
"Austin," sapa tuan Alexander. Dia duduk di sofa sambil membaca koran, ia sengaja menunggu kedatangan Austin dan Justin. Bocah berumur 7 tahun itu selalu saja girang, tidak pernah terbesit di wajahnya rasa kecewa dan sedih, padahal dia hanya hidup bersama seorang ayah, seharusnya dia menanyakan ibunya. Mungkin bocah itu mengerti, ibunya sudah pergi meninggalkannya.
"Kakek!" teriak Austin. Dia meronta meminta turun dari gendongan Theo dan berlari kecil menuju ke arah tuan Alexander.
Cup
Bocah itu selalu mencium pipi kanannya, sebagai tanda rasa sayangnya.
Tuan Alexander mengangkat tubuh Austin agar duduk di pangkuannya. "Bagaimana sekolah mu? apa lancar?"
Austin mengangguk dan tersenyum, hingga gigi hitam kecoklatan itu terpampang jelas pada senyumannya.
"Iya, aku berjanji akan menjadi anak yang rajin Kek, suatu saat nanti aku akan membahagiakan Daddy, kakek selalu berkata begitu kan."
Tuan Alexander mengangguk, "Suatu saat kamu harus menjaga adik mu."
"Apa nanti aku punya adik?" tanya Austin.
Justin yang mendengarkan celoteh Austin pun merasa kesal, bisa-bisanya wanita itu bahagia di atas penderitaan Austin.
"Emm," Austin berpikir keras dengan jari telunjuk yang menekan pipi tembemnya. "Aku tidak mau adik laki-laki Kek, aku mau adik perempuan."
"Kalau kakek, ingin adik laki-laki dan perempuan."
"Itu adil, kakek punya cucu laki-laki dan aku punya adik perempuan."
Tuan Alexander pun mencium pipi gemol Austin, ia merasa gemas dengan bocah itu. Ia tidak sabar menunggu di mana ia akan melihat cucu pertamanya.
__ADS_1
"Ha .. Ha .. Ha .. Kakek Geli!" terik Austin. Dia merasa geli dengan kumis sang kakek dan janggut kecilnya.
"Austin, kamu main dulu dengan om Theo, kakek ingin bicara dengan Daddy."
"Oh baiklah," ucap Austin. Tanpa pikir panjang ia langsung turun dari pangkuan tuan Alexander, lalu menciumnya.
"Ayo Om!" ajaknya dan Theo pun memberikan hormat pada tuan Alexander.
"Tuan," sapa Justin memecahkan keheningan. "Apa yang di maksud tuan adalah anak Gladies?"
Tuan Alexander pun tersenyum, "Apa kau masih menyimpan rasa?"
Justin menggeleng, ia tidak lagi menyimpan rasa pada mantan istrinya itu. Sekarang, ia merasa bahagia hanya hidup berdua dengan Austin, apa lagi ada tuan Alexander yang seperti sosok ayah baginya.
"Kau akan mengerti seperti apa brengseknya putra ku, aku akan. menceritakannya pada mu setelah ini dan akan mempertemukan mu dengan seseorang, aku harap kau bisa menjaganya, karena dia adalah calon penerus ku."
"Lebih tepatnya hanya alat balas dendam," ucap tuan Alexander. "Aku meminta maaf karena memaksa mu untuk datang, aku hanya ingin Jhonatan meminta maaf pada mu."
"Aku sudah memaafkannya dan memaafkan Gladies, tapi aku tidak mau berhubungan lagi dengan mereka."
Tuan Alexander menepuk pundak Justin. "Seandainya aku memiliki putra seperti mu, pasti aku lebih bangga."
Sedangkan Jack, dia mencuri-curi pandang, ia penasaran siapa yang tengah berbicara dengan tuan Alexander. Di lihat postur tubuhnya, bukanlah Dominic, ia semakin menerka-nerka.
"Jack," sapa Jhonatan.
Justin mengepalkan tangannya, ia sangat ingat suara yang telah membuat putranya dan juga dirinya hancur.
__ADS_1
"Iya tuan," jawab Jack.
Jhonatan pun turun dengan kemeja yang lusuh, rambut acak-acakan dan mata yang bengkak. Setelah pulang dari pesta, Jhonatan hanya duduk dan tak ingin menyentuh air atau pun makanan.
"Kau sudah datang, kemarilah," ujar tuan Alexander.
Jhonatan pun melangkah ke arah sang Daddy di ikuti Jack.
Pria itu mematung melihat siapa di depannya, sekalipun sang ayah telah mengatakannya, tapi ia merasa bersalah, mana kala ia mengingat masa lalunya, apa yang telah ia lakukan.
"Kau!"
"Aku minta maaf," ucap Jhonatan menunduk. Dia siap di pukul atau di tusuk sekalipun. Ia tidak akan melawan, karena ia sadar, hukuman ini terlalu berat untuknya.
"Heh," Justin tersenyum mengejek. "Aku sudah memaafkan mu, tapi bukan untuk mu, melainkan tuan Alexander, kata maaf itu aku terpaksa. Oh jangan berpikir, aku membenci mu karena Gladies, tapi ketahuilah, aku membenci mu karena kau merenggut kebahagiaan putra ku."
"Tuan!" seru Jack melihat Jhonatan yang menjatuhkan tubuhnya dan duduk di lantai. Tuan Alexander memberikan kode agar tidak ikut campur dengan urusan mereka, Jack pun yang paham melangkah mundur.
"Boleh aku memukul mu?" tanpa aba-aba, Justin membogem pipi Jhonatan hingga cairan merah dan kental itu keluar dari sudut bibirnya.
Buk
Lagi, Justin melampiaskan amarahnya. Ia sangat marah karena Jhonatan melakukan seenaknya saja pada kehidupan putranya.
"Hentikan!" teriak Gladies.
Gladies berlari, dia langsung memeluk Jhonatan tanpa tahu siapa yang tengah memukul suaminya.
__ADS_1
"Sungguh pasangan yang serasi."