
"Aku ada waktu siang, tidak ada waktu malam, yang jelas aku ingin melakukan penerbangan," teriak Jhonatan murka. Dadanya naik turun, semenjak kapan ia suka di nasehati, ia tidak suka di nasehati, ia hanya suka melakukan apa yang dia mau.
Kedua Bodyguard itu menunduk, bukannya mereka tidak mau menuruti perintah Jhonatan, tapi sebagai bawahan dia mengkhawatirkan sang bos.
"Kalau tuan sakit ... "
"Aku tidak butuh nasehat kalian,"
Bagaimana saya tidak mengkhawatirkan tuan? tuan Jack saja menitipkan tuan pada saya. Bukannya kenyang makan roti enak, eh malah kenyang teriakan batin salah satu dari pengawal.
"Kak," seru Angelina. Dia berlari dan menatap Jhonatan. "Kakak kenapa?" tanya Angelina. Mau tidak mau dia, takut tidak takut ia memberanikan diri mendatangi sang Kakak. Baru saja ia di hubungi oleh Jack untuk melihat kondisi sang Kakak.
"Ada apa ini?" tanya Angelina pada kedua Bodyguard itu.
"Maaf nona, kami hanya menasehati agar tuan menjaga kesehatan dan tidak melakukan penerbangan ke Prancis." tuturnya.
"Kakak, untuk apa? kalaupun wanita itu pergi bukan urusan Kakak. Kakak hanya perlu menjaga kakak ipar dengan baik, apa lagi Jack tadi menghubungi ku kalau kakak ipar sudah sadar. Kakak harus menjaga kesehatan kakak ipar. Lepaskan wanita itu, fokuslah dengan kesembuhan kakak ipar," tutur Angelina. Dia berusaha menenangkan Jhonatan dengan mengingatkan nama kakak iparnya, Gladies.
Jhonatan mengusap wajahnya secara kasar dengan sebelah tangannya, pikirannya hanya Bella dan Bella, hingga ia lupa kalau ada orang lain yang mengkhawatirkannya.
"Aku pinjam ponsel mu," ucap Jhonatan.
Angelina menganga, walaupun ia tidak tahu apa yang menyebabkan sang Kakak meminjam ponselnya. Padahal sang Kakak tidak pernah meminjam milik orang lain. "Memangnya ponsel Kakak kemana?"
"Mati!"
Angelina merasa aneh, tidak biasanya ponsel sang Kakak mati, kalau mati kan bisa membeli yang baru.
__ADS_1
"Hallo,"
"Jho, ini kau?" tanya seorang wanita di seberang, dari suaranya terdengar rasa kekhawatiran.
"Aku baik-baik saja, maaf baru menghubungi mu," ujar Jhonatan. Dia merasa bersalah karena melupakan Gladies.
"Oh begitu, kenapa memakai ponsel Angelin? apa Angelin sedang bersama mu?"
"Iya, katanya khawatir karena tidak menghubungi mu."
"Jho, aku ingin pulang. Jemput aku, aku tidak betah di sini," rengek Gladies. Jhonatan tidak akan tega padanya kalau ia memohon dengan tatapan mengiba.
Jhonatan menggaruk pangkal hidungnya, ia tidak bisa menyuruh Gladies pulang sekarang. "Aku masih banyak pekerjaan Gla, tunggulah beberapa hari."
Gladies merasa bingung, ini bukan sifat Jhonatan yang ia kenal. Ketika ia merengek, Jhonatan pasti akan mengabulkan keinginannya. "Jho, aku merindukan mu."
Jhonatan mematikan panggilannya, lalu melemparkannya ke arang Angelina. Dengan gelagapan wanita itu menangkap ponselnya. Kalau sampai ponselnya retak, ia tidak akan mogok makan selama satu bulan.
"Kakak, hati-hati donk."
"Aku bisa menggantinya,"
"Tapi kenapa meminjam punya ku?"
"Malas," singkat dan padat yang membuat Angelina mendengus.
"Kakak kenapa sih tidak mau dengan tante Gladies? dia merindukan Kakak,"
__ADS_1
Gladies duduk, menyilangkan kedua kakinya dan tangannya bersandar di sisi sofa sebagai penyanggah pipinya. "Kakak, tidak benar-benar menyukai wanita itu kan?"
"Dia hanya mainan ku," ucap Jhonatan.
Angelina menaikkan sebelah alisnya, ia tidak percaya sama sekali. Apa lagi dengan penolakan sang Kakak yang lebih mementingkan mencari wanita mu.rahan itu dari pada menemui kakak iparnya.
"Kalau hanya sebatas mainan, biarkan dia pergi. Mainan yang tidak berguna seperti dia, buang saja jauh-jauh, biar tidak mengotori."
"Angelin! tidak ada urusannya dengan mu, ini urusan ku bukan urusan mu."
"Dan kalian, aku akan berangkat besok pagi,"
Angelina merasa janggal, ia mencium benih-benih cinta pada Jhonatan dan ia tidak merasa yakin kalau Jhonatan menganggapnya mainan.
###
Ana pun yang mendengarkan Jhonatan, dia segera menghubungi Dominic, seperti biasa, laki-laki itu akan tertawa dan akan membuat permainan, hidupnya yang kacau akan menjadi pengacau bagi Jhonatan dan tuan Alexander.
"Baiklah, sepertinya aku harus berkunjung ke rumah tuan Alexander,"
"Siapa anda? kenapa anda menangkap saya?" teriak seorang wanita. Kedua matanya di tutup dengan kain hitam dan tangannya di ikat ke belakang.
Dominic tersenyum, ia merasa tenang dengan hidupnya yang memiliki sebuah permainan dan lebih menarik dia membalaskan kesakitan Bella yang telah di lakukan oleh wanita itu.
"Dengar! aku tidak akan melepaskan mu, anggap saja aku membalas apa yang kamu lakukan pada Bella."
"Bella? apa kelebihan wanita itu? dia menggoda tuan Jhonatan, tidak puas dengan tuan Jhonatan dia menggoda tuan Alexander. Dia hanya wanita murahan yang sok polos."
__ADS_1
Dominic geram, baru pertama kalinya dia menemui Ningsih dan sudah mengatakan hal yang tidak benar dengan Bella. Dia bangkit dan melangkah ke arah Ningsih, dengan kasar dia menampar Ningsih, hingga wanita itu tersungkur ke lantai.