Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#26 : Siapa Nama Mu?


__ADS_3

Ketua pelayan dan Ana pun menuju ruang tamu. Ketua pelayan berada di depan sedangkan Ana mengekorinya dari belakang sambil membawa nampan dan secangkir kopi hitam.


"Ini tuan."


Tuan yang di sapa tuan besar itu bernama Alexander, Ayah dari Jhonatan Alexander Rondigus.


Pria berahang tegas itu melipat kembali koran di tangannya, menaruhnya di atas meja. Ia mengambil cangkir porselin berwarna putih dengan ukiran bunga mawar, lalu menyeruputnya.


Satu kali tegukan ia tidak berselera lagi dan kemudian menaruhnya. "Terlalu manis, aku tidak suka."


"Kami akan menggantinya tuan," ucap Ketua pelayan. Dia memberikan kode pada Ana untuk mengambilnya dan menggantinya.


Selang beberapa saat pun, Ana membawa kembali sebuah kopi, tentu saja dengan cangkir porselin warna berbeda dan ukiran bunga yang berbeda.


Tuan Alexander pun menyeruput kopi hitam itu, dan keningnya semakin berkerut. "Terlalu pahit."


Kedua mata Ana membulat lebar, ia melirik Ketua pelayan yang wajahnya langsung pias.


Bagaimana ini? kenapa tidak cocok batin Ana.


Ana takut sang tuan menghukumnya, lalu memecatnya. Tuan Alexander, ayah dari Jhonatan terkenal bengisnya, pria itu tidak suka basa-basi. Sekali iya maka akan tetap iya, begitupun sebaliknya. Titahnya tidak bisa di ganggu gugat.


"Ana cepat ganti," titah Ketua pelayan. Keningnya semakin basah, seperti hujan yang mengalir deras. Sesekali ia meneguk ludahnya susah payah. Baru kali ini sang Tuan datang di rumah Jhonatan, majikan mudanya. Semenjak menikah dengan Galdies, Alexander tidak pernah menginjakkan kakinya di rumah sang putra. Karena sang tuan Alexander tidak merestui hubungan Jhonatan dengan Gladies.


Ana berjalan dengan wajah kusut, bibirnya mengerucut ke depan. Dia menaruh nampan itu dengan kasar.


"Apa tuan Alexander menolak?" tanya seorang Art. Dia mendekati Ana dan melihat minuman di cangkir itu masih utuh, mungkin hanya di cicipi saja.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, tadi manis sekarang pahit, entah aku pakai takaran apa lagi?" sungut Ana.


Pelayan lainnya pun mendekat, di dalam dapur sekitar ada lima pelayan termasuk koki. Pria berwajah tampan itu pun mendekat dengan wajah pias.


"Bagaimana ini? aku takut masakan ku tidak cocok di lidahnya, bisa mati aku," ucapnya sambil meremas kain lap di tangannya.


"Aduuh, tapi tumben ya, tuan Alexander kesini? apa jangan-jangan tuan sudah tau perihal pernikahan Bella?" tebak seorang pelayan berambut pendek. Dia memasukkan kedua tangannya ke saku depannya.


"Tidak mungkin, kalau pun tuan Alexander tau, emm sudah pasti tuan mengusir Bella. Kamu tau tidak, katanya tuan Alexander tidak merestui hubungan tuan Jhonatan dengan nyonya Gladies. Karena nyonya Gladies berasal dari orang yang tidak mampu," jawab salah satu pelayan lainnya.


"Kenapa kita jadi bergosip? dah lah, sebaiknya kita lanjutkan buat makan malam, dan kamu Ana, cepat kamu siapkan kopinya, bisa-bisa kamu di lahap oleh tuan." tegas sang koki. Dia beralih pada spatula di sampingnya. Semenjak tuan Jhonatan menikah dengan Bella, semua pekerjaannya di alihkan ke Bella, tapi ia cukup kagum, masakan Bella tidak kalah darinya.


Tetapi ia cukup kasihan, Bella yang seharusnya menjadi nyonya, harus menjadi pelayan di rumahnya sendiri.


Sedangkan Bella, wanita itu membalikkan tubuhnya, berputar arah. Dia duduk di lesehan, sambil menekuk lututnya, di samping dapur. Kedua telinganya mendengarkan semua perkataan pelayan yang sedang bergosip itu. Hidupnya semakin rumit, ingin sekali mengatakan dan meneriaki nama Jhonatan di hadapan ayahnya, namun mendengarkan kata miskin, sepertinya sia-sia. Sudah pasti anaknya tidak akan di anggap atau malah di buang.


Bella mendongak, ia cukup lelah untuk menangis. Beberapa hari ini matanya selalu panas.


prank


Bella terkejut, dia langsung berdiri dan buru-buru masuk ke dapur. Melihat Ningsih, Ana, Ani dan pelayan lainnya yang menunduk.


"Apa-apaan ini? apa kalian tidak bisa membuat kopi? semua rasanya tidak cocok," sarkas ketua pelayan. Ketiga kalinya ia langsung masuk ke dapur dan memarahi semua orang yang berada di dapur.


"Buat lagi, aku tidak ingin tuan Alexander marah," ucap Ketua pelayan.


Bella menaikkan sebelah alisnya, kemudian maju pada segumpulan pelayan itu.

__ADS_1


"Biar aku saja, aku yang akan mencoba buatkan kopi untuk tuan Alexander."


Bella pun melakukannya dengan hati-hati, ia melakukan resepnya seperti biasa, kesukaan sang ayah dengan penuh cinta. Kopi pun telah siap, Bella membawa secangkir kopi itu.


Ketua pelayan langsung menatap Bella, ia semakin ketakutan, Bella angkat bicara, tapi ia yakin, Bella tidak akan mengungkit siapa dirinya.


"Ini tuan."


Alexander, menghentikan jarinya yang memainkan ponselnya. Dia menaruh ponsel itu di atas meja kaca, beralih pada secangkir kopi. Sebelumnya, ia sudah memberikan peringatan pada Ketua pelayan, kalau kopi terakhir, tidak cocok di lidahnya semua pelayan harus di ganti. Inilah dia, Alexander, pria yang tidak bisa di ganggu gugat.


Srup


Ketua pelayan menatap kopi yang telah di seruput itu, kerongkongannya terasa kering. Peringatan itu bukan saja untuknya, tapi juga dirinya.


Tuan Alexander menaruh kopi itu kembali di atas meja. Sedangkan Bella, jantungnya cetar cetur, ia sangat cemas. Semua pelayan menaruh harapan padanya.


Tidak ada pujian atau penolakan, tuan Alexander hanya menatap sekilas wajah Bella dan kembali bermain ponselnya.


Hah


Ketua pelayan bernafas lega, ia selamat dan yang lainnya. Ia pun memberikan kode pada Bella untuk meninggalkan tuan Alexander.


"Tuan, saya pamit."


"Tunggu, siapa nama mu?"


Tubuh Bella langsung menegang, tubuhnya bergetar. Ia berharap pria di depannya, tidak tahu siapa dirinya.

__ADS_1


__ADS_2