
Marvin menahan gejolak di perutnya, hampir saja ia lepas kendali menertawai sang bos, belum apa-apa sudah di tolak.
Sedangkan Theo, dia malah memandang ke arah lain, setidaknya ia bisa memamerkan giginya walau hanya sebentar dengan menghadap ke dinding.
"Pfutf ... "
Salah satu dari mereka membuka suara dan Dominic menatap kesal ke asal suara itu. Dia kembali menatap tuan Alexander yang tengah memeriksa dokumennya.
"Om, tidak bisa begini donk," protes Dominic. "Om harus melihat usaha ku dulu," pikirnya, tersinggung.
"Begini saja Om, bagaimana kalau Om tawarkan dulu ke Bella?" tawar Dominic, seumur hidup ia tidak pernah yang namanya di tolak, justru wanita yang akan tergila-gila padanya, termasuk istrinya itu. Jika dulu, istri dan keluarganya yang ia bawakan hadiah seperti ini, senengnya sudah luar biasa. Ia lupa, kalau yang ia hadapi Alexander, pemilik perusaan AE Compony Grup, perusahaan terbesar se Asia. Perusahaannya, masih di bawah perusahaan AE Compony, selama bertahun-tahun, perusahannya dan perusahaan Jhonatan terus bersaing.
"Dia tidak butuh berlian seperti itu, Bella orang yang sederhana."
Dominic mendengus kesal, kalau saja Bella tidak ada di tangannya, ia tidak akan patuh.
"O iya, aku penasaran dalam satu hal. Kenapa kamu menginginkan Bella? apa karena dendam?"
"Sudah berapa kali aku bilang Om, aku tidak ingin balas dendam. Apa tampang ku seperti orang pendendam?"
__ADS_1
"Tentu, kau mendatangi Jhonatan dan menarik perhatian Bella hanya ingin mendapatkan mainannya kan."
Tuan Alexander membuka laci di sampingnya, ia mengambil sesuatu dari dalam laci itu.
"Siapa yang ingin balas dendam pada Bella, aku tidak ingin ... "
Dominic terkejut, kedua matanya terbuka lebar menatap sebuah benda yang dalam sekejap bisa menembus kepalanya.
Marvin dan satu Bodyguard di sampingnya juga mengeluarkan pistolnya dan menyodongkannya ke arah tuan Alexander. Sama saja dengan Theo, dia langsung menyodorkan pistolnya ke arah Dominic.
"Om, aku tidak ... "
Dominic memberikan kode pada bawahannya untuk menurunkan senjatanya, sedangkan Theo dan tuan Alexander masih menyodongkan pistolnya.
"Aku bersumpah, aku tidak berniat balas dendam. Aku jujur saja, aku awalnya ingin merebut sebagai tanda balas dendam."
Pistol tuan Alexander semakin mendekat ke dahi Dominic.
"Tapi aku bersumpah, aku berubah dan tidak ingin menyakiti Bella. Aku ingin membahagiakannya,"
__ADS_1
"Atas dasar apa kamu bisa membahagiakannya, huh? tampang mu yang tidak meyakinkan itu, tidak bisa di percayai dan aku sama sekali tidak akan memberikan Bella pada mu, termasuk putra ku."
Seandainya bukan menyangkut Bella, dia tidak akan takut sama sekali dengan pistol di depannya.
"Berikan aku kesempatan, anggap saja ini cinta pertama."
"Cinta pertama? kenapa tidak sekalian cinta monyet?" ejek tuan Alexander. "Kau sudah pernah beristri, mana mungkin ada cinta pertama, sama dengan Jhonatan, tidak ada yang namanya cinta pertama, menjijikkan.
"Berikan aku kesempatan, Om. Aku akan buktikan, bahwa aku lebih baik dari Jhonatan."
Tuan Alexander menurunkan pistolnya, dia suka dengan kegigihan Dominic, tapi ia tidak akan tertipu begitu saja.
"Bagaimana Om?"
"Baik, aku akan mempertemukan mu dengan Bella, tapi hati-hati, jangan sampai Jhonatan tau dan kalau kamu berniat yang tidak-tidak, aku tidak akan melepaskan mu sampai kau mati sekalipun."
Dominic mengangguk, ia harus memikirkan bagaimana menyenangkan Bella dan membuat Bella nyaman berada di dekatnya.
Bella mungkin butuh waktu dan seorang teman, aku ingin ada yang menjaganya. Dominic bisa di percayai, karena aku yakin dengan masa lalunya yang sangat mencintai istrinya. Jika anak ku tidak bisa membuat Bella menjadi Ratu, maka aku akan membiarkan orang lain yang menjadikannya seorang Ratu.
__ADS_1