
"Honey, maaf aku harus kembali karena ada pekerjaan yang mendesak. Jack akan menemani mu," ucap Jhonatan dengan wajah sedihnya. Dia mengelus pipi Gladies dengan lembut.
Wanita itu pun tampak sedih, air mata mengalir dari pelupuk kedua matanya. "Aku tidak mau, aku mau ikut." Keukeh Gladies. Ia ingin bersama suaminya sepanjang hari dan sepanjang waktu.
"Honey, aku tidak ingin kamu kenapa-napa, luka mu baru sembuh, tubuh mu pun baru pulih. Aku berjanji secepatnya akan pulang."
"Tapi honey .... "
"Sayang, percayalah ini sementara."
Mau tidak mau Gladies memilih diam, dia bukan orang yang harus merepotkan suaminya sepanjang waktu. Suaminya memiliki dua waktu, bekerja dan untuknya.
"Maaf honey, aku selalu memaksa ucapan ku. Emm baiklah, tapi kamu berjanji akan secepatnya menemui ku."
Gladies berhambur ke dalam pelukan Jhonatan, dia memeluk erat dan menghirup dalam aroma tubuh suaminya. Entah berapa hari suaminya akan meninggalkannya?
"Sayang, bisakah malam ini kita menghabiskan waktu bersama." Gladies merindukan sentuhan suaminya. Dia ingin menghabiskan waktu bersama suaminya.
Jhonatan pum mengangguk, "Tidak akan melakukannya kapan pun. "
Jhonatan mencium bibir Gladies dengan rakus, ia mengabsen setiap detail mulut Gladies, ********** dan tangannya mengelus punggung Gladies. Menikmati balasan ciuman dari sang istri.
Tangan Gladies pun dengan cekatan membuka kemeja Jhonatan, lalu menurunkannya ke lantai. Jhonatan membawa tubuh Gladies ke dalam gendongannya, dia menaruh tubuh sang istri ke atas ranjang berukuran size itu.
Keduanya kembali memulai dengan ciuman panas, Jhonatan mencium setiap jengkal tubuh Gladies, keduanya terbuai dalam hasrat yang menggelora. Entah semenjak kapan? suara keduanya saling bersahutan, di bawah kukungan sang suami, Gladies merasakan kehangatan dan kenikmatan luar biasa.
Di bawah sana, Jhonatan memajukannya dengan cepat, nafasnya terengah-engah. Kedua tangannya memeluk leher Jhonatan menatap wajah suaminya.
__ADS_1
Begitupun Jhonatan, ia merindukan tubuh Gladies, kemelokan tubuhnya yang selalu membuatnya gusar dan panas.
"Jho ... "
Jhonatan tersenyum, ia kembali mencium bibir Gladies, mengikisnya dengan cepat. Kedua tangannya mencengkram dua gundukan itu, tubuh kekarnya bertambah semangat melihat wajah Bella.
"Jho .... "
"Iya, kau tidak bisa pergi dari ku. "
Gladies terbuai dalam api membara di tubuhnya. Ia semakin di buat gila oleh sentuhan dan sentuhan suaminya.
Kedua kakinya semakin ia naikkan, suaminya semakin mempercepat lajuannya, bahkan tidak sedikit pun jeda untuk menghentikannya atau memperlambatnya.
"Jho .... "
Dan Gladies merasakan rahimnya telah di penuhi oleh cairan kental itu. Dia merasakan seluruh tubuhnya lemas tak berdaya, seakan tak memiliki energi sedikit pun. Benar saja, suaminya membuatnya kehabisan energi.
Cup
Jhonatan membelai wajah Gladies, yang ia lihat bukan istrinya tapi melainkan wajah Bella.
"Aku tidak akan membuat mu pergi."
Samar-samar Gladies mendengarkan perkataan suaminya, matanya perlahan terpenjam dan tidak bisa terbuka, dengan senyuman ia berkata, "Aku tidak akan pernah pergi meninggalkan mu, Jhonatan."
Sebutan Jhonatan itu berhasil membuat kedua matanya terbuka lebar, ia segera beranjak dari tubuh sang istri, lalu duduk di pinggir ranjang, sebelah tangannya menggusar rambutnya yang telah basah.
__ADS_1
"Apa-apa an ini? jadi aku melakukannya bukan bersama Bella, oh sial?!"
Jhonatan mengambil kemeja dan celananya yang tergeletak di lantai dan langsung memakaikannya. Dia menatap tubuh lelah sang istri, kemudian menutupi seluruh tubuhnya.
"Maafkan aku, aku mengingatnya lagi. Seseorang yang tidak seharusnya aku ingat saat bersama mu," gumam Jhonatan. Dia membelai wajah lelah istrinya, kemudian mengecupnya.
Jhonatan keluar dengan rambut yang setengah basah, Jack pun datang menyambutnya dan mengerutkan keningnya. Ia menghela nafas panjang.
Tadi memikirkan nyonya Bella sekarang malah asik-asikan dengan nyonya Gladies, memang kalau punya bini dua gak akan puas kalau gak memikirkan dan mencumbu salah satunya.
Jhonatan menatap Jack yang hanyut dalam pikirannya. Pria itu mendengus, "Kau tidak mengejek ku, kan?" tanya Jhonatan, dia menendang kaki Jack dengan kasar dan membuat Jack merasakan denyutan nyeri.
"Tidak tuan," ucap Jack.
Huhu, siapa yang berani menjelekkan mu terang-terangan, aku hanya berani di dalam hati saja.
"Bagaimana? apa sudah ada kabar dari Ketua pelayan?"
Jack bingung, apa yang harus ia katakan. Salah satu mata-matanya mengatakan kalau Tuan besar, tuan Alexander berada di rumah sang bos.
"Tuan, tuan besar ada rumah tuan," ucap Jack dan membuat Jhonatan terbelalak.
Oh sial! dia belum memindahkan Bella.
"Bagaimana? apa Daddy sudah mengetahuinya?"
Jack menggeleng, "Tidak tuan, nyonya Bella merahasiakannya. Mungkin nyonya Bella tidak ingin tuan besar mengetahui hubungannya."
__ADS_1
Kenapa? kenapa dia melakukannya, bukan kah ini kesempatan untuknya?