
Perlahan adik kecilnya itu memasuki goa, bersemayam di goa hangat bergerigi itu.
Jhonatan kembali mencium bibir Bella dengan rakus, kembali melanjutkan percintaannya. Namun, di bawah sana ia goyangkan sebaik mungkin. Sehingga menimbulkan ******* merdu.
Iya, aku harap sebelum aku pergi. Aku berusaha menjadi istri yang baik untuk mu Jhonatan batin Bella sambil mengeluarkan air bening dari kedua sudut matanya.
Jhonatan memompa tubuh Bella dengan lembut, lidahnya bermain di kedua bukit are milik Bella. Layaknya anak kecil yang meminta jatahnya.
Jhonatan sedikit mengangkat pinggang Bella, kedua kaki Bella lurus di depan dadanya. Kedua tangannya pun dengan kuat menekan benda sintal itu. "Nikmat! ini sangat nikmat,"
"Nikmatilah, selagi kau bisa menikmati ku dengan puas," ucap Bella tersenyum miris.
Bella menikmati permainan itu, Jhonatan, pria itu merancau nama Bella tak karuan. Pada akhirnya pelepasan pertama pun terselesaikan.
"Anggap saja aku wanita simpanan mu, ja lang yang kau pungut dari pinggir jalan."
Dengan berani Bella mendorong tubuh Jhonatan. Kini dirinyalah yang mengambil alih. Jhonatan tersenyum puas, ia ingin melihat permainan Bella.
Bella mencium bibir Jhonatan, sedangkan sebelah tangannya bermain adik juniornya. Sehingga, membuat sang adik terbangun dan berdiri tegak.
Bella memberikan beberapa tanda kismark di dada Jhonatan, mencium kedua benda kecil di dadanya. Dengan lihai, lidahnya bermain di area Jhonatan.
__ADS_1
"Umm... Ah... Aku tidak kuat, cepat masukkan Bella. Uhm.... "
Jhonatan merasakan tubuhnya panas dingin, Bella tersenyum puas. Dia memasukkan junior itu ke miliknya dan mulai naik turun.
Kedua tangan Jhonatan meremas sofa itu, tanpa ia sadari kukunya membuat sofa itu robek. Ia tidak peduli, kenikmatan ini sungguh luar biasa.
Beberapa menit kemudian, cairan kental meluap di rahim Bella, kedua mata Jhonatan terpenjam. Sofa hitam terlihat basah karena keringat membanjiri tubuhnya.
Bella pun melepaskan ikatannya itu, dia membaringkan tubuhnya di samping Jhonatan. Keduanya polos tanpa selimut apa pun. Jhonatan, dia menoleh, menatap wajah Bella.
Jhonatan bergeser, ia memeluk Bella. Kemudian membenamkan kepalanya di leher Bella.
Bella mengecup pucuk kepala Jhonatan, mengelusnya rambutnya dan mengelus punggungnya. Ia melirik ke arah lantai, di raihnya kemeja Jhonatan untuk menutupi tubuh keduanya.
Aku berharap kamu bahagia Jho. Seandainya kamu tidak memiliki istri, aku pasti memperjuangkan cinta ku, Jho. Karena aku percaya sebuah penyesalan. Setiap manusia pasti ada rasa penyesalan dan aku percaya pada mu, Jho. Tetapi, saat ini berbeda. Kau memiliki istri, karena rasa cinta mu pada istri mu. Kau membalaskan dendamnya Jho. Beruntung sekali wanita yang menjadi istri mu.
Bella memejamkan matanya, tepat jam 4 sore. Kedua matanya terbuka, namun, tidak dengan seorang pria yang masih memeluknya. Dengkuran halus itu masih terdengar teratur.
Bella mengelus pipi dan dagunya.
Cup
__ADS_1
Sangat dalam dan lama, Bella mengeluarkan seluruh cintanya lewat dari kecupan keningnya. Dia menarik lengannya yang menjadi bantal kepala Jhonatan.
Perlahan turun, mengambil kemeja Jhonatan. Sedangkan Jhonatan, ia tutupi dengan celana hitamnya.
Dia keluar, menuju sebuah kamar, lalu mengambil selimut di lemari putih itu.
Bella membuka lipatan selimut itu, lalu menaruhnya di atas tubuh Jhonatan.
Semua pelayan melihat ke arahnya, mereka mulai berbisik-bisik. Tapi, Bella terus melangkah menganggap gunjingan itu angin lalu.
"Aku kasihan padanya, bagaimana kalau suatu saat Nyonya Gladies sembuh dan kembali. Aku pastikan dia akan di depan dari ini."
"Nyonya," sapa ketua pelayan.
Kedua pelayan yang sedang bergosip itu langsung pergi melihat kedua mata yang membara di mata ketua pelayan.
"Iya," sahut Bella.
Ketua pelayan menatap penampilan Bella dari bawah ke atas. Ia pun sadar, bahwa Bella telah menghabiskan waktu bersama sang tuan. Apa lagi tanda di lehernya.
"Apa nyonya butuh sesuatu?"
__ADS_1
"Tidak, aku mau ke kamar ku. O iya, kamu siapkan air hangat untuk Jho, jangan membangunkannya," ucap Bella.