Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#77 : 5 Tahun Kemudian


__ADS_3

Dominic terkekeh kecil melihat Bella yang tampak kesal, di matanya, Bella tampak menggemaskan, bibirnya yang sedikit manyung ke depan dan kedua pipinya yang tampak berisi, entah mengapa tangannya terasa gatal ingin mencubit pipi tembem itu.


Bella menatap Dominic tajam, kemudian menaruh kuasnya dan melangkah ke balkon. Berdekatan dengan pria di sampingnya ia merasa risih, namun tampa ia sangka, justru pria itu malah mengikutinya.


"Anda boleh pergi," acuhnya.


Dominic tersenyum, dia meninggalkan Bella sendirian, namun bukan berarti dia pergi, tapi ia mencari jaket swieter rajut di lemari Bella, lalu memakaikannya ke tubuhnya.


"Pakailah, kau sedang hamil kan? ibu hamil harus menjaga kesehatannya," ucap Dominic.


Bella mengangkat wajahnya, menatap kedua manik itu, membuat jantung Dominic seakan melompat keluar.


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya." Tolaknya mengambil alih swieter itu. Dominic tidak perduli dengan penolakan Bella, justru dia membantu ibu hamil itu.


"Aku ini pelayan anda, sudah kewajiban saya melayani anda," ucap Dominic secara formal dan membuat Bella merasa tak nyaman.


"Tinggalkan aku sendiri," ucapnya.


Dominic menatap iba, ia kasihan dengan Bella yang harus merawat anaknya sendirian. "Apa kau sudah bangkit dari nya?" tanya Dominic.


Bella langsung mengerti arah pembicaraannya dan memutar tubuhnya membelakangi Dominic. Hatinya, masih terasa sesak, ia belum bisa menyembuhkan luka di hatinya.


"Kau harus melupakannya, dia sudah bahagia dan saatnya kau bahagia."

__ADS_1


"Siapa bilang aku tidak bahagia? aku bahagia," sarkas Bella. Kedua tangannya meremas pagar pembatas itu. Dia menggertakkan giginya dengan kesal bercampur amarah.


Dominic pun menarik pergelangan tangan Bella, dia langsung memeluk Bella dan mengelus punggungnya. "Menangislah, jika itu membuat mu nyaman. Jangan di pendam," lirihnya.


Bella mendorong tubuh Dominic, namun ia kalah. Dominic terlalu kuat memeluknya. "Jangan memeluk ku," lirihnya dengan suara tertahan.


"Kau boleh manfaatkan aku, menyuruh ku sesuka mu."


"Siapa dirimu? kenapa aku harua memanfaatkan dirimu?"


"Karena aku akan menjaga mu," Bella mendongak, menatap dalan kedua manik Dominic dan ia menemukan di dalam mata itu tidak ada setitik kebohongan, sebuah ketulusan di iringi senyumannya.


Sedangkan Theo, ia telah sampai membawa Justin dan Austin. Butuh beberapa jam mereka sampai dan akhirnya tepat jam 12 malam. Mereka telah memasuki halaman utama.


"Kau tahu siapa yang akan kamu jaga?"


"Kau sudah tahu jawabannya, nyonya Bella. Bukan kesalahannya, tapi tuan Jhonatan malah melampiaskannya pada nyonya Bella. Kejadian itu murni kecelakaannya, nyonya Gladies sempat koma dan demi membalaskan dendam istri yang sedang koma, tuan Jhonatan membuat nyonya Bella mengalami kesakitan luar dan dalam. Padahal, nyonya Bella kehilangan ayahnya."


Justin terkejut dengan penjelasan Dominic, ternyata Jhonatan memang kejam. Mempermainkan wanita yang bukan salahnya.


"Kau menjaganya dengan baik, karena nyonya Bella tengah mengandung dan tuan Jhonatan tidak mengetahuinya, apa lagi nyonya, aku harap kau mampu menjaga rahasia ini dan menjaganya dengan baik."


"Percayakan saja pada ku, aku akan menjaga nyonya Bella dengan baik dan Austin, dia akan menjadi pria hebat dan menjaga anaknya kelak."

__ADS_1


Theo mengangguk tersenyum, dia bangga dengan Justin, melihat pria itu kini sekarang menerima masa lalunya dengan senyuman terbuka.


......................


Waktu terus mengalir, detakan jam dinding terus berputar, musim silih berganti. Kini tepat 5 tahun telah berlalu. Bella di karuniai dua bocah yang menggemaskan. Satunya laki-laki dan satunya perempuan. Dia melewati hari-harinya dengan anak di dalam kandungannya sampai melahirkan. Anak pertamanya seorang laki-laki, ia berikan nama Vello dan anak keduanya bernama Velli. Ia pun sudah bangkit dari masa lalunya, terlepas dari Jhonatan adalah ayahnya, ia tidak ingin pria itu tahu dan membagi sebutan ibu dengan Gladies, ia tidak rela sedikit pun.


Dominic sangat membantunya????, kini mereka menjadi teman yang sangat akrap, bahkan kedua anaknya sangat lengket dengan Dominic, apa pun keinginan kedua anaknya, Dominic akan siap siaga dan anak perempuannya memanggil Dominic dengan sebutan Daddy dan sang anak laki-laki memanggilnya Om, ia memiliki sifat acuh dan pendiam. Sifat dingin dari sang Daddy atau kakeknya menurun, dia tidak semanja anak perempuannya.


Dominic, pria itu kadang menghilang beberapa hari untuk mengecek perusahaannya dan anak perempuan Bella lah yang selalu mengikutinya, celoteh kecilnya membuat hidup Dominic semakin berwarna. Pria itu justru sering mengajak kedua anak Bella keluar.


Sedangkan Austin dan Justin, kedua pria itu sangat menjaga Bella. Kadang Austin menjaga kedua anak-anak Bella, menemaninya bermain.


Sedangkan tuan Alexander, dia sering mengunjungi Bella. Kadang dia menginap di Villa itu menjaga kedua anak Bella, umurnya yang semakin tua, kini semakin bahagia. Dia di temani dengan anak-anak yang menggemaskan. Bahkan tuan Alexander sangat memanjakan kedua cucunya dan hubungannya dengan menantunya dan putranya terbilang biasa saja, tidak dekat dan tidak jauh. Mereka hanya bertemu seperlunya saja, tuan Alexander pun sangat menjaga agar apa yang ia rahasiakan tidak tercium oleh Jhonatan.


Sedangkan Jhonatan dan Gladies, dia menerima saran dari sang Daddy untuk mengadopsi anak. Jhonatan, hari-harinya di penuhi dengan penyesalan, dia banyak diam, dingin es itu kini telah di bekukan, sama dengan sifatnya yang dingin semakin dingin, rasanya sangat sulit untuk di cairkan. Kini perusahaannya semakin pesat, semakin tambah maju, tentu saja tak lepas dari persaingan dengan perusahaan Dominic, perusahaan itu, kini maju. Apa lagi perusahaan AE telah bergabung dengan perusahan itu. Jhonatan tak mengambil pusing masalah ayahnya yang terlalu dekat dengan Dominic, yang ia fokuskan mencari keberadaan Bella dan Bella, sampai sekarang, Gladies belum mengetahui kalau ia telah memiliki anak dari istrinya yang lain. Ia semakin menyesal, apa lagi melihat anak kecil yang ia adopsi, ia sangat merindukan Bella dan anaknya, ia yakin anaknya sudah berumur 5 tahun semenjak kejadian menghilangnya Bella.


Kini ia sadar, ia tidak peduli Gladies mengetahuinya atau bukan, karena menurutnya, Bella juga berhak di sebut sebagai istrinya. Terlepas Gladies marah atau mencacinya, karena ini fakta dan kenyataan yang harus istri pertamanya itu tahu. Ia pun hanya pulang beberapa kali karena kesibukannya yang harus mondar mandir keluar negeri. Bahkan kadang pertengkaran menghiasi rumah tangga mereka.


Gladies yang semakin kesal lantaran Jhonatan tidak seperti dulu, tidak sehangat seperti dulu. Jhonatan selalu mengacuhkannya ketika ia mulai memarahinya. kekesalannya bagaikan angin lalu, Bukan hanya marah, tapi seakan sudah biasa bagi Jhonatan. Ia merasa rumah tangganya semakin renggang, masalah anak dan mantan suaminya. Ia tidak peduli, seakan ia lupa kalau dirinya telah memiliki anak, yang penting bagi Gladies, sekarang dia memiliki anak adopsi dengan Jhonatan. Sekalipun bukan anaknya, ia sudah senang karena Jhonatan menerimanya. Anak itu adalah alasannya Jhonatan menyempatkan diri untuk pulang.


Jack, dia terus berusaha mencari titik keberadaan Bella. Kadang ia frustasi menghadapi sikap sang bos, marah-marah tidak jelas, tapi untungnya sang bos telah menjauh dari kata mabuk, ia pikir sihir perkataan Bella yang membuat sang bos berubah. Ia bersyukur, hanya sifat pemabuk sang bos yang hilang. Sama seperti ini, setelah puas marah-marah, sang bos akhirnya duduk dengan tenang.


"Tuan, hari ini dan jam 11 tuan memiliki pertemuan di luar di Restaurant Xxx." ucap Jack.

__ADS_1


"Hempz,"


Hanya derheman yang sering menjadi jawaban atas semua penjelasan panjangnya. Ia sudah terbiasa mendengarkannya.


__ADS_2