
Ia tidak pernah berfikir, Bella seberani itu padanya. Seakan wanita itu terlihat biasa saja.
"Apa cintanya sudah berkurang pada ku?"
Jhonatan bertanya-tanya, benaknya bersalaweran, rentetan pertanyaan muncul di pikirannya. Ia mengelus dagunya yang telah di tumbuhi rambut halus, kasar. Namun, jakunnya membuat wajahnya terlihat tampan. "Tapi apa mungkin? tidak mungkin orang yang mencintai bisa melupakan secepat itu?"
"Sudahlah, aku tidak mau ambil pusing, yang penting Gladies telah sadar. Akhirnya aku bisa memilikinya."
Jhonatan tersenyum, ah, ia tidak sabar untuk bertemu dengan Gladies.
...****************...
Ke Esokan harinya, Jhonatan menyibukkan diri di ruang kerjanya. Pada akhirnya, ia memilih bekerja di rumah saja. Ia hanya menerima laporan dari Jack, sekertarisnya itu.
Keadaan Gladies, ia sudah mengetahuinya. Hanya saja, ia ingin bertemu. Tetapi, mengingat kondisi Bella. Hatinya terasa berat untuk meninggalkannya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!" titah Jhonatan. Dia memejamkan matanya dan sambil bersandar.
"Tuan," seru Jack. Dia membungkuk hormat, kemudian mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Villa di pulau X?" tanya Jhonatan. Sebuah pulau kecil yang ingin ia buatkan Villa untuk Gladies. Karena, istrinya menyukai udara pantai. Jauh sebelum terjadinya kecelakaan ia memang sudah membuatkan Villa sebagai kado di hari ulang tahun sang istri.
"Berjalan dengan lancar tuan? Apa tuan ingin meninjaunya?"
"Iya setelah aku tidak sibuk," ucap Jhonatan. Jack mengerutkan dahinya, sesibuk-sibuknya sang tuan, kalau sudah menyangkut sang nyonya, pasti tuannya akan meluangkan waktunya.
Jhonatan membuka matanya, lalu menatap Jack yang berdiri di depannya, hanya meja kerja di ruangan itu yang memisahkan jarak. "Aku ingin kau membeli sebuah pulau kecil."
"Hah?!"
Jack terlihat bingung, pulau mana lagi yang ingin di beli untuk sang tuan. Apa kadi untuk sang nyonya masih kurang?
"Apa tuan akan menghadiahkan kado untuk sang nyonya?" tanya Jack.
Jack diam, sang tuan telah menunjukkan ketidaksukaannya.
Sedangkan Jhonatan, ia berniat membawa Bella ke pulau itu. Dengan begitu, Bella tidak akan bisa lari darinya. Ia teringat, Bella memiliki sebuah mimpi, memiliki rumah di dekat hutan dan memelihara beberapa kucing.
Ia juga berniat akan membuatkan sebuah rumah dan sebuah rumah kucing, sesuai dengan keinginan Bella.
"Baik tuan,"
"Apa tuan berencana akan mengirimkan Nyonya Bella keluar negeri?" tebak Jack. Kalau bukan untuk istri pertama dari majikan berarti istri keduanya pikirnya.
"Iya!" jawab Jhonatan dengan entengnya.
__ADS_1
Deg
Kedua tangan Bella gemetar, ia tidak ingin di kurung. Apa lagi terkurung di sebuah pulau jauh dari keramaian orang. Ia tidak ingin hidup menyendiri.
Bella memutar tubuhnya, ia bergeser menyandarkan punggungnya di dindingnya.
Tadi pagi saat menyiram bunga di taman depan, ia melihat Jack, jadi berinsiatif untuk membawakan Jack teh hangat dan camilan pagi.
Ternyata, ia malah mendengarkan perbincangan mereka.
"Aku tidak mau," gumam Bella menggeleng. Ia memang mencintai Jhonatan, tapi kalau dirinya hanya menjadi peliharaannya ia tidak mau.
Bella mengintip sedikit, ia masih penasaran dengan arah pembicaraan kedua pria itu.
"Bagaimana kalau nyonya Bella hamil? apa tuan akan mengakuinya?" tanya Jack. Entahlah, ia begitu penasaran dengan nyonya mudanya. apa yang berkaitan dengan nyonya mudanya, langsung ia sampaikan.
"Apa maksud mu, Bella hamil?" Jhonatan tersenyum. Mana mungkin ia akan mengakui anak Bella, sedangkan ia hanya menginginkan anal dari istrinya, Gladies.
"Aku tidak menginginkannya."
Bella memejamkan matanya, air matanya langsung turun membela di pipinya. Hatinya remuk redam, entah sampai kapan ia harus bertahan? ingin pergi, namun melihat Jhonatan bukanlah orang biasa, seakan memiliki sebuah rahasia.
"Aku tidak akan mengakuinya dan Bella tidak akan hamil."
Jack mengangguk, entah karena balas dendam. Sang tuan buta akan hati nuraninya.
__ADS_1