
Bella menarik nafas dalamnya, ia menahan nafasnya sebentar agar menghilangkan sedikit rasa sakit di hatinya.
Tok
Tok
Tok
Kedua pria itu sontak terkejut, keduanya langsung menoleh ke arah pintu.
"Apa saya boleh masuk?" tanya Bella. Ia sedikit menyubulkan kepalanya ke pintu yang terbuka itu.
Wajah Jhonatan berubah langsung suram. Satu tetes keringat, berhasil ia keluarkan.
Semenjak kapan dia di sana batin Jhonatan.
"Nyonya,"
Jack memberikan hormat, bagaimanapun juga. Bella telah menjadi nyonya mudanya. Walaupun statusnya sebagai istri siri.
"Aku membawakan ini untuk mu," ucap Bella. Dia menaruh teh itu di depan Jack dan Jhonatan. "Tadi aku melihat mu, jadi aku berinsiatif untuk membuatnya."
"Terimakasih Nyonya, anda tidak perlu repot-repot," ucap Jack dengan sopan.
"Jangan terlalu sungkan, aku bukan Nyonya mu. Anggap saja, kita seorang teman."
Jack tampak malu-malu, ia di sambut dengan senyuman oleh Bella. Selama ini melayani Gladies sebagai seorang nyonya, wanita itu seperti biasa pada umunya, seorang majikan dan pembantu.
Jhonatan memasang ekspresi yang sulit di artikan, matanya panas melihat interaksi keduanya. Jack, pria yang tak pernah tersenyum. Kini tersenyum pada istrinya.
Dan Bella, wanita itu selalu ramah, ia tidak suka dengan keramahannya. Dia memperlakukan Jack, sama dengan perlakuannya dulu sewaktu bertemu dengannya.
"Jack, kalau tidak ada sesuatu lagi. Kau boleh keluar,"
Jack menoleh, ia tak mengerti ekspresi wajah sang atasan mendadak mengeluarkan aura membunuh.
"Di minum dulu, Jack, tehnya."
Bella menyanggah, Jack begitu baik padanya. Sudah sepatutnya ia membalas kebaikannya.
__ADS_1
Jhonatan mengepalkan tangannya. "Jack cepat pulanglah, kalau nanti aku butuh. Aku pasti memanggil mu."
Bella diam, ia tidak menjawab dan tersenyum pada Jack.
Pria itu buru-buru mengambil secangkir gelas teh di depannya, meneguknya hingga tandas tanpa tersisa. Dia pun memberikan hormat sebelum kepergiannya.
"Saya pamit tuan dan nyonya."
Setelah kepergian Jack, suasana menjadi canggung. Tidak ada yang ingin di bahas, Bella mengambil cangkir gelas teh itu, menaruhnya di atas nampan.
Melihat tehnya tidak di cicipi oleh Jhonatan, ia pun mengambil teh itu, kemudian menaruhnya di atas nakas.
"Siapa yang menyuruh mu untuk mengambilnya?"
Hendak memberikan hormat layaknya seorang pembantu, Bella mengurungkan niatnya.
"Siapa yang menyuruh mu mengambil teh itu? taruh kembali!"
"Saya kira tuan tidak menginginkannya." Bella menaruh teh itu ke tempat semula, lalu, memberikan hormat dan melangkah pergi.
Jhonatan semakin kesal, Bella mengabaikannya. Tepat di depan pintu, Jhonatan menarik tangan Bella, hingga, masuk ke dalam lagi. Kemudian menutup pintu ruang kerja itu dengan keras dan kasar, tak lupa dia menguncinya.
Dia hendak keluar, namun, Jhonatan memegang lengannya, sedangkan satu tangannya masih memegang sebuah nampan. Dengan kasar, Jhonatan menepis nampan itu dan membuat suara di lantai. Pecahan beling pun berserakah di lantai putih itu.
"Jho... !"
Nada suara Bella meninggi, ia tidak suka Jhonatan berbuat semena-mena padanya.
"Aku suka kau memanggil aku Jho, sebut aku dengan Jho.."
Bella menunduk lekat. "Maafkan saya tuan."
Brak
Jhonatan memukul pintu di belakang Bella. Tangannya terkepal kuat, seakan membuat pintu itu langsung runtuh. Wanita di depannya kembali memanggilnya dengan sebutan asing.
Jhonatan tidak terima, ia merasa di abaikan. Ia mengambil tindakan untuk membuat Bella sedikit jera, ia menarik lengan Bella dan wanita itu setengah berlari mengikuti langkahnya yang lebar.
Jhonatan menghempaskan tubuh Bella ke sofa, lalu, menekan sebuah tombol di sofa itu, sehingga membentuk sebuah kasur.
__ADS_1
"Tuan..."
Jhonatan benci dengan kata tuan, ia membuka pakaiannya, melemparkannya ke segala arah. Kemudian menindih tubuh Bella, mengambil ciumannya dengan rakus.
Bella meronta, tentu saja kekuatan wanita kalah dengan kekuatan laki-laki.
"Jho..."
Akhirnya Jhonatan melepaskan ciumannya dan memberikan Bella jeda. "Lepaskan aku Jho.."
"Patuhlah, kau istri ku. Seharusnya sudah melayani ku. Di depan Jack, kau tersenyum, berani merayunya, bukan?"
srek
Jhonatan menarik pakaian Bella, pakaian itu pen terbelah dan memperlihatkan kedua gunung kembar di balik renda berwarna pink itu.
"Jho! hentikan!"
Melihat gundukan sintal, bulan dan besar itu. Adik kecil Jhonatan menegang, terasa sesak di dalam celananya. Setiap mencium Bella, adik juniornya itu selalu terpincu ingin keluar dan menumpahkannya.
Jhonatan kembali mencium Bella, kedua tangannya mengikat kedua tangan Bella, sedangkan kedua kakinya, mengunci pa,ha Bella, sehingga tubuh wanita itu tak mampu berkutik.
Ciuman Jhonatan mulai panas, munafik kalau Bella tidak menikmatinya, kenyataannya, tubuhnya meminta lebih pada pria di atasnya. Ia hanya memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya agar tidak mendesah.
"Lepaskan suara mu Bella, aku suka dengan suara ******* mu."
Jhonatan tersenyum, ia tidak peduli. Bella begitu gemulai. Tentu saja ia akan melakukannya lebih.
Jhonatan kembali mencium Bella, lidahnya menari di dalam mulut Bella, puas dengan kenikmatan ciuman itu.
Ia menurunkan ciumannya, beralih pada bukit sintal itu.
Jhonatan menarik kain renda itu ke atas, kemudian mengecupnya dan bermain dengan lihai.
Umm
Tubuh Bella bergerilya kepanasan, Jhonatan tersenyum puas. Bella menikmatinya.
"Kau menikmatinya."
__ADS_1
Jhonatan melanjutkan aksinya, dia menarik kain berenda di bawah itu, memperlihatkan mulut goa adik kecilnya.