Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#22 : Bukan Nyonya, Hanya Budak


__ADS_3

"Ini untuk mu," ucap seorang salah satu pelayan. Dia memberikan dua tumpuk pakaian kotor.


"Ningsih, apa-apa kamu menyuruh Bella mengerjakannya," ucap Ana dengan sengit.


"Iya, itu tugas kamu," sarkas Ani tak terima.


Pelayan yang di sapa ningsih itu memutar kedua matanya dengan jengah pada ketiga wanita di depannya. Lalu, menyilangkan kedua tangannya dan mencibir. "Dia, bukan nyonya di sini. Kalau dia nyonya, sudah pasti tuan tidak akan menempatkan dia di kamar belakang."


"Ningsih, jaga omongan mu. Bella sudah menikah dengan tuan."


"Hallah .... " Ningsih melambaikan telapak tangannya dengan acuh. "Dia istri pajangan saja, nyonya di rumah ini itu bukan dia," tunjuk Ningsih dengan tajam.


"Sudah," lerai Bella. Semakin di teruskan, semakin membuatnya sakit. "Aku akan mencucinya."


"Biar aku saja, kau istirahat saja." Ucap Ani. Dia kasihan melihat Bella yang terus bersedih tidak ada hentinya.


"Biar aku juga,"


Ningsih menarik sebelah sudut bibirnya, mengejek. Dia memang tidak suka dengan Bella, ia selalu berpikir, kenapa bosnya bisa suka dengan wanita lusuh sepertinya, kalau dia ingat tidak sepadan dengan nyonya Gladies, nyonya yang selalu memanjakannya. Kemana pun ia akan ikut dengan Gladies, pernah Gladies membelikannya tas mewah, membuatnya sangat menempel pada sang nyonya.


"Kalau kamu tidak mau nyuci, sebaiknya kamu belanja ke supermarket, kalian juga jangan terlalu membelanya, dia itu bukan nyonya, tapi hanya budak." ketus Ningsih berlalu pergi.


"Anak itu, ingin sekali aku merobek bibirnya," ucap Ana.

__ADS_1


"Jangan di dengarkan perkataan dia Bella," ucap Ani menyela.


Bella mengangguk, ia sudah biasa. Penghinaan itu tak seberapa di banding dengan penghinaan Jhonatan. "Sudah Ani, Ana, biar aku saja. Lagi pula itu pakaian Jhonatan kan, biar aku saja yang membersihkannya, lagi pula aku istrinya, sudah kewajiban ku."


Ana dan Ani saling pandang, kedua tersenyum simpul.


"Aku akan membantu mu," ucap Ani.


"Sama, aku juga akan membantu." Sargah Ana.


Bella mengangguk, ketiga wanita itu pun pergi menuju tempat cucian.


###


Di tempat lain, di sebuah ruangan dengan setumpukan kertas di depannya, kedua matanya memicing, informasi kali ini benar-benar sangat ia sukai. Ia menatap foto kecil itu, jujur, wajahnya sangat cantik, hidungnya mancung dan bibirnya berwarna pink bagaikan bunga sakura yang baru mekar.


"Iya, tuan. Saya mendapatkan informasi ini dari salah satu pelayan di sana."


"Kau cukup cekatan," puji sang bos. Ia akui, cara kerja Asistennya itu tidak butuh lama menunggu. Baru beberapa hari sudah mendapatkan informasi pribadi Jhonatan.


"Menurut dari pelayan di sana, wanita itu belum tahu kalau tuan Jhonatan memiliki istri. Saya rasa, tuan Jhonatan ingin balas dendam karena ayah dari wanita itu membuat istri Jhonatan koma."


"Tapi, itu kan kecelakaan, bukan wanita ini yang salah," ucap pria jakung itu. Dia menunjuk foto kecil di kertas berwarna putih itu, tertera semua informasinya.

__ADS_1


Sang Asisten mengangguk, tumben sekali sang bos membela. Iya, ia anggap membela saja.


"Bella Nafa Thalia, cukup cantik. Aku menyukai nama itu."


Sebelah tangannya mengambil bolpoint di atas mejanya, lalu mengetukkan ke arah pipinya sambil menggoyangkan kursinya. "Kalau aku mengambilnya gimana? apa lagi aku tidak memiliki istri, Jhonatan tidak akan merasa kehilangan kalau aku mengambil salah satu istrinya."


"Ada kabar baiknya tuan, tuan Jhonatan sedang berada di Singapura."


Gelak tawa menghiasi ruangan itu, dia tersenyum licik. Kekasihnya meninggal gara-gara Jhonatan, jadi tidak ada salahnya kalau ia mengambil istri keduanya juga. Pertengkaran hebat antara dia dan Jhonatan, iya, pria berengsek itu membuat kekasihnya meninggal bunuh diri.


Flasback.


"Aku mau kita putus,"


"Tapi kenapa?" tanya Dominic, ia tidak mau putus.


"Aku mencintai Jhonatan."


Namun beberapa hari kemudian, terdengar kabar bahwa Jhonatan akan menikah dengan Gladies, dan membuat sang kekasih bunuh diri.


Kretek


Bolpoint yang ia pegang langsung patah menjadi dua. Apa kehebatan Jhonatan, pria Playboy yang mempermainkan banyak wanita, hanya dengan Gladies pria itu berhenti, namun ternyata permainannya pada wanita masih sama.

__ADS_1


"Tapi, wanita itu tidak mendapatkan cinta dari tuan Jhonatan, Tuan Jhonatan menyiksanya tuan dan di jadikan pelayan. Aku cukup kasihan saat pelayan itu bercerita, tapi wanita itu masih bertahan.


"Dia sama sekali tidak bisa menghargai wanita, pria sepertinya tidak pantas mendapatkan cinta yang tulus."


__ADS_2