seorang wanita yang harus ia korbankan. Ia tidak segois ini menyuruh Jhonatan menceraikan Gladies, perkataan Dominic ada benarnya? bagaimana kalau Gladies berubah?
"Apa aku harus membahagiakan orang yang mencintai ku sekaligus anak-anak ku? ya, berkorban tidak ada salahnya," gumam Bella.
Di meja makan itu, Vello duduk di samping Jhonatan dan Velli duduk di samping Dominic, hanya anak perempuan itu yang menghiasi ruang makan itu.
__ADS_1
"Sayang, makanlah udang ini," ucap Jhonatan. Dia menaruh udang, sup daging dan tumisan.
Bella menatap putranya yang tak bergeming. Bagaimana pun juga Jhonatan ayahnya, tidak salah kalau menaruh perhatian.
"Vello, makanlah," titah Bella dan membuat Vello memakannya. Anak itu penurut, ia tidak bisa membantah kalau sudah keluar dari mulut Bella.
Vello pun memakannya dengan cepat dan segera berlalu meninggalkan semua orang yang belum selesai. Jhonatan menghentikan makannya, dia pun pamit pergi mencari Vello.
"Biarkan mereka berbicara," ucap tuan Alexander. Bella dan Dominic melanjutkan acara makan malam itu, sedangkan Velli, bocah itu tak peduli, dia ingin makan dengan kenyang.
***
Jhonatan tersenyum, akhirnya dia menemukan putranya duduk sendirian di taman sambil menatap hamparan bunga mawar. Beraneka macam bunga mawar di sekeliling halaman kediaman sang Daddy, padahal Daddynya tidak suka mawar dan Mommy pun biasa-biasa saja, tidak suka atau suka. Tapi karena Bella, entah kapan Daddynya itu menyulap rumah ini menjadi rumahnya.
"Sendirian,"
Vello melirik, kemudian menatap hamparan luas rumput hijau itu.
Jhonatan menunduk, kenapa sangat sulit menaklukkan buah hatinya, apa lagi Bella. "Maafkan Daddy,"
"Aku sudah memaafkan Daddy,"
Kedua mata Jhonatan langsung mengalir, tapi senyumannya langsung pudar saat mendengarkan ucapan Vello.
"Tapi aku tidak suka Daddy mengganggu Mommy, aku tidak tahu apa yang orang dewasa lakukan, tapi aku sering mendengarkan kalau Daddy memiliki keluarga baru dan wanita itu adalah istri Daddy kan? sampai kapan pun aku mencintai Mommy dan tidak ingin memiliki Mommy lain."
__ADS_1
"Mommy akan berpisah,"
"Tidak perlu, cukup Daddy bahagia dengan keluarga Daddy dan begitu pun Mommy, dia terlalu sering menangis. Vello hanya ingin melihat Mommy bahagia, kehadiran Daddy membuat Mommy tertekan. Kalau Daddy ingin aku mengakui Daddy, jauhi Mommy aku akan mengakui Daddy."