Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#19 : Dari Pada Menyandang Status Nyonya


__ADS_3

Bella menapaki kakinya ke rumah utama. Dia menuju ke arah ruang tamu. Kedua matanya menangkap sosok seorang laki-laki tengah tidur di sofa dengan menggunakan bantal dan sebelah tangannya menutupi kedua matanya.


Masih mengenakan kemeja semalam, sepertinya dia menginap.


Ia menoleh ke arah lantai atas, Jhonatan belum keluar dari kamarnya. Ingin sekali ia melihat Jhonatan untuk yang terakhir kalinya. Meskipun ia berada di sini, Jhonatan tidak akan mungkin menemuinya. Dia akan sibuk dengan istri pertamanya.


"Bella?" sapa seorang wanita dari belakang.


"Ana,"


"Ngapain kamu di sini?" tanya Ani. Dia melirik arah sofa, lalu melihat ke lantai atas. "Tuan belum bangun,"


"Ya sudah aku keluar, aku mau menyiram bunga saja," ucap Bella.


Hah


Ana bingung, bukannya tadi malam hujan. Seharusnya kan tidak perlu di siram.


"Bel..."


Suara Ana berhenti, ia melihat sang tuan yang hendak menuruni anak tangga. Lalu menunduk lekat.


Jhonatan menoleh ke arah Bella, ia melihat punggung istrinya yang hampir menghilang. "Bella!"


Deg


Bella menghentikan langkahnya, ia terpaku di tempat. Suara yang begitu ia rindukan. Ia memutar tubuhnya dan melihat suaminya berada di tengah anak tangga. "Iya," sahutnya tersenyum.

__ADS_1


"Emmm...."


Jhonatan terlihat bingung, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mulutnya memanggil nama itu tanpa ia suruh.


"Kami siapkan keperluan ku, aku akan ke luar Negeri."


Bella mengangguk, Jhonatan melihat ke arah sofa. "Jack, bangun!"


Pria yang tertidur pulas itu pun langsung beranjak, dadanya bagaikan drum yang di pukul. "Iya tuan."


"Cepat bersiap-siap, aku tidak mau sampai telat."


Bella menghela nafas, sebegitu rindunya suaminya pada istrinya? ingin sekali ia melarang, tapi ia tidak memiliki hak apa pun.


Jhonatan menatap Bella yang menunduk itu, hatinya merasa firasat tak nyaman, namun ia menepis rasa ketidaknyamanan itu.


"Ikut aku," ucap Jhonatan.


Kakinya terasa berat untuk melangkah, namun ia terus memaksakannya. Tidak ada seorang wanita yang sanggup mengantarkan suaminya pada istrinya yang lain.


Tanpa Jhonatan sadari, dia memasuki kamarnya dengan Gladies. Bella yang berada di belakangnya, menghentikan kakinya yang hendak melangkah ke dalam.


"Tuan, apa boleh aku masuk?"


"Iya masuk saja."


Deg

__ADS_1


Jhonatan mengingat sesuatu, ia langsung membalikkan tubuhnya. Bella masih berdiri di depan pintu, ia baru sadar kalau yang ia masuki kamarnya dengan Gladies dan Bella telah ia larang untuk memasukinya.


"Aku akan mandi di kamar sebelah."


Bella menggeser tubuhnya, sudah ia duga. Ia akan tetap di larang memasuki area milik istrinya, padahal ia juga istrinya, ah iya, ia seorang istri yang tak di anggap.


"Apa perlu yang saya bantu tuan?"


"Bantu aku keramas," ucap Jhonatan. Entahlah, ia merasa ingin Bella yang membantunya mandi. Lagi pula Bella istrinya, wanita itu tidak akan berani menggodanya.


Blush


Wajah Bella bersemu merah, seumur hidup baru kali ini ia akan melihat tubuh suaminya. "Ta-tapi t-tuan.... "


"Heh, kau tidak akan berani menggoda ku. Lagi pula, tubuh ku tidak akan tergoda pada mu. Walaupun kau menyentuhnya," ejek Jhonatan.


Sabar Bella, ini bukan hanya sekali.


Bella mengangguk, air matanya siap tumpah. Namun, ia menahannya agar tidak membodohi dirinya. Jhonatan tidak akan kasihan, justru laki-laki itu akan tertawa puas melihatnya menangis.


"Kenapa diam, cepat lakukan. Kau pelayan ku, kan. Jadi lakukan dengan baik."


Jhonatan memutar kran di dinding dekat bathtub itu. Jhonatan dan Bella dan Jhonatan menunggu sampai air penuh di bak mandi itu.


Setelah bak mandi itu terisi penuh, dengan menggunakan Kardigan yang masih melekat di tubuhnya, ia masuk ke dalam bak mandi dan menyandarkan lehernya ke sisi bathtub.


Dengan sigap Bella mengambil shampo di sampingnya, memijat pelan kepala Jhonatan. Pria itu tersenyum, pijatan sang istri tidak buruk. Sehingga bisa menghilangkan rasa lelahnya.

__ADS_1


"Pelayanan mu tidak buruk, seharusnya kau melamar saja menjadi tukang pijat. Profesi itu bagus untuk mu, dari pada menyandang Nyonya Jhonatan." Ejek Jhonatan sambil menekan perkataannya.


__ADS_2