Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#Dominic, kenapa dia tega?


__ADS_3

Gladies memaksakan semuanya tertawa untuk mencairkan suasana itu. "Benar apa yang di katakan suami ku, sepertinya dia sangat menyukai mu."


Gladies menatap Jhonatan, pria itu pun salah tingkah mengingat perbuatannya kali ini.


"Iya, Baby Adam sangat menyukai Mommy Bella, huh. Dia mau ambil Mommy nya Velli dan Vello," ucap Austin yang membuat semua orang tertawa.


Akhirnya ada sesuatu yang membuatnya tertawa, suasana ruangan itu pun mendadak hangat kembali.


***


Bella dengan cekatan mengganti popok baby Adam. Ada rasa senang di hatinya, ia jadi tidak sabar Baby nya di lahirkan.


"Kau bahagia?" tanya Gladies. Dia sangat memperhatikan penampilan Bella, jauh dari kata baik, lebih tepatnya sangat baik. Bella sangat menampakkan senyuman di wajahnya. Jelas terlihat tak lagi ada beban.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


Gladies tersenyum, dia pun menerawang jauh. Sudah setahun dia bersama Jhonatan, tapi hatinya masih terikat nama Bella. Ia pun tidak mengerti, akankah selamanya seperti ini?


"Dia masih terikat dengan mu Bella,"


Bella mengerti arah pembicaraan Gladies, dia pun melanjutkan aktivitasnya, mengganti celana baby Adam, kemudian menggendongnya.


"Dia terikat dengan mu."


"Dan aku tidak terikat dengannya." Sambar Bella, dia langsung menghentikan ucapan Gladies.


"Kau benar, aku kalah."


"Di sini tidak ada yang kalah dan menang Gla, aku tidak pernah ingin bersaing dengan mu. Aku juga salah karena telah menyakiti mu, andai aku tahu Jhonatan sudah memiliki istri. Aku tidak akan melakukannya."


"Aku tau, kau wanita yang baik. Terimakasih karena pernah mencintai Jhonatan."


Gladies menggenggam tangan Bella, dia pun ingin memantapkan hatinya. Ia tidak kuat seperti ini terus. Memaksa Jhonatan untuk mencintai dan menerima kehadiran dirinya, sama saja menyakitinya.


****


"Bagaimana keadaan mu? Daddy ingin mengatakan baik, tapi yang Daddy lihat kau tidak terlihat baik. Kau bisa membohongi semua orang, tapi tidak dengan Daddy mu, Nak."


Tuan Alexander duduk di samping Jhonatan, kini mereka berada di kamar tuan Alexander.


"Apa Daddy melihatnya seperti itu?"


"Terimalah Gladies, jangan seperti ini. Dia sudah menyesalinya. Publik juga belum tahu siapa Bella dan Vello serta Velli."


"Tapi aku tidak mau, jika publik hanya tahu Vello dan Velli putri dari Dominic. Aku ingin publik juga tahu kalau aku ayahnya Dad. Aku tidak peduli masalah publik menjelekkan nama ku, tapi aku,"


"Jhonatan, hah. Daddy mohon mengertilah, ini demi kebaikan mu. Sampai sekarang Daddy belum mengonfirmasikan semuanya, bukan karena Daddy tidak mau, tapi Daddy memikirkan semuanya. Nama baik Bella, dirimu, Gladies dan Dominic. Bukannya Daddy hanya memikirkan satu sisi."


Tuan Alexander berkali-kali menarik nafas dalamnya. Ia ingin putranya mengerti, mereka masih kecil. Jauh dari kata aman, walaupun mereka siap siaga menjaga mereka.

__ADS_1


"Aku rasa Vello lebih berhak membawa perusahaan mu dan perusahaan ku, biar Velli yang merintisnya. Sekarang pun Dominic sudah memiliki anak, jadi aku rasa. Sudah waktunya memberikan mereka hak warisan. Umur ku juga tidak muda lagi, satu harapan ku, kau bahagia."


Jhonatan meneguhkan hatinya agar tidak membuat air matanya terjatuh. "Aku ingin melupakannya, tapi aku tidak bisa. Kenapa sangat tersiksa, setiap saat, setiap hari, setiap waktu aku ingin menerima Gladies. Aku mencoba membuka hati ku Dad, bahkan aku ingin tertawa pada hati ku sendiri." Keluh Jhonatan. Benar, dia memang tidur berpisah. Tapi percayalah, kadang ia berpikir kasihan pada Gladies dan mencoba menerimanya, tapi ia tidak bisa.


"Jadi ini yang Daddy rasakan bertahun-tahun, andai aku peka." Sesalnya. Andai saja ia memasuki hati Daddynya, ia pasti tidak akan mengabaikan hati sang Daddy.


"Sudahlah, semuanya sudah berlalu."


"Jangan sampai Dominic tahu, kalau dia tahu, maka akan jadi bumerang untuk kalian berdua. Dominic juga berhak pada Vello dan Velli, karena Bella istrinya."


Jhonatan mengangguk, dia memang tidak menceritakan pada siapa pun. Anggap saja ini adalah hukuman untuknya.


Sedangkan Dominic mendengarkan semua keluh kesan Jhonatan, sahabatnya. Dia pun berbalik, niat hati dia ingin mengobrol dengan mereka. Namun sayang, waktunya sepertinya tidak tepat.


Dia pun menuju ruang kerjanya, menatap sebuah dokumen. Sudah ia duga akan seperti ini. Dia pun membuka dokumen itu dan tersenyum.


Daddy, aku ingin melamar kerja di perusahaan Daddy, jadi aku membuat gambar saja ya. Gambar aku, kakak, Daddy dan Mommy. Jadi terima aku kalau aku berkerja di tempat Daddy.


Dominic terkekeh sendiri, tingkah anak itu membuatnya selalu ingin tertawa. Dia pun mengusap lembar satunya.


krek


Dominic pun menyusun kembali kertas demi kertas itu dan menatap Jhonatan yang menghampirinya.


"Dominic, aku minta ijin menjemput Vello dan Velli, Justin juga ingin ikut."


"Jhonatan, kau berhak pada Velli dan Vello. Kenapa harus meminta ijin pada ku? kau lucu sekali," ucap Dominic. Dia pun berdiri dan menepuk bahu Jhonatan. Ada rasa penyesalan di hatinya, melihat gigihnya Jhonatan pada Bella. Kalau seandainya dia dulu menyerah. Mungkin sahabatnya ini akan bahagia dan menebus segala hutangnya pada Bella dan si Kembar. Tapi ia menghalanginya, meyakinkan Bella untuk bersamanya dan melupakan Jhonatan.


"O iya, aku tidak akan menginap di sini."


"Menginaplah di sini, ini permintaan sebagai sahabat mu sekaligus permintaan sebagai seorang Daddy si Kembar," ucap Dominic.


Dia rasa, si Kembar sangat merindukan ayahnya. Jadi ia tidak berpikir untuk memisahkan mereka. "Kita juga harus membahas pesta ulang tahun mereka."


Jhonatan memeluk Dominic. "Terimakasih Dom,"


***


Waktu terus bergulir, Jhonatan dan Gladies menginap di rumah Dominic, sesuai permintaan Dominic dan pada akhirnya, pesta yang di tunggu-tunggu telah tiba.


Dominic memakai jas hitam serta Bella yang memakai gaun putih, setengah rambutnya di gulung dan setengahnya lagi di biarkan tergerai. Keduanya menjadi pusat perhatian publik. Pernikahannya dulu tidak semeriah ini, karena dulu permintaan Bella yang menginginkan pernikahan secara sederhana.


Bisik-bisik para kolega pun terjadi.


"Apa dia istri tuan Dominic? cantik sekali?"


"Tapi aku tidak pernah mendengarkan tuan Dominic menikah?"


"Hah, lebih cantik istri mudanya sekarang dari pada istri tuan Dominic yang pertamanya."

__ADS_1


"Tapi katanya tuan Dominic sudah memiliki anak."


"Aku tidak percaya, pasti dia janda."


Bisik-bisik para pria yang merasa iri pun kini di ganti dengan bisiknya para wanita.


"Bagaimana caranya dia merayu tuan Dominic? aku tidak percaya?"


"Dia lebih cantik dari pada dirimu, ya pantas tuan Dominic menyukainya."


"Kau!"


Perhatian mereka pun beralih pada Jhonatan dan Gladies serta tuan Alexander, pria yang tidak pernah suka pesta. Kini mereka hadir membawa beribu pertanyaan.


"Aku tidak percaya, melihat dua malaikat yang sangat tampan."


"Coba lihat, dia tuan Alexander dan membawa duan anak."


"Aih, tuan Jhonatan juga sudah memiliki anak."


"Tapi kabarnya dia mengadopsi anak, karena nyonya Gladies tidak bisa hamil."


"Mandul maksudnya, kasihan sekali. Tanpa kaya raya tapi tidak bisa memiliki keturunan."


"Kalau aku jadi tuan Jhonatan aku akan menikah lagi,"


"Sapa tahu tuan Jhonatan membuka lowongan, aku mau jadi selirnya dan memberikan anak."


"Ish, mimpi sekali."


Ting


Ting


Ting


Dominic memukul sebuah gelas dengan sebuah sendok. Hingga semua perhatian kini tertuju padanya.


"Hadirin semuanya, terimakasih karena sudah datang di acara ulang tahun kedua anak ku. Perkenalkan, aku rasa tidak perlu memperkenalkan diriku, kalian juga sudah tahu siapa aku, tapi satu hal yang perlu kalian tahu. Dia istri ku Bella, wanita yang sangat aku cintai dan sekarang tengah mengandung anak ku."


Dominic merangkul pinggang Bella dan membuat wanita itu bersemu merah.


"Dan kedua anak ini, adalah anak ku. Maaf aku merahasiakannya pada kalian. Mereka adalah putra dan putri ku yang paling aku cintai dan sayangi."


Jhonatan mengepalkan kedua tangannya, sekarang ia benar-benar kalah. Namanya tidak akan di ungkit.


"Dia putra dan putri kandung ku yang selama ini aku sembunyikan, ah maaf aku bukan menyembunyikannya, tapi istri ku tidak ingin ada yang tahu siapa mereka termasuk dirinya. Istri ku memang sangat sederhana dan aku sangat mencintainya."


Dominic mencium kening Bella dan wanita itu pun tersenyum, dia melirik Jhonatan yang sepertinya tidak suka dengan perkataan Dominic tadi.

__ADS_1


"Dominic, kenapa dia tega?" gumam Gladies.


__ADS_2