
Sepanjang malam Jhonatan tidak bisa memejamkan matanya, ia mencoba mengingat wajah Gladies, namun sayang, bayangan wajahnya itu langsung terhapus dengan wajah Bella yang menggantikannya.
Kau tidak tenang, kalau kau tidak tenang cobalah sholat.
Jhonatan langsung beranjak, dia menggeleng dan memijat pelipisnya. Suara Bella dan wajah Bella tidak bisa hilang dari pikirannya.
"Bagaimana mau sholat? aku saja tidak tahu bacaannya."
Jhonatan meringis dengan dirinya sendiri, dia orang islam, lahir di London, tapi hanya KTPnya saja orang islam, sedangkan ia tidak melakukan apa pun yang di ajarkan agama islam.
Dia menetap di Indonesia, karena sang ayah dan ibunya ikut ke Indonesia, tidak tahunya karena ada masalah lain yang membuat ayahnya menetap di Indonesia, ya pesona gadis desa. Waktunya masih muda, ayahnya menjadi donatur di salah satu panti asuhan dan tidak sengaja bertemu dengan kekasih masa lalunya.
"Emm, sampai sekarang aku belum menemukan kekasih ayah atau ... " Dalam sekejap ia menemukan ide berlian, walaupun ia merasa tak yakin dengan idenya.
Tok
Tok
Tok
Dengan malas Jhonatan turun dari ranjangnya, lalu membuka pintu itu.
"Tuan, di luar ada yang bertemu dengan tuan," ucap bibi Su.
Jhonatan mengangguk, tanpa mengatakan apa pun dia menutup pintunya dan mencuci wajahnya. Setelah itu, berulah dia menemui orang suruhannya.
"Apa yang kalian temukan?" tanya Jhonatan menatap kedua orang suruhannya. Seperti biasa, dia akan duduk sambil bersendekap dan menyilangkan kedua kakinya dan tatapan datar di wajahnya.
__ADS_1
"Kami menemukan mobil itu telah di jual dengan harga murah dan kami tidak menemukan CCTV di sana, jadi sangat sulit untuk menemukan wanita yang tuan cari."
Jhonatan menahan emosinya, kali ini ia benar-benar habis dan kehilangan jejak Bella. Berarti hanya Daddy nya lah yang tahu.
Jhonatan ingin menghubungi Daddynya, namun ia ingat ponselnya telah hancur lebur karena api kemarahannya.
Dia pun beranjak pergi dan kedua pria itu mengikutinya beranjak sambil menundukkan kepalanya.
Jhonatan mengambil ponsel cadangannya, dulu istrinya hoby membeli ponsel, jika ada keluaran terbaru dengan mudah dia membelinya.
Dia tersenyum senang, akhirnya panggilannya masuk, namun dalam sekejap pria di seberang sana mematikan panggilannya. Dia kembali menghubunginya, namun lagi-lagi ponselnya di matikan.
"Argh!" teriak Jhonatan menggeram kesal. Dia melemparkan ponsel itu ke dinding dan kembali hancur. Dia pun mengambil kontak mobilnya dan menyuruh kedua pria itu mengikuti. Butuh beberapa jam, mereka telah sampai di tempat yang telah menjadi tujuannya.
"Di sini tuan tempatnya," ucap pria berkaca mata hitam itu.
Jhonatan membuka pintu mobilnya. Dia menghampiri bengkel kecil itu. Seseorang pun datang menghampirinya.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pria setengah baya itu. Rambutnya telah memutih dan menggunakan kaca mata. Sepertinya, dia pemilik bengkel kecil itu. Dia begitu heran, sudah dua hari ini ia di datangi orang berjas yang seperti bukan orang biasa. Bahkan menjual mobil mewah dengan harga murah, tapi itu bukan urusannya, yang penting ia akan menjual mobil itu dengan harga istimewa, jadi ia akan memiliki untung yang lebih banyak.
"Begini, saya ingin mengetahui sesuatu. Orang yang berada di mobil itu sewaktu anda membelinya, apa anda tahu dia kemana?" tanya Jhonatan.
"Tidak tuan, setelah mobil itu terjual, dua pria dan satu wanita berpindah ke mobil lain, lalu melaju kesana tuan," ucap pria setengah baya itu. Dia menunjuk sebuah jalan lurus.
"Terimakasih, kita cari ke sana." Titah Jhonatan. Kedua pria suruhan Jhonatan itu pun mengikuti arahan sang tuan. Entah berapa lama mereka berkeliling dan menanyakan foto Bella, namun tidak ada seorang pun yang mengenali Bella.
Jhonatan menyandarkan punggungnya di pintu mobil. Dia merasa frustasi, terik matahari menerpa tubuhnya, peluh keringat dan rasa haus yang menggoroti lehernya.
__ADS_1
"Tuan, sebaiknya kita cari Restaurant, kalau di sini tidak mungkin, karena desa ini terpencil dan jauh dari kota."
"Iya," ucap Jhonatan.
Sepanjang perjalanan dan menelusuri jalan lurus. Jhonatan melihat ke luar jendela, tanpa sengaja dia melihat sebuah warung kecil. Entah mengapa dia mengingat waktu kebersamaannya dengan Bella. Dia tersenyum, bersama Bella ia tidak pernah memandang bajunya kotor atau tidak, kadang dia duduk di lesehan dan sambil meminum es degan.
"Putra balik, aku ingin minum es degan."
Hah
Kedua pria itu saling tatap, Es Degan? racun apa itu, mereka baru mendengarkannya sekarang.
"Tapi tuan,"
"Putar balik."
Pengemudi itu pun memutar kembali laju mobilnya dan berhenti di sebuah warung kecil. Jhonatan keluar dan melihat ke dalam, dua orang ibu-ibu pun bergeser dan menatap Jhonatan dengan tatapan takjub.
"Ada bule nyasar," ucap wanita bertubuh gemuk dan menggunakan daster warna hitam dengan motif bunga.
"Wah, dia tampan sekali," ucap seorang temannya di samping wanita bertubuh gemuk itu. Kedua matanya berbinar menatap pahatan di depannya.
"Saya pesan es degannya, bu." Ucap Jhonatan tersenyum ramah.
##
"Jack, kau sudah menghubungi Jhonatan? aku takut terjadi sesuatu, ponselnya tidak aktif," ujar Gladies. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan suaminya itu. "Tidak biasanya dia seperti ini, biasanya dia akan menghubungi ku setelah selesai penerbangan."
__ADS_1
Jack masih terpaku, dia juga khawatir, yang di hadapi sang tuan bukanlah sembarangan orang, melainkan ayahnya sendiri. Bagaimana keadaan mereka yang akan beradu tanding?