Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#27 : Menyelidiki


__ADS_3

Tubuh Bella menegang, dia menunduk lekat. Sedangkan Ketua pelayan langsung berwajah pias, keringat semakin keluar di dahinya. Ruangan yang kini dingin, tak lagi dingin justru panas menekan.


"Siapa nama mu? saya tidak suka mengulang kata-kata dua kali."


Dada Bella terasa tercekat, untuk pertama kalinya ia di hadapkan pertanyaan oleh mertuanya yang tidak tau siapa dirinya.


"Be-bela," ucapnya terbata-bata.


"Bicaralah dengan tegas," ucapnya dengan tajam


Tubuh Bella semakin merinding. Ketua pelayan pun angkat bicara.


"Namanya Bella tuan, Bella Nafa Thalia."


Tuan Alexander menoleh, dia tidak suka ada yang ikut campur kalau ia berbicara.


"Siapa yang menyuruh mu berbicara dengan ku?"


Ketua Pelayan langsung duduk di lantai dan menunduk. "Maaf tuan," ucapnya.


Seorang pengawal pun di sampingnya mendekat. Seakan seperti magnet yang melekat dan paham dalam sekali tatapan saja. Bisa juga di bilang pengawal itu bukan pengawal biasa seperti cenayang yang mampu mengetahui apa isi majikannya.


"Tuan, saya akan melakukanya."

__ADS_1


Pengawal itu pun memegang salah satu lengan ketua pelayan. Dia membantunya bangkit.


"Maafkan saya tuan, saya tidak akan melakukannya," ucapnya sambil menangis. "Saya mohon tuan."


"Tuan tolong maafkan ketua pelayan, dia tidak sengaja. Mungkin dia tegang, biar saya saja yang menggantikannya, saya saja tuan," ucapnya Bella, ia takut terjadi sesuatu pada ketua pelayan.


Tuan Alexander menaikkan sebelah alisnya, baru kali ini ada yang menengah di saat ia menghukum pelayan. Ia tersenyum tipis, sangat tipis, bahkan semua orang pun tak menyadari kalau ia sedang tersenyum.


"Kau berani,"


Ketua pelayan memohon dan menggeleng, jangan membelanya. Ia tidak ingin wanita lemah dengan penuh kesedihan di setiap saat harus mengalami hukuman sepertinya.


"Saya siap menerima hukuman tuan," ucapnya tak lagi memberontak.


"Oh Tuhan .... "


Baru kali ini Ketua pelayan sangat merasa sesak di dadanya. Bella, wanita yang lemah menurutnya, tak pernah sedikit pun ia membela atau melindungi, tapi kali ini wanita itu malah membelanya. Walaupun tidak dengan tega, tapi ucapannya cukup membelanya dan melindunginya.


"Tuan, kasihan bibi," lirih Bella dengan tatapan mengiba dan memohon.


Deg


Tuan Alexander tertegun, bayangan wanita masa lalunya terlihat jelas di samping wanita yang memohon di depannya. Tatapan itu, wajahnya, seperti cetakan dari wanita masa lalunya.

__ADS_1


Tuan Alexander pun langsung membuang wajahnya. Dadanya begitu sesak, bertahun-tahun ia dalam bayangan wanita masa lalunya.


"Pergi! aku tidak ingin melihat siapa pun."


"Ayo!" pengawal itu menarik Ketua pelayan.


"Tunggu! bebaskan dia dari hukuman."


Ketua pelayan dan pengawal itu shok, pertama kalinya sang tuan melepaskan orang dari hukumannya, Tuan Alexander seperti bukan yang ia kenal. Bertahun-tahun pria itu begitu dingin tak tersentuh, lebih dingin dari putranya.


"Terimakasih tuan, terimakasih," ucap Bella. Dia langsung menghampiri ketua pelayan dan memapahnya, lalu berlalu pergi.


Tuan Alexander pun menoleh pada laki-laki di sampingnya.


"Apa tuan perlu sesuatu atau tuan ingin beristirahat?" tanya pengawal memakai kaca mata hitamnya.


"Tidak, aku ingin kau menyelidiki sesuatu. Selidiki semua tentang Bella, sekecil apa pun jangan sampai terlewatkan dan juga, bilang pada ketua pelayan dan seluruh pelayan di sini. Jangan ada yang menghubungi Jhonatan."


Tuan Alexander pun teringat perkataan putranya.


Aku akan mencari kekasih masa lalu mu, asalkan kau berjanji akan menjadikan ibu ku Ratunya. Aku akan membantu mu, tapi kau harus berjanji ini rahasia di antara kita


Iya, Jhonatan putranya telah mengetahui kisah masa lalunya bersama ibunya. Dia mengubur cintanya dan terpaksa harua meninggalkan kekasihnya. Ia benci pada dirinya sendiri, bukan suatu alasan dia membenci orang miskin, orang yang tidak mampu karena ia akan teringat masa lalunya, betapa kejamnya dia.

__ADS_1


__ADS_2