
9 Bulan kemudian.
Dominic sangat menjaga Bella dengan baik, bahkan kandungannya pun kadang membuat hati Dominic tergerak, kini sebentar lagi dia akan melihat putranya lahir.
Selama 9 bulan ini, tuan Alexander dan Jhonatan serta Gladies ikut andil dalam menjaga kehamilan Bella. Kadang mereka menghubungi Bella sekedar menanyakannya dan Jhonatan untuk menjenguk Bella dia harus mengajak Gladies ikut bersamanya.
Meskipun tuan Alexander dan Jhonatan kadang menghindari Dominic, bukan lantaran karena benci, tapi rasa sakit hati pada mereka dan semua orang telah mengenal bahwa Velli dan Vello adalah putra Dominic yang di sembunyikan.
Semuanya pun tak mengungkitkannya lagi karena ingin menjaga perasaan Bella, dan wanita cantik itu kini menyulam sebuah nama di kaos merah putranya nanti.
Dia menatap sulaman itu atas nama suaminya, Dominic.
"Au,"
Bella menekan jarinya yang terkena jarum itu. Tiba-tiba perasaannya tidak enak. Dia pun perlahan berdiri dan menghubungi suaminya, namun tak di angkat. Ia mencoba kembali menghubungi suaminya dan beralih menghubungi Marvin.
"Semoga tidak terjadi apa-apa," ucapnya.
"Nyonya," sapa Marvin. Wajahnya di liputi rasa cemas. "Nyonya ikut dengan saya, tuan, tuan Dominic pingsan dan sekarang di larikan ke rumah sakit."
Tanpa sadar, ponsel yang ia genggam jatuh ke lantai. "Suami ku,"
Bella melangkah dengan cepat, walaupun ia merasa kesulitan dengan kandungannya yang sebentar lagi akan melahirkan.
"Marvin sebenarnya apa yang terjadi?"
"Nyonya akan tahu,"
Sejenak jantungnya seakan berhenti, dia tidak percaya kalau terjadi sesuatu pada Dominic. Dia percaya suaminya akan baik-baik saja, karena selama ini tidak terjadi apa-apa pada suaminya.
Bella langsung bergegas keluar, di ikuti Marvin yang berdiri di belakangnya. Marvin membawa Bella ke ruangan VVIP ruangan di mana Dominic di rawat.
"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?"
Marvin menunduk lekat saat kedua tatapan Pria itu menatap Bella. "Mari kita bicarakan di ruangan saya Nyonya."
****
Kedua bibirnya seakan tertutup rapat, tidak bisa di gerakkan. Dalam sekejap dunia yang telah ia bangun sekejap runtuh. Ia ingin tertawa, semuanya bagaikan mimpi. Baru beberapa bulan ia yakini pernikahannya baik-baik saja, tapi suaminya tidak baik-baik saja.
"Saya harap nyonya bersabar, saya sudah menyarankan tuan agar di operasi secepatnya. Tapi tuan menolak, ya meskipun keberhasilannya sangat kecil. Kanker otak stadium akhir ini, saya sebagai Dokter cukup terkesan. Tuan Dominic sudah bertahan sejauh ini."
Tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Bella, hanya rasa di hati yang menyakitkan dengan bukti air mata yang semakin deras. Jadi selama ini suaminya tidak baik-baik saja.
Jadi selama ini dia telah di bohongi dengan sangat sempurna. Pantas saja Dominic kadang merasakan pusing.
__ADS_1
"Maaf nyonya, saya terpaksa berbohong."
Bella mencoba berdiri, tubuhnya hampir limbung dengan sigap Marvin yang berdiri dengan air mata itu menahan tubuh sang nyonya. "Saya antar Nyonya."
Bella memasuki ruangan rawat inap suaminya. Di sana ia melihat pria itu sadar dan duduk sepertinya memang menunggunya atau menunggu Marvin.
Bella berjalan dengan kaki yang begitu dingin, seakan dia berjalan di atas es, namun hatinya merasa panas.
"Istri ku,"
Bella langsung memeluk Dominic, dia mencium pucuk kepala Dominic dengan air mata yang mengalir deras. Tubuhnya bergetar memeluk suaminya.
Dominic, pria itu pun menangis. Dia tidak tega melihat Bella yang menangis karena dirinya. "Jangan menangis," lirihnya.
"Kenapa kau membohongi ku? seharusnya kau mengatakannya." Bella menghapus air matanya dengan cepat. "Kau harus menjalani operasi,"
Bella meraih tangan Dominic di perutnya. "Dia akan segera hadir, kau harus melihatnya merangkak, berjalan kau berjanji akan menggantikan popoknya, kau berjanji akan menjaganya."
Dada Dominic terasa sesak, bagaimana bisa ia meninggalkan istrinya dan anak-anaknya sendiri. "Maaf sayang, tapi aku berjanji akan melihat dia lahir. Aku yang akan mengganti popoknya."
Pria itu tertawa di tengah-tengah air matanya yang mengalir. Ia pun segera menghapusnya. "Kau jangan khawatir, aku pasti kuat."
Tidak bisa yang ia katakan, kalau boleh memilih ia tidak ingin berpisah, tapi mungkin ini perpisahan termanis untuknya. "Terima kasih, aku sangat beruntung memiliki istri seperti mu."
Dominic langsung menggenggam tangan Bella yang terasa begitu dingin. "Kenapa dingin sekali? kau harus menjaga kesehatan mu."
Bella menarik tangannya, dia mundur selangkah. Dia menatap pria itu dengan tatapan yang sangat menyakitkan. "Kesehatan? kesehatan? kesehatan? aku muak mendengarkannya, kau selalu mengatakan itu dan sampai saat ini aku muak mendengarkannya. Kau menjaga kesehatan ku tapi kau tidak menjaga kesehatan mu, Dominic!" teriak Bella.
"Kau ... "
Bella membalikkan tubuhnya, dia menutup pintu ruangan itu dengan hati yang sangat pilu. Luka yang perlahan terobati, kini seakan hilang. Dia bertahan sejauh ini, tapi tidak ada yang ingin mempertahakannya.
Goresan ini lebih menyakitkan dalam hidupnya.
"Nyonya,"
Marvin membawa wanita itu duduk sambil menatap lurus ke depan, air mata itu terus mengalir layaknya air hujan yang tak ingin berhenti.
"Kau juga ikut andil?"
"Maafkan saya nyonya,"
"Jadi alasannya ke luar negeri seperti ini?"
Marvin menunduk, hatinya nyonya nya hancur, begitu pun dirinya.
__ADS_1
"Tuan Dominic sudah melakukan yang terbaik, dia melakukan pengobatan, tapi akhirnya seperti ini, tuan tidak pernah menyerah." Pria yang berdiri dengan jas mahal itu kini bergetar, kesedihannya mengalahkan kekuatannya.
"Nyonya harus kuat, demi tuan."
Pria itu melekukkan kedua kakinya dan menunduk di depan Bella. "Saya mohon nyonya harus kuat, demi putranya nyonya. Ketahuilah nyonya, inilah yang tuan takutkan. Dia tidak ingin meninggalkan nyonya, meninggalkan putranya belum lahir. Dia ingin memberikan keluarga yang utuh."
Marvin menguatkan hatinya untuk melanjutkan perkataannya. "Nyonya adalah alasan kekuatannya selama ini."
"Rasanya menyakitkan Marvin."
*****
Author mohon maaf sebesar-besarnya ya🙏, ada beberapa readers yang ingin Dominic bahagia bersama Bella dan mungkin sampai di sinilah kisahnya.
Kak kenapa Dominic bikin mati?
Dia hanya pemeran pendukung kak, bukan mc cwoknya?
Biarkan Jhonatan sama Gladies bahagia begitu pun Dominic?
Gak sesuai ama judulnya kakak sayang, kalau bertema kayak gitu lebih enak judulnya tentang balas dendam istri.
Alah, sama saja donk kayak novel lain. Di sakiti malah balik lagi?
Ini hanya cerita kakak sayang, kan author bilang, judulnya gak sesuai. Cuman bedanya ya dikit, Author itu sukanya memberikan kesempatan kedua sama seperti lika liku kehidupan author, dengan harapan kesempatan kedua itu tidak akan di sia-siakan.
Nah gini, kalau suka silahkan teruskan baca, jangan lupa tunggu kelanjutannya. Kalau kakak gak suka, gpp kok kakak sayang. Karena manusia itu pasti bedalah ya, gak semuanya pasti suka.
Mohon maaf sebesar-besarnya, ini hanyalah cerita saja🙏🙏🙏
__ADS_1