
Jhonatan keluar dari mobil hitamnya di ikuti Jack, kedua pria itu menjadi pusat perhatian para wanita yang berada di dalam Restaurant. Wajah tampan yang membuat wanita seakan meleleh itu, kini tak pernah pudar.
"Selamat siang tuan Jhonatan," sapanya.
"Selamat siang," ucap Jhonatan.
Keduanya pun mulai berunding tentang masalah investasi. Hingga tanpa di sadari Jhonatan langsung menoleh saat seseorang memanggil Daddy.
Suara anak kecil itu seakan menghipnotisnya untuk melihatnya.
"Dominic!" gumam Jhonatan. Dia melihat Dominic menggendong anak kecil dan terkekeh sambil mencium pipi gembul.
Para wanita pun di Restaurant itu sampai meneteskan air liurnya, mereka pikir hari-hari keberuntungan melihat beberapa cogan (cowok ganteng) yang datang. Tapi sayang, mereka langsung mundur ketika melihat Dominic mencium anak kecil, yang mereka pikir adalah anaknya.
"Bella!" gumam Dominic tanpa ia sadari.
"Ada apa tuan?" tanya Jack yang langsung memutuskan tatapan Jhonatan pada anak kecil itu. Dia juga melihat Dominic yang menurunkan anak kecil di ikuti Marvin.
"Tidak, mungkin aku salah," ucapnya dengan rasa sesak yang terus membuatnya setiap hari seakan mati perlahan.
Setelah menjelaskan investasi, keduanya pun mulai makan bersama. Jhonatan kembali melihat anak kecil yang di suapi oleh Dominic itu dengan telaten. Seandainya anaknya ia temukan, mungkin dia sudah sebesarnya. Mendadak makanan di dalam mulutnya terasa hambar. Ia langsung meminumnya dan berdiri.
Tap
__ADS_1
Tap
Tap
"Daddy, aku mau udang."
"Nanti Daddy pesan kan lagi, sekarang habiskan udangnya dulu," ucap Dominic. Dia dengan telaten mengupas kan kulit udang itu. Karena kesukaan putri kecilnya memang udang.
Velli mengangguk dan membuka mulutnya.
"Tuan," Marvin menatap Jhonatan, lalu melirik sang bos yang belum sadar. Jangan di tanya jantungnya, saat ini Marvin seakan langsung mati.
"Tuan!"
"Ehem ... "
Derheman Jhonatan membuat Dominic mendongak dan Velli mengikuti arah pandang sang ayah.
Kedua mata Jhonatan langsung berkaca-kaca, tatapan dalam yang di penuhi ketenangan dan jernih di kedua maniknya mengingatkannya pada Bella.
"Om siapa?" tanya Velli.
Deg
__ADS_1
Suaranya, suara yang ia kenal. Suara anak kecil di depannya sama persis dengan Bella.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Dominic tidak suka saat Jhonatan menatap anaknya. Ia takut, anaknya terikat, apa lagi hubungan ayah dan anak sangat kental.
"Tidak! aku hanya ingin melihat anak yang di bawa mu. Semenjak kapan kau menikah?" tanya Jhonatan, tanpa di suruh dia langsung duduk di samping Velli
"Bukan urusan mu aku menikah kapan!" ucap Dominic. Dia melirik Velli yang tak pernah melepaskan pandangannya pada sang Daddy.
Dia Daddy mu Vell batin Dominic meringis kesakitan di hatinya. Daddy yang selalu kamu tanyakan pada Om, tapi Om bersyukur kau menganggap Om sebagai Daddy mu.
Jhonatan kembali menatap Velli, tanpa ia sadari, ia mengelus kepala Velli dan tersenyum senang. Saat mengelusnya, tangannya seakan di aliri sesuatu yang menuju jantungnya, menenangkan detakannya, lalu ke hatinya yang seakan menghapus perihnya.
Sedangkan Velli, ia merasa nyaman, sama seperti ibunya yang mengelusnya.
Sebagai seorang Daddy sambung, Dominic merasakan cemburu. Ia langsung mengangkat tubuh Velli.
"Princess kita pulang, Marvin kau yang membereskannya," ucap Dominic.
"Tapi Dad, kita makannya belum selesai," ucap Velli dengan memanyungkan bibirnya.
"Tenang saja, koki di rumah Daddy akan membuatkannya. Jadi jangan cemberut," ucap Dominic sambil menarik hidung mancung Velli, dan membuat anak itu tersenyum.
Dominic pun langsung pergi, sedangkan Jhonatan, tangannya masih mengambang di udara, kemudian mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1