
"Tuan, apa anda tidak terlalu kejam? tuan Jhonatan putra satu-satunya ... "
Tuan Alexander memberikan kode dengan sebelah tangannya. Dia menggeleng dan tidak butuh nasihat apa pun. Kesakitan masa lalunya yang membuatnya seperti ini.
"Dulu dia sangat pintar, saking pintarnya dia selalu bilang pada mommy nya, suatu saat nanti aku akan mencintainya dan melupakan masa lalunya. Jadi sekarang, aku ingin lihat seberapa besar kepintaran mulutnya. Tidak mencintai Bella, tapu aku ingin lihat seberapa besar penyesalannya. Kalau dia tidak memiliki keduanya, aku tidak peduli, yang jelas Bella dan cucu ku baik-baik saja," ucap tuan Alexander.
Setiap mengingat momen di mas lalu, selalu membuatnya sakit. Betapa ia selalu menahan diri demi putranya dan istrinya.
"Maaf tuan saya lancang."
Theo menunduk sebagai tanda pamit pergi dari tempat itu. Ia tidak paham dengan jalan pikiran sang tuan yang selalu berdebat dengan sang anak. Keduanya seakan tidak memiliki hubungan darah, padahal sangat jelas wajah keduanya bagaikan pinang di belah dua.
###
Di tempat lain.
Jhonatan memakan jus jeruk dengan lahap, beberapa kali dia menuangkan jus jeruk di teko itu ke gelasnya, bagaikan orang kehausan selama sebulan penuh.
"Honey, hati-hati," ucap Gladies. Tadi ia mencari di Google tentang kehamilan dan mendapatkan sebuah penjelasan kehamilan simpatik, yang di mana suaminya lah yang mengidam, tapi ia tidak akan berpikiran buruk dengan Jhonatan, selama menyelami pernikahannya, Jhonatan tidak pernah bermain di belakangnya. Ia yakin dan sangat mempercayai suaminya.
"Aku haus," ucap Jhonatan. Padahal sudah beberapa kali pria itu meneguk hingga tandas.
Gladies mengusap bahu Jhonatan, ia tersenyum lucu melihat suaminya yang seakan minuman itu takut di rebut oleh siapa pun.
Jack menatap tuannya dari dekat, ingin sekali ia memvidio sang bos yang seperti setan kehausan. Ini adalah momen yang paling langka untuknya, kapan lagi ia melihat sang bos yang bertingkah seperti anak-anak.
__ADS_1
Drt
Ponsel Jack berdering, dia melirik Jhonatan dan Gladies, kemudian pamit untuk menjauh.
"Hallo tuan," sapa Jack yang sudah menjauh dari sepasang suami dan istri itu.
Gelak tawa menegangkan di sebrang sana terdengar, membuat Jack di landa penasaran. "Bagaimana keadaan putra ku?" tanya tuan Alexander. Dia meneguk wine di tangannya kemudian menggoyangkannya. "Dia baik-baik saja?"
"Tuan sangat baik,"
"Syukurlah, aku merasa dia tidak baik-baik saja setelah mainannya hilang, rupanya dia masih bisa bahagia," ucap tuan Alexander menyeringai licik.
"Apa maksud tuan? apa tuan tidak ingin tuan Jhonatan putra tuan baik-baik saja,"
Jack semakin di buat kesal, entah terbuat dari apa hati sang tuan yang selalu mencari gara-gara dengan bosnya.
"Nyonya di sana pasti sedih,"
"Dia sedih, tapi dia bahagia di masa hidupnya."
"Seharusnya tuan lebih mengutamakan anak dan istri tuan dari pada masa lalu tuan."
Cess
Gelas di tangannya langsung hancur, darah segar mengalir deras di telapak tangannya. Bukannya sakit, tuan Alexander malah meremas pecahan gelas itu. "Kau tau apa? kau tidak tau ceritanya awalnya, kau hanya seorang bawahan yang hanya mendengarkan sekilas saja dari putra brengsek ku itu, dia hanya menebar janji, tapi tidak mampu menepati."
__ADS_1
"Tuan, kami sudah berusaha mencari nyonya, kekasih masa lalu tuan, tapi kami belum menemukan apa pun."
Bagaimana kalian menemukannya, sedangkan dia ...
"Aku hanya titip salam pada putra ku itu, kapan dia akan memberikan aku seorang cucu?"
Tuan Alexander memutuskan panggilannya. Dia menaruh benda pipih itu dengan kasar di atas meja kerjanya. Lalu melihat darah yang semakin keluar dengan deras.
Jack kembali, dia mendekati Jhonatan dan Gladies. Dengan wajah ragu-ragu dia mengatakannya.
"Tuan,"
"Tuan Alexander menghubungi saya,"
Seketika Jhonatan tersedak, apa ia tidak salah dengar? Daddynya menghubungi Jack, seumur hidup baru pertama kalinya Jack di hubungi oleh Daddynya, ia berpikir tidak sederhana itu.
"Apa yang dia katakan?"
"Tuan, tuan mengatakan, kapan tuan dan nyonya akan memberikan cucu?"
Gladies tersenyum, dia bersorak riang. Artinya, sang ayah mertua telah merestuinya. Gladies langsung memeluk Jhonatan yang mematung, sedangkan pria itu seakan mendapatkan sebuah sindiran, ia merasa ada sesuatu.
"Jho, artinya Daddy sudah menerima ku."
Jhonatan tersenyum dengan penuh ragu, dia tidak tega mengatakan hal yang mengganjal di hatinya. "I-iya, mungkin begitu."
__ADS_1