
Sedangkan Jhonatan, dia merasakan tubuhnya remuk redam, selama beberapa hari ini dia tidak masuk, hatinya pun merindukan baby Gio. Dia jadi teringat senyuman bocah yang menggemaskan itu.
"Semoga kau baik-baik saja, Nak."
Jhonatan menarik genggam laci itu, dia mengeluarkan sebuah foto dirinya dan baby Gio, itu pun dia harus berfoto secara sembunyi-sembunyi, untunglah Bi Mira yang selalu mengerti keadaannya.
Ia tersenyum sambil mengelus wajah baby Gio, hatinya tiba-tiba merindukan Dominic. Sudah lama dia sebagai sahabatnya telah di tinggalkan. "Apa kau bahagia?"
"Putra mu sangat mirip sekali dengan mu, lihatlah, seakan wajah mu sangat mendominasi."
Jhonatan menghapus air matanya, dia menaruh kembali foto itu di dalam laci. Ia pun menggeleng pelan, pusing kepalanya semakin melanda, ia juga harus melihat baby Adam. Semenjak bercerai dengan Gladies, dia lah yang menjadi seorang ayah dan seorang ibu.
Jhonatan pun melangkah, ke luar kamarnya dan membuka pintu kamar baby Adam. Kini anaknya pun sudah aktif sama dengan baby Gio yang tampak sangat lincah.
"Dia sudah tidur," gumam Jhonatan. Baby Adam tertidur pulas dengan baby sitternya yang berada di sampingnya, di ranjang yang sama.
Kadang ia membawa baby Adam ke rumah Daddynya, sekedar untuk makan malam. Dia pun sangat sering meluangkan waktu bersama sang Daddy, pernah Daddy nya mengungkit perasaannya pada Bella dan ia pun menjawab, kalau perasaannya masih sama.
Tidak ingin mengganggu putranya, dia kembali lagi ke kamarnya dan mengambil benda pipih yang di atas nakas. Dia sengaja tidak menghidupi ponselnya karena ingin beristirahat sejenak.
"Bi Mira," gumam Jhonatan saat melihat pesan Whatsappnya.
"Giordan?" Jhonatan langsung panik, dia menghubungi kembali bi Mira dan selang beberapa saat, bi Mira pun mengangkatnya.
"Hallo tuan,"
__ADS_1
"Apa terjadi sesuatu pada Gio?" tanya Jhonatan, tanpa basa-basi ia langsung bertanya ke intinya.
"Dia menangis, sebenarnya kenapa? apa Giordan sakit?"
"Tuan Muda mungkin merindukan tuan, dia terus menyebut 'Dy', aku rasa tuan, dari tadi pagi tuan muda Gio rewel, sampai Nyonya Bella juga kuwalahan." Jelas bi Mira. Dia mengintip Bella yang sedang sibuk menenangkan baby Gio.
Jhonatan memegangi kepalanya yang terasa cenat-cenut. "Aku akan kesana," ucap Jhonatan dan langsung mematikan ponselnya.
Ia beralih menghubungi Jack, Asistennya, sekaligus kaki tangannya.
"Jack, aku akan Inggris besok, kau atur pertemuan ku kembali."
Tit
Seusai menghubungi Jack, Jhonatan kebingungan, entah apa yang harus ia lakukan saat ini? pikirannya pun bermain dan tiba-tiba ia teringat ponselnya.
"Apa aku hubungi saja Bella?" Jhonatan bertanya-tanya, selama ini ia tidak menghubungi Bella lagi, kalau merindukan Baby Gio, ia akan mendatanginya tanpa menghubungi Bella.
"Sudahlah, sebaiknya aku kirim pesan dulu,"
Jhonatan mengetik beberapa kata, ia cukup lama menunggu dan akhirnya ada pesan yang masuk.
"Silahkan,"
Jhonatan menarik dalam nafasnya, jantung berdebar-debar dengan cepat. Dia pun memencet sebuah Vidio Call.
__ADS_1
Akhirnya, muncullah wajah baby Gio dan Bella. Giordan yang sedang menangis di tenangkan oleh Bella sambil menunjuk ke arah ponselnya.
"Sayang, Gio, ini Om," ucapnya dengan suara serak. Dia tidak tega melihat baby Gio menangis seperti itu.
Seakan terhipnotis, baby Gio menoleh ke arah ponsel Bella. Sebelah tangan Bella mengusap air matanya.
Kedua tangan baby Gio meraih ponsel Bella, wanita itu pun mendekatkan ke wajah baby Gio. Dia pun memilih duduk di lantai sambil menurunkan putranya.
Bella menyerahkan ponselnya pada baby Gio, alhasil ponselnya kadang terjatuh ke lantai dan bocah menggemaskan itu kembali tersenyum.
"Hey sayang, kenapa kok nangis? rindu Om, ya? bentar om kesana," ucap Jhonatan.
Bella hanya diam, dia tidak berniat untuk ikut campur dan hanya membenarkan ponselnya yang kadang terbalik.
"Apa dia sakit?" batin Bella. Dia melihat wajah Jhonatan yang pucat.
"Om lagi sakit, besok Om pasti menemui baby Gio. Jadi jangan nangis lagi," hibur Jhonatan.
"Sayang, sudah matikan ya? Om Jho lagi sibuk," ucap Bella. Ia merasa kasihan melihat Jhonatan yang sering kali memejamkan kedua matanya. Dia mengambil ponselnya ke samping. Sontak baby Gio mengikutinya dan berteriak khas anak kecil yang tidak ingin mainannya di ambil.
"Ahh .... "
"Bella, berikan pada baby Gio. Lagi pula aku tidak merindukan mu, aku merindukan putra ku."
Ingin sekali Bella menyumpat mulut Jhonatan yang terasa pedas di telinganya. "Siapa juga yang butuh rindu oleh mu?" ucap Bella dengan kesal. Dia pun memberikan kembali ponselnya pada baby Gio.
__ADS_1