
Tiga hari telah berlalu, tubuh Bella perlahan membaik. Bibi Mira dan satu pelayan yang khusus memantau kondisi Bella, dengan siap siaga keduanya menemani dan menjalankan tugas keperluan Bella. Dominic sangat tegas memerintahkan mereka untuk memantau keinginan dan kebutuhan Bella, mereka harus berada di samping Bella selama 24 jam.
Sama seperti hari ini, setelah Bella selesai mandi. Bibi Mira pun masuk, dia membawakan teh hangat dan segelas susu. Dia sengaja tidak menanyakannya dan membiarkan sang nyonya memilih salah satunya atau tidak sama sekali.
"Nyonya,"
"Ah, terimakasih Bi."
"Bagaimana keadaan tubuh nyonya?" tanya Bibi Mira seraya menaruh susu dan teh hangat itu di atas nakas.
"Sudah membaik Bi, o iya dimana baby Gio?" tanya Bella. Dominic memberikan namanya Giordan Abello Abastom.
" Tuan Jhonatan dan tuan Dominic sedang berada di kamar tuan muda Nyonya. Pasti mereka sedang membersihkan tubuh tuan muda."
Bella menganga, bukannya pasrah, tapi ia takut terjadi sesuatu. Dengan entengnya kedua pria itu malah memandikan anaknya yang baru lahir. Ia tidak bisa begitu memasrahkan putranya pada dua pria itu. Bagaimana kalau mereka terlalu kaku?
"Kemana Baby Sitternya yang lain?" tanya Bella. Ada dua Baby Sitter yang di tugaskan oleh Dominic menjaga anaknya.
"Tuan Dominic dan Tuan Jhonatan bersikeras untuk memandikan tuan muda."
"Apa?!" pekik Bella. Dia pun melangkah pergi ke kamar putranya itu.
***
__ADS_1
Bella memperlambat dan memelankan langkahnya. Dia pun mengintip di depan pintu dan melihat kedua pria yang sedang mengurusi buah hatinya. Bayi gembulnya terlihat tenang saat kedua pria itu berada di depannya. Kedua mata jernihnya seolah mengabsen kedua wajah pria di depannya.
Dominic menuangkan penghangat tubuh putranya, lalu bedaknya.. Di pun mencium putranya dengan gemas di bagian dadanya, aroma bayi menyeruak memasuki hidungnya.
"Jangan cium-cium, nanti dia ketularan bau mu," ucap Jhonatan.
Sedangkan kedua Baby Sitter berdiri tegak mengawasi kedua pria itu, kadang mereka menahan tawa karena kedua pria yang tak pernah berhenti berdebat.
"Kau, aku masih wangi Jhonatan," ketus Dominic. Mana ada larangan seorang ayah mencium putranya, sekalipun ayahnya bau.
"Hey, kau tahu berapa banyak sabun yang ku habiskan untuk anak ku."
"Tentu saja aku tahu, kau memborong perlengkapan bayi seakan rumah ku adalah toko bayi,"
"Sombong sekali kau, kau tidak tahu siapa aku."
"Sudahlah, lanjutkan, aku ingin melihat sendiri kau bisa mengganti popok baby Gio tidak," ucap Jhonatan menantang Dominic.
Dominic berdecak kesal, dia pun membuka popok yang terlipat itu, kemudian menaruhnya di atas kasur lalu memindahkan tubuh Baby Gio, belum sempat Dominic menutupi burung Baby Gio, ternyata bayi kecil dan imut itu malah meluncurkan serangan indahnya dan tepat mengani dahi Dominic. Pria itu memejamkan kedua matanya, merasakan aliran hangat yang mengenai wajahnya.
Pfuf
Jhonatan menunjuk wajah Dominic yang telah di basihi pipis baby Gio, sedangkan sebelah tangannya memegangi perutnya. Dia tertawa terbahak-bahak, perutnya seakan di gelitiki. Dia melihat wajah muram Dominic.
__ADS_1
"Rasakan!" ledek Jhonatan. Ia merasa puas melihat Dominic yang di berikan jurus andalan putranya.
"Kau!"
"Sudahlah, minggir, biar aku saja yang membersihkannya. Sebaiknya kau membersihkan wajah jelek mu itu," ucap Jhonatan sedikit mendorong tubuh Dominic kesamping.
Jhonatan dengan telaten membersihkan cairan hangat itu. Dia dengan cekatan dan hati-hati membantu baby Gio memakaikan bajunya. Dua hari ini dia memperhatikan sangat teliti dan meminta di ajarkan oleh kedua baby sitternya.
Bella perlahan melangkah saat suaminya memasuki kamar mandi Baby Gio. Hatinya tak karuan melihat dua pria yang saat ini menyaksikan putranya di jaga oleh mantan suaminya dan suaminya, bahkan saling menjaga. Dulu Dominic sangat menjaga
Selang beberapa saat Dominic keluar, dia mengusap wajahnya dengan handuk kecil dan memperhatikan langkah terakhir Jhonatan yang memakaikan kaos kaki.
"Sudah!" Jhonatan dengan membanggakan dirinya sendiri melihat baby Gio yang anteng dan terlihat lucu di tambah bedak di wajahnya.
"Lihat, aku sudah cocok menjadi ayah, bukan." ucap Jhonatan sambil menoleh ke arah Dominic.
Pria itu pun memperhatikan istrinya yang kelihatan segar dan sexy selesai mandi, rambutnya yang masih basah di gulung dengan handuk putih.
"Istri ku, apa dia sudah cocok menjadi ayah?" tanya Dominic. Seketika membuat Jhonatan menoleh. Dia tidak menyadari keberadaan Bella, semenjak kapan wanita itu berdiri di sampingnya.
Jhonatan melangkah ke samping, dia tersenyum kikuk dan malu. Padahal kalau dia dan Dominic, jauh lebih baik Dominic.
Bella menarik dalam nafasnya, setiap kali ada rasa sakit yang menyelimuti perasaanya. Hatinya membeku di ruangan gelap dan di hancurkan begitu saja.
__ADS_1
Dia hanya mengangguk, dalam perasan ini. Dia seakan melihat Dominic ingin menyerahkannya pada Jhonatan. "Masih lebih baik dirimu, sayang."