
Bella menatap nanar punggung lebar dan kokoh itu. Di sanalah dia bersandar kesedihan dan kebahagiaan. Seorang istri tidak akan pernah mengantarkan suaminya bersama wanita lain. Seorang istri tidak akan sanggup melihat suaminya bermalam dengan wanita lain. tapi, ia bisa apa? ia hanya perlu waktu.
"Jho..."
Jhonatan menghentikan langkahnya. Panggilan itu selalu mampu menghentikan waktunya.
"Aku akan tetap mencintai mu Jho."
Deg
Hati Jhonatan terasa sesak. Dia tidak tahu dengan hatinya. Tidak biasanya hatinya sesak dan dadanya terasa panas.
Angelina menatap pada Bella dan Jhonatan. Ia selalu merasa Jhonatan telah terikat dengan Bella. "Honey, ayo!"
Angelina menyeret lengan Jhonatan. Bagaimana kalau kakaknya benar-benar terikat? bagaimana dengan Gladies? bagaimana dengan Bella?
"Kakak tidak boleh mencintainya," ucap Angelina. Matanya lurus ke depan tanpa melihat sang kakak.
Jhonatan, ia selalu menolak perasaan suka pada Bella. Hatinya, hanya milik Gladies.
__ADS_1
"Kadang aku kasihan padanya, dia begitu mencintai kakak. Kadang aku juga berfikir, apa kakak pantas untuknya? melihat semua kehidupan Kakak. Apa kakak pantas di cintai seorang wanita yang baik seperti Bella."
Jhonatan terdiam, dia suka membunuh. Saling membunuh adalah keahliannya. Dia tidak suka di usik.
"Tapi, aku membencinya karena membuat kakak ipar tidak sadar. Namun, aku tidak ingin menyalahkannya. Kecelakaan itu bukan karena dirinya, bukan keinginannya." lirih Angelina.
Dia yakin, cinta Bella untuk sang kakak begitu besar. Sehingga ia selalu memikirkan semua hal-hal yang berkaitan dengannya.
Mobil sport itu pun berhenti di salah satu hotel mewah. Angelina, wanita itu turun begitu saja. Sedangkan Jhonatan, pria itu kembali melajukan mobilnya.
Dia menuju markasnya. di sana ia bisa meluapkan semua amarahnya.
Pria itu memberikan hormat. Jhonatan masuk ke dalam ruangan jeruji besi. Ruangan pengap, tidak ada cahaya lampu hanya ada cahaya bulan di jendela kecil ruangan itu. Tidak ada tempat tidur, justru hanya tumpukan jerami.
Bau anyir darah pun selalu mewarnai ruangan itu. Seorang pria terkulai lemas. Jhonatan menendang perutnya sehingga membuatnya meringis kesakitan.
"Argh!!" Pria itu mengerang kesakitan. Tubuhnya terasa panas dan perih. Anak buah Jhonatan mencambuknya dan membuat tubuhnya di penuhi luka-luka.
Jhonatan berdiri, kedua tangannya di selipkan ke saku celananya. Kedua pengawal membantu pria lemah itu berdiri.
__ADS_1
"Heh! aku membenci mu Jhonatan! kau telah membuat orang tua ku meninggal !!!" teriaknya dengan penuh amarah. Kematian kedua orang tuanya tepat berada di depan matanya. Dia menyaksikan sendiri, tangan Jhonatan menembak kedua orang tuanya.
Jhonatan tersenyum sinis. Kedua orang tuanya bersalah karena telah berniat membunuhnya.
"Itu tidak sepadan apa yang mereka lakukan. Mereka membuat Gladies ku menangis."
Gladies, istrinya pernah menangisinya sewaktu dirinya berada di rumah sakit karena luka tembakan di bagian perutnya.
"Hanya wanita bodoh yang menangisi mu dan mencintai mu !!"
Bhuk
Jhonatan melayangkan pukulannya. Dia tidak suka ada yang mengatai istrinya.
"Mungkin saat ini kau tidak akan pernah merasakan kehilangan. Tapi, aku menyumpahi mu. Kau akan merasakan kehilangan seseorang yang mencintai mu. Kau akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan yang menyayangi kita dan kita juga menyayanginya. Kau akan merasakannya Jhonatan. Kau akan merasakan di mana orang itu tidak lagi menoleh pada mu. Kau akan merasakan kehilangan seseorang." Teriaknya, urat di lehernya pun hampir terputus. Dia mengeluarkan semua unek-unek di hatinya.
Dor
Pistol itu menancap tepat di dahi pria itu. Membuatnya tak lagi bernafas.
__ADS_1
Jhonatan membuang pistol kecil itu. Telinga dan hatiny terasa panas. Perkataan pria itu seakan membuat ketakutan di hatinya, tapi, ia seorang Jhonatan tidak akan merasakan takut. Jhonatan, tidak akan takut pada siapa pun.