Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#35 : Akan Menjadi Seorang Kakek


__ADS_3

Plak


Kenzia berbalik dan menampar Ningsih dengan keras. Tidak puas dengan satu tamparan, ia menamparnya lagi dan membuat beberapa orang yang menyaksikan di sana syok, sampai mereka tidak bisa menetralkan nafas mereka.


"Kau!" tunjuk Ningsih. Ia tidak terima di permalukan begitu oleh Bella. "Berani sekali kau menampar ku."


"Apa karena kau sudah berhasil merayu tuan Alexander dan sekarang kau menunjukkan keberanian mu?"


Ningsih memegang salah satu pipinya yang terasa panas, bola matanya seakan keluar, ia tidak terima di perlakukan seperti ini. Bahkan, ia di jadikan bahan lelucon, harga dirinya merasa di hina.


"Kau boleh mencaci maki aku, tapi tidak dengan orang tua ku."


"Apa?! perlakuan mu memang menunjukkan orang tua mu melakukannya? sifat mu cerminan orang tua mu."


Emosi Bella seakan meletus, dadanya bergetar karena amarahnya telah mencapai level ke atas.


"Jangan pernah bermimpi menjadi Cinderella, budak tetaplah budak."


"Wanita ... "


"Hentikan!" Ketua pelayan datang dengan wajah memerah. Kalau sesuatu terjadi pada Bella, nyawanya akan melayang. "Apa yang kau lakukan Ningsih?"


"Wanita murahan ini menampar ku?" Ningsih mengadu sambil menunjuk wajah Bella.


"Aku menamparnya karena dia menghina ku dan kedua orang tua ku."


"Kau memang pantas mendapatkannya, bukankah anak cerminan dari kedua orang tuanya."


Bella mengedipkan matanya, kepalanya terasa berkunang-kunang dan orang di sekelilingnya terasa berputar.

__ADS_1


"Kau .... "


Bruk


Ketua pelayan terkejut, ia belum menyelesaikan perkataannya dan melihat Bella jatuh pingsan ke lantai.


"Bella .... " Ketua pelayan menepuk pipi Bella dengan pelan. Ia takut terjadi sesuatu pada Bella. Ia pun mengangkat wajahnya menatap Ningsih.


"Kalau terjadi sesuatu pada nona Bella, aku sendiri yang akan memecat mu."


"Kalian cepat bantu aku membawa Bella ke kamarnya."


Kedua pelayan yang mengikut Ningsih itu pun membantu. Sedangkan Ningsih, tidak peduli. Bahkan dalam hatinya berdoa Bella sekalian saja mati.


Pelayan yang di suruh tuan Alexander pun berlalu dan berlari dengan kencang.


"Tuan ... tuan ... Bella, Bella pingsan."


Tuan Alexander pun mengikuti pelayan itu, keduanya tampak tergesa-gesa. Tuan Alexander pun menerobos masuk. Di sana Bella di baringkan dan ketua pelayan mendekatkan minyak kayu putih ke hidung Kenzia.


"Cepat panggil Dokter, kenapa masih bengong!" titah tuan Alexander menggema di ruangan itu. Ana dan Ani tampak khawatir, keduanya keluar dan menunggu di depan pintu.


Ketua pelayan pun segera menghubungi Dokter Frank. Dengan bibir gemetar dia berbicara terbata-bata. Tuan Alexander geram mendengarkan perkataan bibi Su. Dia merampas ponsel di tangannya.


"Frank cepat kesini, aku tunggu dalam waktu 15 menit."


Sontak saja pria di seberang sana seakan merasakan gunung api meletus. Tanpa berpikir panjang kali lebar, dia pun menyuruh beberapa Dokter untuk menggantikan jadwal operasinya.


Mendengarkan suaranya saja ia sudah tahu, siapa yang memanggilnya.

__ADS_1


"Tuan Alexander kenapa bisa ada di sana?"


......................


Tuan Alexander bagaikan orang linglung, ia sangat khawatir pada Kenzia. "Theo, cepat bawa Kenzia ke kamar utama."


"Baik tuan."


Theo menggendong tubuh lemas Bella keluar dari kamar yang berukuran kecil itu, dengan langkah kaki lebarnya, tak butuh waktu lama. Theo membaringkan tubuh Bella ke kamar sebelah, di samping kamar Jhonatan dan Gladies.


Tuan Alexander tampak cemas, ia takut terjadi sesuatu pada putri kekasih masa lalunya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu? ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri?


"Oh Tuhan .... Aku lalai menjaganya."


krek


"Tuan," sapa Frank. Jantungnya bagaikan Gendrang yang suap berperang.


"Cepat periksa dia."


Dengan cekatan Frank memeriksa Bella, mulai dari denyut nadi dan jantungnya. Walaupun ia penasaran reaksi tuan Alexander yang tak pernah ia lihat, seolah kelemahan tuan Alexander adalah Bella. Ia pikir, tuan Alexander sudah tau kalau Bella adalah menantunya dan akan menanyakannya nanti pada Jhonatan.


"Tuan, nyonya Bella hanya kelelahan dan stres, tidak baik untuk ibu hamil. Sebaiknya nyonya Bella di periksa ke Dokter Obgyn saja."


"Nyonya Bella tidak boleh stres tuan, akan sangat berpengaruh pada janin di dalam tubuhnya."


"Hah?!"


Tuan Alexander menjatuhkan rahangnya, bibirnya ingin ia gerakkan, namun sangat sulit menggerakkan.

__ADS_1


"Kau serius?"


"Iya tuan, selamat tuan." Frank menjulurkan tangannya, tanpa di suruh tuan Alexander menerima jabatan tangan Frank. "Sekali lagi selamat, tuan akan menjadi seorang kakek."


__ADS_2