
Di tempat lain.
Bella dan para pelayan lainnya membantunya memasak hidangan makan malam. Dengan cekatan, wanita itu menaruh bawah dan bumbu lainnya yang telah ia tumbuk.
"Nyonya, biar aku saja," ucap Ketua pelayan.
Dia merasa tak enak hati, bagaimana pun juga Bella adalah majikan mereka terlepas di akui atau tidak. Dalam sejarah di kediaman ini, tidak ada sang nyonya yang akan pergi ke dapur. Sang nyonya hanya perlu melayani suaminya dan memanjakan dirinya.
"Ini tugas kami," imbuh ketua pelayan. Ini hanya hukuman bukan berarti sang nyonya telah terlepas dari statusnya yang menjadi istri kedua dari sang tuan.
"Aku sama dengan kalian, aku seorang pelayan."
"Tapi nyonya adalah istri dari tuan."
Deg
Tangan yang memegang spatula itu berhenti, seorang istri pasti akan mendapatkan cinta dari suaminya, tapi apa dirinya? ia tidak mendapatkan cinta. Ini hanya status, status yang hanya ingin mengurungnya.
"Sudahlah,"
Ketua pelayan meremas pakaiannya, ia mengigit bibir bawahnya karena salah bicara. "Nyonya.."
"Sudah matang, aku ke belakang dulu," ucapnya.
Ketua pelayan menatap punggung yang perlahan menjauh itu. Dia merasa iba pada gadis yang seumuran dengan anaknya. Anaknya saja masih menjalani kuliah menggapai cita-citanya, sedangkan majikannya harus menjadi istri hanya untuk di permainkan.
Aku harap tuan berubah, setidaknya masih ada kebaikan di hatinya.
Bella duduk di kursi putih dekat kolam ikan. Suasana malam itu begitu menenangkan, semilir angin menyapanya, menerpa wajahnya, menggelitiki leher putihnya.
"Aku merindukan mu, Ayah. Aku ingin ikut dengan mu."
__ADS_1
Bella menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menutupi wajahnya yang telah basah itu. Ia ingin berteriak dan mengatakan bahwa ia telah lelah.
###
"Dimana dia?" tanya Jhonatan. Seorang pelayan laki-laki menarik kursi untuk Jhonatan. Sedangkan Jack melihat ke arah ketua pelayan. Seakan mengerti apa yang di tanyakan oleh sang tuan.
"Nyonya Bella ke belakang tuan,"
"Panggil dia, aku ingin di layani oleh dia." Titah Jhonatan, dia menatap menu hidangan malam ini.
Tap
Tap
Tap
"Saya permisi tuan." Ketua pelayan menunduk hormat setelah membawa Bella kehadapan Jhonatan.
"Tuan ingin makan apa?" tanya Bella. Dia tak mampu mengangkat wajahnya, setiap melihat wajah Jhonatan hatinya berdenyut nyeri.
Jack menatap sepasang suami istri di depannya, ia menggeleng lemah. Semuanya salah, ia ingin mengatakan semuanya salah dan tidak boleh di lanjutkan.
Seharusnya dia sudah tau, aku berbicara sangat keras. Kenapa dia masih tinggal di sini? kenapa tidak meminta ku untuk membawanya pergi? batin Jack.
"Apa saja," ucap Jhonatan. "Jack duduklah, ikutlah makan malam."
Bella mengambil beberapa hidangan, dia menaruh menjadi satu di piring putih itu. "Ini tuan,"
Seporsi makanan itu pun ada di depan Jhonatan. Laki-laki itu mulai memakannya.
"Tuan Jack, kau ingin makan apa?" tanya Bella.
__ADS_1
Jhonatan menghentikan mulutnya yang sedang mengunyah itu. Hatinya tidak suka Bella melayani Jack. Bella hanya pembantunya, pelayannya bukan pelayan atau pembantu orang lain.
"Kau bisa mengambil sendiri kan, Jack." Jhonatan memasang wajah datar dan dingin.
"Iya tuan," ucap Jack. "Ikutlah makan dengan kami, Nyonya."
"Tidak, aku sudah kenyang."
Jhonatan semakin panas, ia meletakkan sendoknya dengan kasar. "Jangan perdulikan dia, dia akan makan sisa makanan ku."
Sedangkan Bella, ia menunduk semakin lekat. Air matanya jatuh ke lantai. Menatap kedua kakinya yang menggunakan sandal jepit itu.
brak
"Ini, makanlah. Habiskan sisa makanan ku," ucap Jhonatan dan langsung pergi. Dia mulai tak bernafsu, ia tidak suka Bella memperhatikan pria lain saat berada di depannya. Meninggalkan Jack dan Bella yang masih ada di ruang makan itu.
Bella sedikit mengangkat wajahnya, dia menatap separuh nasi dan masih ada sisa sayur yang di makan oleh suaminya itu.
"Nyonya, tidak perlu memakannya. Nyonya bisa mengambil yang lain."
"Tidak, Jack. Dia akan marah kalau tahu aku mengambil makanan yang lain. Sudahlah, tidak apa-apa. Aku bisa memakannya, lagi pula dia suami ku."
Deg
Jack mendengarkan perkataan sang nyonya tidak kuasa, ia tidak bisa menahan air matanya. Ia berlalu tanpa menghabiskan makan malamnya.
"Hah..."
Bella duduk di kursi di sampingnya, ia mengambil piring itu, mulai menyendok nasi. Air matanya mengalir, bibirnya bergetar, tapi, ia tetap melanjutkan suapan demi suapan itu.
Apa aku katakan saja pada tuan besar? tanya Jack. Ia yakin, tuan besarnya belum tahu apa pun.
__ADS_1