Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#90 : Kau tidak ingin memberikan kesempatan?


__ADS_3

Sedangkan Dominic, dia mengantarkan Bella dan kedua anak angkatnya. Dia pun mengecup kedua pipi anak angkatnya itu sambil tersenyum.


"Kau tidak mau masuk?" tanya Bella.


Dominic berdiri, dia tersenyum dan menggeleng lemah. "Aku pulang," ucapnya dengan suara tertahankan. Dia belum kuat menatap wajah Bella. Apa lagi yang bisa ia lakukan? ia merasa tubuhnya tidak akan bertahan lama berada di hadapan Bella.


Kekuatannya melemah, pikirannya yang awalnya sempurna kini hancur lebur, dia seakan tidak memiliki kekuatan lagi. Apa lagi melihat kedua mata Bella yang memerah, ia pikir wanita itu masih menyimpan cinta untuk suaminya.


"Dominic,"


Dominic menghentikan langkahnya, dia pun menunduk dan memilih tidak melihat ke belakang, lalu melanjutkan langkahnya.


Dia melewati tuan Alexander begitu saja, pria itu pun tak pernah menghentikan pandangannya sampai mobil hitam itu keluar dari pekarangan rumahnya.


"Sudahlah, Dominic pasti lelah." Ucap tuan Alexander. Dia menggendong Velli yang mengulurkan kedua tangannya padanya.


"Vello gendong Mommy ya sayang," ucap Bella dengan gemas.


"Bella, setelah kamu menidurkan mereka. Daddy ingin bicara dengan mu," ucap tuan Alexander.


Bella mengangguk, tuan Alexander pun mengikuti Bella ke ruang makan. Dengan bantuan Bibi, kedua anaknya pun makan dengan lahap dan setelah makan siang, bibi dan Bella mengantarkan mereka ke kamar yang telah di khususkan untuk mereka.

__ADS_1


"Sudah tidur,"


"Vello dan Velli pasti lelah Dad, makanya mereka cepat tidur."


Tuan Alexander menuruni anak tangga dengan di ekori Bella. Mereka duduk di ruang tamu sambil berhadapan. "Bella, apa kau tidak berniat memberikan Jhonatan kesempatan?"


"Aku bisa memberikannya kesempatan, tapi tolong pikirkan perasaan Vello dan Vello, sekaligus aku Dad, aku tidak bisa berbagi, Vello dan Velli pasti menanyakan, ada apa dengan hubungan rumah tangga orang tuanya? aku rasa mereka sudah mengerti."


"Semua anak pasti menginginkan kehidupan yang sempurna, bersama dengan kedua orang tua mereka, tapi aku tidak ingin merampas milik orang lain," ucap Bella. Ia menggigit bibir bawahnya agar tangisannya tidak tumpah.


"Kau berhak terhadap Jhonatan dan juga anak-anak mu, mereka berhak."


"Lalu kau mau seperti apa? membiarkan Jhonatan dengan Gladies? dia sudah menyesalinya," ucap tuan Alexander. Ia sangat ingin Bella dan Jhonatan kembali bersama, tapi melihat tatapan ketegasan Bella. Wanita di depannya seakan sudah menutup mata sampai mati.


"Aku tahu, aku tahu dia menyesalinya. Aku ingin memberikan dia kesempatan, tapi aku tidak ingin menyakiti Gladies. Cukup aku Dad, cukup aku."


"Kenapa kau masih sebaik ini? dia belum tentu menerima anak-anak mu."


"Anak-anak ku tidak butuh pengakuannya Dad, apa lagi Jhonatan.. Daddy seharusnya mengetahuinya, bagaimana perasaan seorang ibu ketika anaknya di tolak pada saat belum dia lahir? apa Daddy akan membiarkannya? tapi demi anak-anak, aku merelakannya dengan Jhonatan."


"Bella, apa kamu tidak mencintainya?"

__ADS_1


"Aku membencinya Dad, cinta itu telah terkikis dengan kebencian. Maaf Dad, aku lancang."


"Dan aku memikirkan perasaan Dominic,"


Tuan Alexander pun menghentikan perkataannya. Tapi mendengarkan suasana hati Bella yang belum tenang. Ia tidak berani menanyakannya lebih jauh. Apa lagi Bella sekarang memberikan kesempatan untuk Dominic? ia merasa harus melepaskan perjuangan putranya, ia tidak bisa membantu apa pun kecuali Vello dan Velli, jika putranya ingin menjadi ayah yang baik untuk mereka.


"Aku tidak akan melarang kalau dia ingin bertemu dengan anak-anak. Aku lelah Dad,"


Bella pun pamit pergi, dia sengaja menghindari pertanyaan beruntun dari mertuanya, karena ia belum mampu untuk menjawab semuanya.


"Bella tunggu, kau sudah mencintai Dominic."


Bella menegak wajahnya dan tersenyum. "Tidak ada salahnya memberikan dia kesempatan Dad, dia tidak terlalu buruk."


"Jangan di paksakan kalau kau memang tidak bisa menerimanya."


Bella tersenyum tipis, antara di paksakan atau tidak. Hidupnya tidak adil kalau ia memaksa masuk ke dalam lingkaran orang lain. Lebih baik ia menerima Dominic dari pada harus menghancurkan pernikahan Gladies.


"Bella ... Sebagai seorang ayah, dia tidak ingin melihat putrinya menderita. Dia ingin putrinya bahagia. Kau putri ku satu-satunya Bella. Aku tidak pernah ingin mengekang mu dan mengatur mu, tapi sebagai seorang ayah, aku ingin memberikan yang terbaik. Di sini aku tidak membela Jhonatan, tapi aku mengikuti hati ku. Berikan Jhonatan kesempatan, kalau hati mu masih sama, masih sakit. Aku tidak melarang mu bersama Dominic."


"Kalau aku memberi kesempatan, siapa yang akan di sakiti Dad? Aku pernah merasakan sakitnya, lalu sekarang Gladies. Terlepas dia perempuan baik-baik atau tidak, itu tugas Jhonatan dia yang memilih sendiri dan sudah tanggung jawabnya. Sekalipun Jhonatan menceraikan Gladies, wanita itu tidak akan mau dan aku juga tidak mau. Tolong mengertilah Dad posisi ku."

__ADS_1


__ADS_2