Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#57 : Akan Aku Buktikan, Kalau Aku Bisa


__ADS_3

"Pergilah, aku tidak butuh kamu." Usir tuan Alexander. Dia memang tidak berniat untuk menemani Dominic, apa lagi pekerjaannya menumpuk.


Dominic berusaha menahan kesalnya, kalau bukan calon mertuanya, oh dia mengakuinya musuhnya sebagai calon mertuanya.


"Em, tapi kapan Jhonatan dan Bella bercerai."


Tuan Alexander menarik kaca matanya, dia langsung mengangkat wajahnya dan menatap dingin.


Dominic meneguk ludahnya, ia tersenyum simpul. Jangan sampai mulutnya menanyakannya lagi, bisa-bisa akan ada semburan api di depannya.


"Aku tidak akan bertanya, Om. Sumpah, aku tidak akan bertanya lagi, semoga hari-hari om baik."


Dominic menegakkan tubuhnya, kemudian memberikan hormat di ikuti Marvin dan salah satu Bodyguardnya.


Dominic mengelap keringat di dahinya, ia menarik jasnya dan membetulkannya, padahal jas hitam itu masih rapi. "Huft, rupaya ... "


"Tuan, semoga berhasil," ucap Theo mengejek. Dominic menoleh dan menghembuskan nafas kasarnya.


"Apa tuan baik-baik saja?" tanya Marvin hati-hati.


"Jangan tanyakan aku baik-baik saja, aku ingin berendam air es sekarang."

__ADS_1


##


Sedangkan Jhonatan, dia melakukan penerbangan lagi. Gladies telah di bawa ke Jakarta dan tentu membuatnya senang, ia bisa bersama Jhonatan kapan saja dan melihat suaminya setiap saat, setiap detik dan setiap menit.


Sedangkan Jhonatan, hatinya kacau pikirannya pun kacau. Entah bagaimana ia akan mencari Bella? ia berharap bisa menemukan Bella secepatnya.


"Selamat datang tuan," ucap bibi Su. Dia menyambut kedatangan Gladies dan Jhonatan sambil membungkuk hormat.


"Saya bersyukur, nyonya kembali sehat," ucap bibi Su. Dia mengalihkan kedua pandangannya ke arah Jhonatan. Pria itu tersenyum, namun tidak kedua matanya yang menyisaratkan ada sebuah kesedihan.


"Ana, Ani kalian layani nyonya Gladies." Titah bibi Su.


"Honey, kau istirahat saja. Aku ingin berbicara dengan Jack masalah pekerjaan," ucap Jhonatan. Tanpa rasa lelah dia ingin secepatnya membahas sang Daddy dan Bella.


"Mari nyonya," ucap Ana.


Setelah para wanita itu menjauh, Jhonatan melangkah ke arah taman. Langit tampak gelap, gumpalan awan hitam menyelimutinya. Seakan malam ini menandakan akan turun hujan yang sangat deras.


"Jack, apa Daddy mengatakan lainnya?" tanya Jhonatan. Setelah mendengarkan perkataan Jack, dia tak lagi membahas apa pun yang menyangkut Daddy atau Bella. Ia takut, istrinya tersakiti.


"Tidak tuan,"

__ADS_1


"Bagaimana dengan Bella? kau sudah menemukan jejaknya?" tanya Jhonatan.


Jack menggeleng lemah, bawahannya telah berusaha. Namun hasilnya nihil, Bella seakan di telan bumi tanpa tersisa.


Jhonatan memukul udara dengan kasar, ia ingin mengumpat dan mengeluarkan kekesalannya.


"Sebaiknya tuan lupakan saja nyonya Bella," ucap Jack.


Deg


Ada rasa tidak suka di hati Jhonatan, melupakan? hatinya seolah belum menerima sepatah kata itu. "Apa maksud mu?" tanya Jhonatan dengan geram.


Dia melangkah dan menarik kerah baju Jack, pria itu hanya menunduk tidak berani menatap wajah sang tuan.


"Maaf tuan, tapi nyonya Gladies sudah sembuh. Lagi pula nyonya Bella telah hilang dan tidak meminta tanggung jawab apa pun."


Jhonatan mendorong tubuh Jack, kemudian berbalik dan berdecak pinggang. Apa yang di katakan oleh Jack ada benarnya, Bella tidak meminta tanggung jawab atau memilih pergi sendiri. Bukan ia yang memintanya, seharusnya ia senang, wanita itu tahu posisinya.


Alangkah baiknya, kalau kalian tidak di pertemukan lagi batin Jack.


"Cobalah melupakan nyonya Bella tuan, anggap saja tidak terjadi apa pun."

__ADS_1


"Apa kau pikir aku tidak bisa melupakan Bella? hah! aku hanya ingin menemukan mainan ku. Baiklah, kalau kau berpikir aku tidak bisa melupakan Bella, akan aku buktikan kalau aku bisa."


__ADS_2