
Antara percaya dan tidak percaya, Jack meragukan ucapan sang bos, tapi ia berharap, apa yang di katakannya terbukti.
"Semoga saja tuan," ucap Jack.
"Ya sudah, aku lelah dan ingin beristirahat."
Jhonatan melenggang pergi. Meninggalkan Jack sendiri. Tepat di salah satu kamar dia menghentikan langkahnya. Dia pun menoleh ke arah pintu lainnya. Entah dorongan dari mana? dia kembali berbelok dan berhenti di pintu itu.
Jhonatan menggerakkan sebelah tangannya yang hendak meraih gagang pintu, perlahan dia memutar handle pintu itu dan suasana temaram dan angin berhembus masuk, harum aroma Vanilla menyeruak masuk ke dalam hidungnya, aroma yang selalu ia hirup saat bersama Bella.
Dia melangkah, kemudian menutup pintu itu dengan rapat, lalu melihat sekeliling ruangan itu. Dia menoleh ke arah ranjang, bayangan Bella saat ia mengikat janji dengan kata 'Sah' sepenuhnya Bella adalah istrinya. Namun, saat itu ia meninggalkannya, ia duduk di tepi ranjang, entah dari mana? bayangan Bella waktu menggunakan kebaya putih tersenyum ke arahnya.
"Hah!"
__ADS_1
Ia langsung beranjak dan mundur, wajahnya begitu terkejut dan bayangan itu langsung hilang seketika.
Jhonatan beralih menatap ke arah lemari, dia membuka lemari bercat putih itu. Kosong, tidak ada satu pun pakaian yang di sisakan Bella. Di membuka pintu lemari satunya dan kedua matanya langsung tertuju pada sebuah kebaya, parfum dan sebuah cincin.
Dada Jhonatan naik turun, dia mengambil kebaya putih itu, ia mengambil sebuah cincin yang ia belikan untuk Bella. Mahar yang Bella hanya sebuah cincin dan sudah membuat wanita itu bahagia.
"Ini ... "
Hatinya Jhonatan mendadak nyeri, kedua matanya berkaca-kaca. Dia melihat semua isi dalam lemari itu dan menemukan sebuah kotak, yang berisi sebuah kertas putih.
Untuk Jhonatan tersayang.
Em, aku tidak tahu harus memulainya dari mana? tapi satu hal yang ingin aku katakan, aku minta maaf. Aku minta maaf atas semua kesalahan ayah ku, iya, aku tahu, ayah ku lah yang membuat istri mu koma.
__ADS_1
Aku minta maaf, aku sangat minta maaf, tapi ketahuilah Jho, aku benar-benar mencintai mu. Tidak satu kata pun, aku tidak mencintai mu. Kau hadir dalam susah dan senang ku, kau yang membuat aku berhenti menangis dan menghapus air mata ku.
Kau menenangkan hati ku Jho, kau berhasil membuat ku mencintai mu. Saat aku tahu kebenarannya, ternyata kau hanya membalaskan dendam istri mu yang sedang koma, kau tahu, hati ku sakit Jho, tapi aku berusaha tenang, mungkin dengan membalasnya membuat hati tenang.
Tapi percayalah Jho, saat aku mengetahui kebenarannya, tidak ada satu kata pun aku tidak mencintai mu, namun terselip rasa benci. Kenapa kau melukai ku sedalam ini, Jho?
Kau tahu, satu hal yang membuat ku kecewa, ya mungkin karena rasa cinta mu yang sangat luar biasa dan cinta ku tidak bisa mengalahkan rasa cinta mu pada istrimu.
Kau beruntung, istri mu hidup, kau masih bisa melihatnya, menatapnya, menyapanya setiap pagi dan melihatnya tersenyum. Sedangkan aku, hidup ku hanya sebatang kara, ibu ku telah pergi dan kecelakaan itu merenggut nyawa satu-satunya keluarga ku. Aku tidak bisa melihatnya lagi, menemani harinya, aku tidak bisa melihatnya tertawa dan bahkan bersamanya. Jauh sakit mana ketimbang aku?
Aku atau kau yang lebih sakit Jho? Aku berharap setelah kepergian ku, kau bahagia Jho. Aku berharap, Tuhan tidak akan pernah membuat kita bertemu lagi, jika pun kita bertemu lagi, aku berharap, aku sudah melupakan semua tentang mu dengan begitu, aku tidak akan sakit lagi.
Dan satu lagi, kau menjadi seorang ayah*.
__ADS_1