
"Berarti, ibu mu sangat peduli pada mu. Sedangkan aku, tidak ada yang memperdulikan aku. Kau tahu, aku rasanya ingin mati saja."
Deg
Hati Bella bagaikan teriris pisau, melihat tuan Alexander yang begitu rapuh, ia baru tau, sifatnya yang di rumorkan kejam, bahkan ia juga melihatnya saat Ketua pelayan akan di hukum dan yang di rumorkan itu memang benar, tapi ada sesuatu di dalam kekejaman itu. Kesedihan yang mendalam.
Bella berjongkok, dia mengangkat wajahnya menatap pria di depannya. Wajahnya bagaikan pinang di belah dua, sama persis dengan wajah Jhonatan.
"Tuan tau, kadang aku berpikir juga begitu. Aku kadang ingin lenyap saja. Tapi mengingat wajah orang yang kita cintai, dia tidak akan setuju. Jika hidup, ia ingin di lihat, jika meninggal ia ingin di kenang dan di doakan."
"Kau ... kau mirip dengannya."
Tuan Alexander menunduk, menutup wajahnya. Hari ini ia bisa menangis sepuasnya. Ia ingin mengeluarkan tangisan hatinya yang terus membunuhnya.
Bella menatap dengan rasa iba, air matanya menggenang. Ia berjongkok dan memeluk tuan Alexander, betapa rapuhnya pria tegas ini di depannya.
"Keluarkan, keluarkan semua kesedihan tuan."
Tuan Alexander pun menangis sejadi-jadinya di pelukan Bella. Dia mengeluarkan unek-uneknya di hatinya yang setiap saat menumpuk.
Tak jauh dari keduanya, ada beberapa pelayan yang tidak suka termasuk Ningsih, wanita itu mencebik.
"Setelah anaknya, baru bapaknya yang di goda, dasar wanita murahan."
Mendengarkan ejekan Ningsih pelayan lainnya pun menambahi.
"Mungkin karena tuan Jhonatan tidak suka, akhirnya merayu ayah tuan Jhonatan. Dia memang modusa, dasar ular betina."
"Iya, aku bersyukur tuan Jhonatan tidak menyukai wanita murahan seperti dia."
"Sebaiknya kita harus beri dia pelajaran agar tidak merayu tuan besar dan tuan Jhonatan," ucap Ningsih. Ia ingin menyingkirkan Bella dari rumah ini agar tidak ada yang mengusik majikannya.
Sedangkan di tempat lain.
Jhonatan terus bergelung manja dengan istrinya, kesehatan sang istrinya pun telah membaik sempurna, bisa di katakan sudah sembuh hanya luka yang belum hilang sepenuhnya walaupun sudah mengering.
"Honey, aku mencintai mu." Ucap Gladies, wanita itu mengecup singkat bibir Jhonatan.
__ADS_1
Jhonatan, pria itu menatap dengan senyuman lembut. Namun, akhir-akhir ini bayangan Gladies terlintas di benaknya. Wajah dan senyuman Bella memenuhi relung hatinya dan pikirannya.
Ada apa dengan kepala ku? kenapa aku hanya melihat Bella
Jhonatan menggelengkan kepalanya, dan membuat Gladies mengernyit bingung.
"Honey, kau kenapa? apa kepala mu sakit?" tanya Gladies sambil menatap bingung. Tangannya terulur menyentuh kening Jhonatan. Keningnya pun tidak panas.
"Tidak, aku kepikiran pekerjaan ku,"
"Maaf honey, karena aku, pekerjaan mu terbengkalai," sesal Gladies, ia amat menyesal. Padahal pekerjaan suaminya juga penting.
Jhonatan mengecup kedua tangan Gladies satu per satu, lalu memeluk. "Kau sangat berharga, jadi aku tetap akan mendahulukan mu dari pada pekerjaan ku."
"Terimakasih honey, aku mencintai mu."
Jhonatan tersenyum, namun sedetik kemudian senyuman itu hilang. Ia tidak bisa fokus karena teringat dengan Bella. Seperti apa dia di sana.
"Ya sudah, kau istirahatlah. Aku akan menemui Jack dan membicarakan masalah pekerjaan ku."
Gladies ******* bibir Jhonatan dan Jhonatan menerimanya dengan senang hati.
"Aku keluar dulu sayang."
Jhonatan mengecup kening Gladies, dia pun meninggalkan Gladies yang masih berdiri di depan jendela.
###
"Tuan," sapa Jack menunduk hormat.
Jhonatan duduk di ruang tamu dan menghadap ke arah Jack. Pria itu tampak gusar. Ia ragu menanyakan kabar Bella pada Jack dan takut di tertawai.
"Aku ingin tau bagaimana keadaan di rumah."
Satu kalimat membuat Jack kehilangan kata-kata. Semenjak kapan sang tuan ingin tahu keadaan di rumahnya? tidak akan ada yang berani menggusurnya atau memindahkannya bukan?
"Apa tuan ingin mengetahui kabar nyonya Bella?" tebak Jack.
__ADS_1
Jhonatan memalingkan wajahnya, jangan sampai Jack tahu isi pikiran dan hatinya. "Aku tidak memikirkannya, siapa yang memikirkannya?"
Salah, Jack bertanya tentang kabar, kenapa di jawab dengan pikirannya. Sepertinya ia mengetahui sesuatu, pikiran sang tuan berada di rumahnya, hanya tubuhnya saja yang berada di sini.
"Baik, saya akan bertanya pada ketua pelayan," ucap Jack.
Dia mengetik sesuatu dan mengubungi seseorang. Namun tidak di angkat, sudah beberapa kali dia menyambungkan panggilannya.
Aneh, kenapa tidak di jawab? apa terjadi sesuatu? batin Jack.
"Ada apa Jack?" tanya Jhonatan. Dia melihat Jack, kaki tangannya tiga kali melihat ke arah ponselnya.
"Tidak di angkat tuan."
Jhonatan menggeram kesal, bagaimana ia bisa tau keadaan di rumahnya kalau ketua pelayan itu tidak mengangkatnya.
"Brengsek! pecat saja wanita itu," ucap Jhonatan dengan suara dingin yang mampu membekukan pria di depannya.
"Apa di rumah terjadi sesuatu? ketua pelayan tidak mungkin berbuat seperti ini?" tebak Jack yang membuat Jhonatan langsung khawatir.
"Jack, hubungi lagi, tanyakan keadaan Bella."
Jhonatan kelepasan, ia begitu takut terjadi sesuatu pada istri mudanya itu.
Ternyata hati mu telah mendua Tuan batin Jack tersenyum mengejek.
Jack pun bingung, kalau ia memencet nomor pelayan lainnya atau yang di sebut orang yang mengawasi Bella, tentu saja ia akan ketahuan kalau diam-diam mengawasi majikan mudanya itu.
"Jack, aku akan terbang besok pagi. Kau jaga Gladies di sini."
"Tapi tuan .... "
"Kau berani melawan," ucap Jhonatan dengan mata tajamnya.
Jack mengangguk pasrah, padahal tidak tahu kejadian di rumahnya, tapi sang tuan sudah ketakutan setengah mati.
Apa posisi nyonya Gladies sudah tergeser?
__ADS_1