Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#82 : Kedatangan Bella


__ADS_3

Pagi harinya.


Dominic sengaja membawa putrinya ke sebuah taman. Ia ingin menghibur putrinya agar tidak bosan berada di rumahnya.


"Sudah sampai tuan putriku, termanis dan tercantik." Pujian demi pujian, ia lakukan untuk menyenangkan sang buah hati.


"Terima kasih Daddy ku." Tangan kecilnya melingkar di leher Dominic. Velli kecil pun mencium sebelah pipi Dominic. Inilah yang selalu ia harapkan dari putri kecilnya, ciuman yang sangat menggemaskan untuknya. Ia berharap setiap harinya akan seperti ini, ia tidak ingin moment ini hilang, sudah cukup kekosongan di masa lalunya.


"Velli sayang, bagaimana kalau suatu saat nanti kita akan berpisah?' tanya Dominic, kedua matanya berkaca-kaca, entahlah, ia merasa takut kalau bella akan kembali pada Bella.


"Siapa yang akan berpisah dengan Daddy?" Velli menggeleng lemah, apa pun yang terjadi, ia tida akan pernah berpisah dengan Daddynya, semenjak kecil sampai sekarang wajah laki-laki yang ia lihat hanyalah wajah sang Daddy dan kakeknya, kakek Alexander.


"Apapun yang terjadi kau tidak akan meninggalkan Daddy?" tanya Dominic.


Tangan kecil Velli menghapus air mata yang siap mengalir itu. Dia pun mencium pipi Dominic. "Kau tetap Daddy ku," ucap Velli.

__ADS_1


Dominic merasa tersentuh dengan ucapan Velli, namun bagaimana suatu saat nanti kalau putri angkatnya bertemu dengan Jhonatan? ia belum sanggup, bohong kalau seorang anak tidak menginginkan kasih sayang Daddy kandungnya.


Dia saja mengharapkan kasih sayang Daddy nya, kehidupannya tak seindah keluarga lengkap, ayahnya pergi meninggalkannya dan ibunya. Setiap hari ia merindukan sang ayah, kadang ia menangis menginginkan sang ayah. Ayahnya bahagia dengan istri barunya, sementara ia dan ibunya berjuang, semenjak itu, ia tidak pernah main-main dalam pernikahan, ia menyayangi istrinya karena teringat dengan nasibnya dan ibunya, namun hanya pengkhianatan yang ia dapat dan sekarang ia memperjuangkan Bella, entah apa yang akan terjadi selanjutnya, ia pasrah. Kadang pernikahan bertahan mempertimbangkan seorang anak yang telah hadir.


"Bagaimana kalau suatu saat nanti kau bertemu dengan ayah mu? apa kau akan melupakan Daddy?"


"Kau tetap Daddy ku, terlepas apa pun yang terjadi."


"Oh Tuhan ... " Dominic semakin mengeratkan pelukannya. Hatinya larut dalam keterputusasaan. Marvin yang melihatnya begitu tersentuh, ia menghapus air matanya.


Dominic berdiri dengan menggunakan kaos oblong berwarna putih, kedua tangan yang yang di masukkan ke dalam saku celananya. dia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. jantungnya berdebar tak karuan, ia sangat menanti pertemuannya dengan Bella. kedua telapak tangannya sangat dingin, kadang ia menggosokkan kedua telapak tangannya. Sedangkan Velli, dia duduk di kursi tunggu.


Selang beberapa menit, Velli turun dan berlari sambil memanggil mommy nya.


Dominic menoleh, dia melihat Bella menangkap Velli dan menggendongnya sambil mencium pipinya. Ia pun membuang wajahnya, menghapus air matanya. Lalu menoleh dan tersenyum.

__ADS_1


Dia pun melangkah, menyapa tuan Alexander, lalu Bella. Sedangkan Marvin mengambil alih koper Bella.


"Hey Boy?" Dominic berjongkok dan siap tos dengan Vello. Keduanya pun tertawa bersama. Lagi-lagi Dominic merasakan nyeri, wajah Vello sangat mirip dengan Jhonatan. Tapi, hatinya berkata Vello dan Velli harus tahu, dan Jhonatan pasti sudah mengetahuinya dan menyesal. Tuan Alexander bahkan menceritakannya padanya.


Tangan kecil Vello terulur menyentuh di bawah kedua mata Dominic, lalu menghapusnya seakan ada sesuatu di bawah sana.


"Om menangis? tebak Vello. Dia melihat kedua matanya memerah seperti habis menangis.


Dominic tertawa sumbang, "Tidak, Om kelilipan," ujar Dominic. Diapun berdiri menatap Bella dan wanita itu juga merasakan Dominic seperti habis menangis.


"Kau tidak apa-apa?' tanya Bella memastikan.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya kelilipan saja."


Bella mengangguk, ia tidak berhak menanyakan lebih banyak lagi, tapi kalau bisa ia ingin menanyakan di lain waktu.

__ADS_1


"Ya sudah ayo," ujar Dominic. Pria itu menatap ibu dan anak itu yang saling bergandeng tangan. Banyak hal yang ingin yang ingin ia katakan, ia akan mencari waktu untuk mengatakannya, sebelum ia terlambat.


__ADS_2