Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#91 : Kekosongan


__ADS_3

"Jhonatan, kau tidak ingin menjelaskan sesuatu?" tanya Gladies. Wajahnya pucat dan kedua matanya bengkak. Seharian ini dia menangis dan menunggu kedatangan suaminya.


Bibi Su yang mengantarkan makan malam, dia pun pamit pergi dan membiarkan pasangan itu menyelesaikan urusannya, namun ia berpikir kalau urusan mereka tidak akan selesai.


"Apa bisa kau memikirkan aku?"


Jhonatan tak bergeming, dia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.


"Jawab Jhonatan!" teriak Gladies. "Kenapa kau menyakiti ku setelah aku korbankan semuanya?!"


Gladies pun mendekat ke arah Jhonatan, tepat di depannya. Dia pun mengguncangkan tubuh Jhonatan, tapi pria itu tetap diam dengan tatapan kosong. "Jawab Jhonatan! kau tidak mungkin mengkhianati ku, aku rasa semuanya mimpi."


Gladies memegangi kepalanya, ia menangis di hadapan Jhonatan dan pria itu sama sekali tidak bereaksi. Justru pria itu malah menggerakkan bibirnya menyebut nama Bella.


"Hanya itu, hanya itu yang kau sebut."


Gladies duduk di depan kaki Jhonatan, lalu menyandarkan kepalanya ke kaki Jhonatan. "Jangan menyebutnya, aku sangat mencintai mu. Kau membuat ku jatuh cinta dan tak bisa melepaskan mu. Bagaimana kalau kita pergi dari sini? aku tidak mau berbagi, Jhonatan. Kau hanya milik ku."


Tak terasa, tiga hari telah berlalu. Selama dua hari Jhonatan tak memiliki respon sedikit pun. Pria itu hanya menatap kosong, berdiam sendiri, bahkan makanan pun sama sekali tak tersentuh. Agar bisa membuat pria itu tidur, Bibi Su memanggil Frank dan pria itu memeriksa Jhonatan yang mengalami stres, seakan otaknya telah hilang. Bahkan ia menyuntikkan obat tidur.

__ADS_1


Sedangkan Gladies, wanita itu justru mengurung diri. Sama halnya dengan Jhonatan, ia tidak makan apa pun. Kadang ia datang pada suaminya saat tengah tertidur, hatinya tidak tahan melihat suaminya serapuh ini karena wanita lain. Kenapa bukan dia yang membuatnya rapuh? sama dengan saat ini, ia datang melihat suaminya yang tertidur pulas.


"Bagaimana keadaanya Frank?" tanya Gladies. Dia mengusap dahi suaminya dan mengecupnya. Pria itu memang menyakitinya, tapi hatinya masih mencintainya.


"Sama, tidak ada perubahan apa pun. Aku takut kalau seperti ini terus, dia bisa gila. Kau sudah menghubungi tuan Alexander?" tanya Frank. Bibi Su sudah menceritakan semuanya, jadi ia tahu apa yang telah terjadi dan tidak menanyakan apa pun lagi pada Gladies.


"Aku rasa kau harus menerimanya, dari pada melihat suami mu seperti ini."


"Apa aku harus berkorban? aku sudah berkorban, demi dia." lirih Gladies. Dia mengelus pipi Jhonatan yang semakin kurus. "Tidak ada wanita yang rela melihat suaminya bersama orang lain, termasuk aku. Sekalipun dia berkorban demi diri ku, tapi rasanya sakit Frank."


Pria itu terdiam, dia tidak mengerti apa itu cinta. Karena dirinya memang jomblo akut. "Tapi, tidak baik kalau seperti ini terus. Biarkan Jhonatan meraihnya juga Gladies, aku tahu kau tidak menerimanya, tapi lihatlah sisi positifnya. Dia membutuhkan ... "


"Jangan di lanjutkan," potong Gladies dengan cepat. "Aku yakin dia sembuh tanpa wanita itu, tanpa mereka. Kau cukup bersiaga memeriksanya. Aku percaya dia laki-laki yang kuat dan tidak akan rapuh, aku percaya waktu akan membuat dia melupakannya."


"Aku memang egois, dari dulu aku egois. Aku melakukan apa pun demi dirinya. Dia hanya milik ku,"


"Gladies, dia sudah memiliki anak. Jhonatan membutuhkan anak-anaknya." Suara Frank mulai naik, kalau memang cinta, seharusnya dia melihat orang yang dia cintai hidup bahagia.


Gladies pun berbalik dan menatap tajam Frank. Dia sama sekali tidak takut melawan pria di depannya. "Aku berkorban meninggalkan anak ku."

__ADS_1


"Ya Tuhan,"


Frank merasa kesakitan di kepalanya. "Seharusnya kau memperbaiki hubungan ibu dan anak, lalu mengadopsi anak. Bukan seperti ini caranya, kau mengorbankan anak mu dan mengadopsi anak orang lain. Kau lucu sekali, kau wanita yang gila."


"Kalau aku gila, aku akan membuat Jhonatan gila."


Frank langsung mencekik leher Gladies, ia mencengkramnya dengan kaut dan membuat mulut Gladies menganga, seakan mencari oksigen. "Jangan berbuat macam-macam, aku juga bisa membuat mu gila."


###


Di tempat lain.


Seorang pria setengah baya dengan menggunakan topi hitam dan bundar di kepalanya tersenyum sinis. Hari ini ia mendapatkan kabar kalau musuhnya Alexander tengah bergandengan tangan dengan dua anak kecil. Dia juga melihat, kalau Alexander membawa anak itu masuk ke dalam rumah Jhonatan.


"Aku ingin dua anak ini," ucapnya tersenyum licik.


Dia menatap foto satunya lagi dan melihat seorang wanita cantik. "Siapa wanita ini?"


"Saya tidak tau tuan, tapi sepertinya wanita ini memiliki hubungan dengan tuan Jhonatan."

__ADS_1


"Selama tiga hari anak buah saya mengawasi kediaman Jhonatan, tapi tidak melihat tuan Jhonatan keluar."


"Awasi mereka, bagaimana pun caranya, aku ingin kedua anak ini dan wanita ini." Titahnya, ia yakin kedua anak itu dan wanita itu sangat penting. Di lihat dari senyuman wajah Alexander.


__ADS_2