
Bella menatap sekeliling kediaman Jhonatan, saat ini ia berada di dapur dengan suasana temaram. Dia menatap sekelilingnya dan kemudian menghela nafas. Di tempat ini lah dia datang sebagai istri Jhonatan, tapi tak berlakukan sebagai istri.
Tempat ini lah yang mengungkapkan semua kebenaran tentang dirinya, bayangan di mana ia mengingat Jack yang pada saat itu menghubungi suaminya dan di tempat inilah Jhonatan meninggalkannya.
Ia menghapus beberapa butir air bening yang mengalir di pipinya. Jujur, ia sangat merindukan Jhonatan, tapi ia tidak memiliki hak. Dia hanyalah istri siri seorang Jhonatan.
Dia melangkah ke arah tangga, menatap sebuah pintu di depannya. Tanpa ragu ia memutar handle pintu itu dan dalam hatinya berucap, meminta maaf karena telah lancang.
Dia pun masuk dan melihat sekelilingnya, sebuah ranjang dan tepat di depan ranjang itu sebuah foto besar.
Ia menatap foto suaminya tanpa berkedip, senyuman yang tulus terpancar di wajahnya dengan seorang wanita yang memakai gaun pengantin, ia yakini istri Jhonatan.
Wanita itu sangat cantik, jika di bandingkan dirinya tidak ada apa-apanya. Dia melangkah ke arah nakas, sebuah foto Jhonatan dan istrinya yang saling menyatukan kening dan tersenyum.
"Kau tampan, hanya aku tidak pantas untuk mu. Aku minta maaf, selama menjadi istri mu. Aku banyak melakukan kesalahan, aku minta maaf Jho. Semoga kau bahagia dan selamat tinggal."
Bella langsung keluar dari kamar Jhonatan, dia menuruni anak tangga dengan perasaan yang terbakar. Ia cemburu, namun ia tidak memiliki hak.
Tanpa Bella sadari, seseorang tengah berdiri di ikuti oleh Theo. Orang itu pun menunduk dan dalam hati sangat menyesal.
"Maafkan aku Bella, aku gagal mendidik putra ku."
###
Keesokan harinya.
Bella telah bersiap-siap, dia menaruh pakaiannya ke dalam tas hitam sampai tak tersisa sedikit pun. Ia tidak berniat lagi untuk kembali atau menginjakkan kakinya ke dalam rumah ini. Hatinya telah hancur oleh Jhonatan, pria yang ia cintai berniat membunuhnya secara perlahan.
"Bell, kau yakin akan pergi?" tanya Ani.
__ADS_1
"Biarkan dia pergi, ini yang terbaik untuknya dan bayinya. Di sini, setelah nyonya Gladies kembali. Dia tidak akan baik-baik saja." Sanggah Ana. Dia memang sedih, tapi bukan berarti harus menahan Bella di sini.
"Iya, maafkan aku jika aku punya salah pada kalian."
Tok
Tok
Tok
Theo mengetuk pintu yang terbuka itu, ketiga wanita itu langsung menoleh.
"Maaf mengganggu nyonya Bella. Tuan besar sudah menunggu."
"Iya," ucap Bella. Dia pun memeluk Ana, kemudian Ani. Kedua wanita itu pun mengantarkan kepergian Bella.
Sedangkan ketua pelayan, ia tersenyum sambil melihat Bella dari jauh, sampai di depannya, ia langsung memeluk Bella.
"Iya, bi. Jaga kesehatan mu dan kalian, terima kasih."
Bibi Su dan kedua wanita kembar itu mengikuti Bella sampai di ruang tamu. Tuan Alexander tersenyum, sedangkan Theo bergegas mengambil alih tas yang di bawa Bella.
"Ayo Bella." Ajak tuan Alexander.
Bella pun mengekorinya, tepat di halaman depan. Dia menatap bangunan megah itu, para pelayan pun menunduk saat dia berjalan mengekori tuan Alexander.
"Theo, kita ke pulau Xxx." Titah tuan Alexander. Dia berniat menyembunyikan Bella di sebuah pulau yang bahkan Jhonatan pun tidak tahu, keamanan di pulau itu sangat ketat dan di kelilingi oleh lautan. Jadi ia yakin untuk menyembunyikan Bella di sana dan membesarkan cucunya.
"Baik tuan," ucap Jack.
__ADS_1
###
Angelina berulang kali menghubungi Jhonatan, namun sejak kemarin panggilannya tidak di angkat, hingga saat ini ia memaksa dan berhasil, panggilannya di angkat.
"Kakak," seru Angelina.
"Ada apa? aku sibuk, jangan mengganggu waktu ku."
"Ada hal penting yang harus aku sampaikan. Kakak tahu, om Alexander ke rumah kakak."
Jhonatan mematung, sejenak bibirnya mati rasa. Hingga ia harus menetralkan kembali. "Apa maksud mu?"
"Kakak ini, om Alexander datang ke rumah kakak dan dia dekat dengan Bella."
Jhonatan mengusap wajahnya dengan kasar dengan sebelah tangannya, lalu berdecak pinggang. Tanpa basa basi Jhonatan mematikan panggilannya dan ia pun memanggil Jack.
"Jack, aku ingin bicara dengan mu."
"Iya tuan,"
"Kenapa kau tidak menyelidikinya Jack? Daddy, dia datang ke rumah ku dan Bella, bagaimana dengan Bella? oh sial, kenapa bisa begini?" Jhonatan menyentuh keningnya. Wajahnya tampak ketakutan, ia takut Bella mengadukan sesuatu dan bagaimana kalau Daddy nya tahu? ia khawatir dengan keselamatan Bella. Bodohnya, ia tidak memindahkan Bella.
"Jack, kita harus pulang."
"Lalu bagaimana dengan nyonya Gladies?"
"Kau tunggu di sini, aku akan pulang sendiri."
"Tapi tuan, orang yang meneror tuan belum kita temukan."
__ADS_1
"Dengar! ini sangat penting. Aku percayakan Gladies pada mu," ucap Jhonatan sambil memegang kedua lengan Jack.