Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#45 : Sangat Mustahil


__ADS_3

^^^ Itali ^^^


"Kau tidak apa-apa?" tanya tuan Alexander menatap Bella. Dia menemani wanita itu di balkon sambil melihat hamparan laut yang tampak tenang.


Bella menatap ke atas langit, bintang bersinar terang dan langit yang bersih tanpa awan. Waktu terus berputar, tak terasa pukul 00.01 dan ia belum ingin memejamkan matanya, hingga tuan Alexander menemaninya.


"Sebaiknya Daddy tidur saja, ini sudah malam," ucap Bella berniat mengalihkan pertanyaan tuan Alexander.


Tuan Alexander tersenyum, tidak ibu dan anak semuanya sama dan mirip, selalu mengkhawatirkan hidupnya. Dia menyilangkan kedua lengannya dan pinggang kananya ia sandarkan ke pembatas pagar sambil menatap Bella. Seandainya, umurnya tidak tua dan Bella tidak menikah dengan putranya, sudah pasti ia akan menikahi Bella, ya walaupun ia harus mencintai orang yang sama tapi memiliki aliran darah yang sama dengan kekasih masa lalunya.


"Aku suka, ternyata putri ku mengkhawatirkan kesehatan ku," ucap tuan Alexander terkekeh dan langsung terdengar gelak tawa. "Kau lucu dan aku senang memiliki seorang putri."


"Apa yang membuat anda ingin menjadikan aku sebagai putri anda?"


Tuan Alexander mengubah posisinya, kini ia sandarkan pinggangnya ke pagar pembatas dan berlawanan dengan arah Bella. "Karena kau menantu ku,"


Bella merasa kurang cocok dengan jawaban yang di berikan sang ayah mertua, ia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan. "Aku merasa tidak semudah itu, entahlah, aku merasa Daddy menyembunyikan sesuatu."


Tuan Alexander tersenyum tipis, mana mungkin ia mengatakan semuanya. Ia tidak ingin Bella merasa terbebani, apa lagi ini berkaitan dengan almarhum ibunya Jhonatan. Bella pasti tidak akan merasa nyaman dengan kebaikannya.


"Kau terlalu banyak berpikir,"

__ADS_1


"Aku ingin putri ku atau putra ku kelak mirip dengan tuan, aku suka dengan sifat dan sikap Daddy."


Kau tidak tahu seberapa bajingan diri ku Bella


"Aku menanyakan yang tadi, kau tidak apa-apa."


Bella terkekeh lucu dan kemudian memejamkan matanya, merasakan hembusan angin yang menerpa lehernya dan membuat rambut hitamnya terombang-ambing ke belakang. "Seperti yang Daddy lihat, aku tidak apa-apa. Cepat atau lambat, pasti aku akan mendengarkan suara Jhonatan."


"Bella, aku harap usaha ku tidak sia-sia membuat mu bahagia dan cucu ku."


Bella menoleh, mertuanya menunduk dan kedua matanya lurus menatap lantai marmer itu. "Apa Daddy tidak takut di benci oleh Jhonatan karena menyembunyikan ku."


Bella mengangguk, ia tidak akan bertanya lebih jauh lagi. Apa lagi mertuanya seperti tidak ingin mengatakannya lebih jauh.


"Sudah larut malam, istirahatlah. Tidak baik tidur terlalu malam untuk ibu hamil."


"Terimakasih Dad, terimakasih karena menjaga ku."


Bella melepaskan tangannya yang menggenggam erat pembatas pagar itu, dia memeluk tuan Alexander dan tersenyum.


"Itu tugas ku sebagai seorang ayah dan kakek, aku melakukan apa pun, walaupun harus melawan putra ku sendiri. O iya, besok aku harus meninggalkan mu, maafkan Daddy, karena urusan perusahaan."

__ADS_1


"Iya Dad, Bella mengerti kesibukan Daddy."


Bella pun melangkah menjauhi tuan Alexander menuju kamarnya. Sedangkan tuan Alexander menepuk dadanya yang begitu sesak. "Ini masih sakit," gumamnya.


##


Jhonatan tak bisa memejamkan matanya sedikit pun. Pikirannya resah, hatinya gundah gulana. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Bella. Dia pun menghubungi seseorang dan menyuruhnya menyelidiki penerbangan Jakarta. Beberapa menit kemudian, sebuah vidio muncul di ponselnya.


Benar saja, sebuah penerbangan atas nama Bella ke Prancis, namun sayang Bella tidak mengikuti penerbangan itu. Dia malah keluar dari mobil sang ayah menuju mobil hitam.


"Jadi Bella belum meninggalkan kota ini, lalu dia kemana?"


"Aku harus menyelidiki plat ini," gumam Jhonatan.


Dia pun kembali memerintahkan seseorang dan menyuruhnya untuk mendatanginya besok. Dia akan ikut jika menemukan mobil itu.


"Daddy kalau sampai terjadi sesuatu pada Bella aku akan ... "


Kau sudah bebas Jho, selamat


"Apa yang aku pikirkan? bukankah seharusnya aku senang? tapi apa ini? dada ku merasa sesak, hati ku merasa sakit. Aku tidak mungkin mencintai Bella, iya mungkin ini hanya karena kasihan atau aku beberapa bulan yang lalu begitu dekat dengan Bella," gumam Jhonatan. Baginya sangat mustahil kalau ia mencintai Bella dalam waktu singkat.

__ADS_1


__ADS_2