Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#33 : Melindunginya


__ADS_3

"Tuan, semuanya sudah selesai. Apa perlu kami membuat kekacauan lagi?"


"Teruskan, aku ingin membuatnya ketakutan. Kita akan lihat siapa yang akan dia pilih, Gladies, istri pertamanya atau Bella istri keduanya," ucap Dominic. Dia sedikit menyondongkan badannya ke depan. Kedua jarinya saling mengait dan menyanggah dagunya.


"Tuan, tuan Alexander datang."


Seketika Dominic langsung mengubah wajahnya menjadi serius. "Apa dia menemukan sesuatu?"


"Tidak mudah mengelabui orang itu," imbuh Dominic. Ia pun tahu, Jhonatan di abaikan oleh ayahnya. Kisah masa lalunya pun tau, bahwa ayah Jhonatan tidak mencintai ibunya dan mencari kisah masa lalunya. Saat ia dan Jhonatan mengobarkan api, sang ayah tidak ikut campur masalah anaknya.


"Kalau dia mencari sesuatu, bukankah akan menjadi pertempuran yang hebat. Dia tidak menyukai Gladies karena masalah statusnya begitu pun Bella, aku meminta Bella padanya. Kalau dia memberikan Bella pada ku, otomatis ayah dan anak itu semakin berkobar. Jhonatan kehilangan mainannya dan ayahnya memberikan mainannya pada musuh bebuyutan putranya."


"Tapi apa tuan Alexander akan menerima nyonya Bella, status nyonya Bella .. "


"Aku tahu, kau tetap awasi Bella."


Dia wanita yang menarik, mata polosnya itu ..


......................


Sepanjang malam Tuan Alexander merenungkan semuanya. Dia terus menatap sebuah foto, meskipun ada rasa sakit hati yang seharusnya dia melahirkan anaknya dan sakit hati ternyata ia telah gagal menemukannya dan tidak sempat bertemu, meminta maaf setulus hatinya.


"Aku gagal melindungi mu, tapi aku tidak akan gagal melindungi putri mu, aku akan berusaha membuat putri mu bahagia. Menuruti semua keinginannya, kau tidak perlu khawatir, putri mu akan baik-baik saja dengan ku, sekalipun aku harus melawan putra ku sendiri. Ini menebus semua dosa ku pada mu."


Tetesan air matanya pun jatuh ke atas figura itu, dia menghapus air matanya agar tidak menodai sinar senyuman di foto itu.


Tok


Tok


Tok


"Tuan, ini saya Bella. Makan malam sudah siap."


"Masuklah!"


Tanpa ragu Bella pun masuk, dia menghadap majikannya itu. "Apa tuan butuh sesuatu?" tanya Bella. Dia melihat matanya memerah seperti habis menangis.


"Bawa saja makan malam ke atas, aku ingin makan di sini. O iya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada mu, tapi setelah selesai makan malam."

__ADS_1


"Baik tuan, baiklah saya pamit tuan."


Bella, ketua pelayan, Ana dan Ani membawa makan malam itu ke lantai atas. Setelah menaruh makan malam itu di sebuah meja kecil yang telah di siapkan oleh ketua pelayan.


Tuan Alexander pun hanya meminta untuk di temani oleh Bella.


"Bella?"


"Iya tuan," sahut Bella. Dia berdiri di samping tuan Alexander dan sambil melihatnya.


"Apa kau senang bekerja di sini?"


Bella terdiam, niatnya kesini bukan sebagai pelayan, tapi sebagai istri dari Jhonatan, tapi pria itu malah membohonginya dan mempermainkan perasaannya. "Saya senang tuan?"


"Kau wanita baik, seandainya putra ku menjadikan mu istrinya, dia laki-laki yang beruntung."


Hatinya terombang-ambing, begitu sakit sampai ia tidak ingin mengingat Jhonatan lagi. Ia benci, namun masih ada cinta di hatinya. Setitik cinta itu yang membuatnya tak berdaya.


Bella menarik nafasnya dalam, kenyataannya tidak ada keberuntungan dalam hidupnya. Jhonatan beruntung karena menyiksanya fisik dan batinnya. Seakan ingin membuatnya mati perlahan. Aku bertahan di tengah rasa sakit ini, karena masih ada dia, anak ku.


"Bella, aku ingin membawa mu untuk bekerja dengan ku."


"Tapi ... "


Deg


Bella merasa aneh, tuan Alexander seakan mengetahui bahwa dirinya ingin pergi dan tidak bisa bertahan di sini. Iya, ini memang keinginannya untuk pergi.


"Aku sudah selesai."


Tuan Alexander melenggang pergi ke arah balkon, dia menoleh ke arah Bella yang masih termenung. "Aku harap, kau mengambil keputusan yang tepat Bella."


Sedangkan Bella, ia tersenyum, ia merasa akan bebas, tapi tentang kehamilannya, apa yang akan ia katakan? apa ia harus mengatakan kebohongan atau kejujurannya? tapi satu-satunya jalan ia harus keluar dari rumah ini, masalah itu ia akan pikirkan.


"Tuan saya ingin ikut dengan anda, tapi apa anda bisa menjamin keamanan saya, maksudnya saya tidak ingin kembali ke sini lagi." ucap Bella dengan senyuman yang di buat-buat, jantungnya jedak jiduk, ia berharap tuan Alexander tidak curiga padanya.


Tuan Alexander merasa ada bayangan wanita di masa lalunya yang tersenyum padanya. Ia pun mengangguk dan akan berbicara pada Theo untuk menyembunyikan Bella dari Jhonatan.


"Baiklah, aku akan menjamin kau tidak bisa kembali ke sini."

__ADS_1


Keesokan harinya...


Seorang wanita pun datang dengan wajah senang. Menggunakan sebuah gaun berwarna ke emasan. Dia masuk begitu saja dan kedua pelayan yang sedang mengepel lantai itu menyambutnya.


"Nyonya,"


"Hem ... Di mana kakak? maksud ku di mana tuan Jhonatan?"


Salah satu dari dua pelayan itu pun menjawab, "Tuan pergi nyonya,"


"Oh,"


Wanita ber oh ria saja, seakan cuek dan ketus. Ia tidak peduli dengan kakaknya, melainkan dengan wanita muda yang telah merusak keluarga kakaknya itu. Ia tau, sang kakak pasti menemui kakak iparnya.


"Dimana wanita murahan itu?" Dia melepaskan tasnya, lalu menaruhnya di atas sofa di sampingnya. Ia duduk sambil menyilangkan kedua kakinya dan mulai membuka majalah yang berada di sampingnya.


"Suruh wanita itu keluar dan buatkan aku teh hangat," titahnya tampa melihat ke arah pelayan.


Salah satu pelayan itu pun mencari ke beradaan Bella dan mengatakan apa keinginan sang nyonya yang mereka tau kekasih dari tuan mereka, tuan Jhonatan.


Selang beberapa menit, Bella pun membawa sebuah nampan yang berisi secangkir teh hangat.


Dia menaruh teh itu di depan Angelina dan berniat pergi.


"Tunggu, tunggu aku sampai minum teh ini, siapa tau kamu akan menaruh racun di dalamnya."


Bella menurut, ia menunduk sambil menyelipkan jari-jarinya ke jari lainnya.


Byur


Teh itu langsung menyembur, wanita itu berdiri dan langsung membuang teh itu ke tangan Bella.


"Panas, panas ... " ucap Bella sambil meniup tangannya yang terasa panas.


"Kamu bisa gak sih buat teh?!" bentak Angelina. "Buatkan aku teh lagi dan jangan yang panas."


"Siapa yang menyuruh mu berbuat kasar pada Bella?" tanya seseorang dengan tegas. Pria itu perlahan menuruni satu per satu anak tangga dan menatap tajam ke arah Angelin.


"Bibi Su!" teriak tuan Alexander.

__ADS_1


Seorang wanita tergopoh-gopoh berlari. "Iya tuan."


"Obati Bella dan tunggu, mulai saat ini Bella adalah pelayan pribadi ku." Tekan tuan Alexander. Semua orang pun tau, kalau sudah menyangkut pribadinya, tidak akan ada siapa pun yang berani mengusiknya.


__ADS_2