Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#88 : Aku Punya Daddy Dominic


__ADS_3

Sama halnya dengan Bella, dia menatap tak kalah sengit wanita itu. Dia tidak akan pernah melupakan penghinaan ini yang di sebabkan oleh suaminya itu. Dia pun langsung melengos dan melanjutkan langkahnya.


"Bella," sapa tuan Alexander. Sejak tadi hatinya tak karuan menunggu kedatangan Bella. Entah apa yang di bicarakan putrinya itu.


Dia juga mengawasi Gladies, takut wanita itu kembali menyakiti Bella. "Bagaimana?" tanya tuan Alexander. Dia memegang kedua lengan Bella dengan wajah serius menunggu penjelasan Bella.


"Aku sudah memutuskan Dad, aku tidak akan kembali padanya."


Tuan Alexander langsung menunduk dan melepaskan kedua tangannya. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa? lantas dia harus bahagia atau tidak.


"Maafkan Daddy, putra Daddy menyakiti mu."


Bella tersenyum, di saat seperti ini ia harus menjadi seorang ibu yang kuat untuk kedua anak-anaknya. "Bella bosan mendengarkan Daddy yang sering meminta maaf, ini bukan salah Daddy."


Dia mengelus lengan tuan Alexander. Arah pandangannya pun teralihkan melihat dua anak yang tengah di gendong oleh Dominic. Pria itu selalu saja memanjakannya, ia heran dengan Dominic yang selalu menggendongnya. Apa pria itu tak pernah bosan bermain dengan kedua anaknya?


"Mommy!" teriak Velli.


Dominic berjongkok, menurunkan kedua bocah itu. Sontak Velli dan Vello berlari memeluk Bella.


Bella mencium pipi Vello dan Velli satu per satu dan kedua anak itu pun membalas dengan mencium Bella secara bersamaan.


"Mommy, kita ngapain di sini? aku tidak betah," celoteh Velli. Ia merasa asing tinggal di kediaman Jhonatan, meskipun rumah itu tak kalah mewah dengan rumah sang kakek dan Daddynya.

__ADS_1


"Sebaiknya kita pulang, aku malas, Mom," sambar Vello. Ia mengerti keadaannya yang tidak terlalu bagus.


"Vello, Velli," sapa Seseorang dari belakang Bella dan tuan Alexander. Kedua orang itu langsung menoleh dan melihat seorang laki-laki yang tersenyum, walaupun air matanya terus mengalir.


Dia pun berjongkok di samping Bella, menatap haru bilu kedua anak-anaknya, ia tidak pernah ada dan tidak pernah menemaninya. Ia tidak tahu bagaimana proses pertumbuhan mereka. Ia sangat ingin melihat mereka tumbuh seperti harapan seorang ayah pada umumnya. Melihat teman-temannya yang memiliki waktu bermain dengan anak-anaknya, ia selalu saja timbul rasa iri.


"Kalian tidak ingin memeluk Daddy?"


Vello dan Velli bersitatap. Dia malah mundur dan tepat di samping Bella serta tuan Alexander. Vello dan Velli memandang sang ibu dan sang kakek.


Tuan Alexander menjajarkan tubuhnya dengan tinggi kedua cucunya. Dia memejamkan kedua matanya sejenak. "Kalian pernah bertanya kan, dimana Daddy kalian?"


"Dia ... Dia Daddy kalian, anak kakek."


"Dia Daddy ku?" tanya Velli menatap Bella kemudian beralih pada tuan Alexander.


Bella mengangguk, kedua bibirnya seakan tertutup rapat.


"Tapi aku punya Daddy Dominic, aku tidak suka dia. Setiap aku menanyakan keberadaan Daddy ku, Mommy selalu menangis."


Jantung Jhonatan seperti berhenti berdetak. Ucapan putrinya bagaikan pisau yang mengiris nafasnya. Dia menatap Bella dan melihat dalam wanita itu, ternyata selama ini dia menangis karena dirinya.


"Kata teman ku, kalau orang yang menyakiti kita pasti akan membuat kita menangis. Berarti Daddy menyakiti Mommy, Velli tidak suka."

__ADS_1


Jhonatan memegang Dadanya yang terasa panas. Putrinya saja tidak menyukainya, apa putranya begitu? apa memang tidak ada kesempatan untuknya?


"Kakak tidak suka Daddy kan?" tanya Velli, dia memegang tangan Vello dan menggoyangkannya. "Teman ku selalu berkata, Mommy nya sering menangis karena Daddy nya sering memarahi Mommy, katanya Mommy nya sakit."


Vello menatap dingin wanita di depannya. Dia tak menjawab pertanyaan sang adik, tapi di lihat dari kedua matanya, ia tidak menerima kehadiran sang ayah.


"Mommy," Vello melangkah, dia memegang kedua pipi Bella. "Ayo kita pulang," ajaknya.


"Tunggu, apa kalian tidak .... "


"Jhonatan kau harus menepati janji mu," tegas tuan Alexander. Dia tidak mau kedua cucunya tertekan. Kalau memang ingin mendekati kedua cucunya, mendekatilah secara perlahan. Dia tidak mengijinkan siapa pun menyakiti kedua cucunya.


"Dad, aku ... "


Bella langsung menggandeng kedua tangan anaknya, kemudian melangkah menuju keluar pintu. Jhonatan langsung berdiri, namun saat dirinya ingin mengejar langsung di hadang oleh sang ayah.


"Daddy, aku ingin ... "


"Kau ingin apa? membuat mereka tertekan, hari ini saja kedua anak mu sudah pasti tertekan. Dia akan menanyakan, kenapa ayahnya tidak mengunjunginya?"


"Ayo Dominic,"


Dominic menatap iba Jhonatan, tanpa sepatah kata apa pun dia mengikuti langkah tuan Alexander.

__ADS_1


__ADS_2