Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#18 : Meskipun Sakit


__ADS_3

Pria itu menatap nanar ke arah Bella, wanita di hadapannya adalah wanita yang tegar, di antara beribu berlian, mungkin wanita ini yang lebih baik.


Ketegarannya, kesabarannya tidak pernah habis. Hanya laki-laki beruntung yang mendapatkannya, seandainya bukan istri dari sang bos, ia pasti akan merebutnya.


"Apa dia baik-baik saja?"


"Kenapa kau menanyakan itu?" tanya Jack, kedua matanya mengembun. Tanpa rasa malu, ia menghapus air matanya dengan jari jempolnya.


Bella, wanita itu hanya tersenyum.


"Aku hanya menanyakannya, Jack? kenapa kau serius itu?"


Serius, jelas ia pikir sangat serius. Karena masalah hati. Bella terlalu penyabar, ia saja sebagai bawahan dari Jhonatan tidak kuat, apa lagi berada di posisinya. Seandainya, Bella adalah adiknya, sudah ia pastikan. Ia akan membunuh Jhonatan.


"Setiap hari, setiap saat, setiap detik, setiap menit, kau selalu menangis, tetapi kenapa kau masih bisa bertanya hal yang menyakitkan?"


Bella mendongak, dari kecil. Hidupnya selalu susah, pendapatan bubur keliling pun tidak seberapa? melanjutkan sekolah sampai di tingkat SMA saja sudah bersyukur, pernah ia makan hanya nasi saja. Tapi, ia tetap bersyukur karena masih di berikan kesehatan bersama sang ayah. Namun, sekarang ia hanya sendiri, ia hanya menguatkan hatinya yang sudah lelah dan meyakinkan hatinya, bahwa esok pasti baik-baik saja.


"Sejujurnya aku lelah, Jack. Tetapi, aku terus meyakinkan hati ku, bahwa esok pasti baik-baik saja. Maaf, saat itu aku tidak bermaksud menguping."


"Hah, Bella, apa kau pernah berniat untuk pergi?"

__ADS_1


"Menurut mu?"


"Kalau seandainya aku, aku pasti memilih pergi, karena aku lelah berjuang."


Bella tersenyum, tanpa bantuan siapa pun. Akankah ia bisa pergi? sedangkan ia tidak memiliki apa-apa. Tabungan yang tidak seberapa, mungkin hanya cukup satu bulan. Selama menikah dengan Jhonatan, ia tidak pernah mendapatkan uang sepeser pun?


"Aku akan membantu mu, kalau kau ingin pergi."


Bella menggeleng, ia tidak ingin melibatkan siapa pun. Sudah cukup, ia dari kecil menyusahkan kedua orang tuanya.


"Kenapa? apa kau masih mencintai tuan?"


"Ya, aku masih mencintainya, meskipun sakit."


"Jack, kau belum menjawab, bagaimana keadaan istri Jho?" tanya Bella, dia memperlihatkan deretan giginya yang putih. Sambil menonjok tangan Jhonatan yang keras.


"Dia sudah sadar, besok tuan berencana akan menemuinya."


Bella tertawa, dia mendongak ke atas agar air matanya tidak membuatnya malu.


"Aku senang dia sadar, aku berharap Jho dan istrinya bahagia."

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan mu?" tanya Jack. Dahinya mengkerut, ia tidak mengerti dengan pikiran Bella. Haruskah ia bilang sabar atau bodoh? masih saja mendoakan kebahagian buat orang yang sudah menyakitinya.


"Aku, aku pasti bahagia," ucap Bella tersenyum. Walaupun hatinya tidak yakin.


"Itulah, harapan ku. Kau harus bahagia."


Jack pun bangkit, "Ini, hubungi aku kalau kau membutuhkan sesuatu," ucap Jack memberikan kartu identitasnya. Ia tidak kuat berlama-lama mendengarkan pertanyaan Bella. Telah di bohongi, telah di sakiti, masih saja Bella bertahan di dalam panasnya sangkar api itu.


Bella perlahan menurunkan kepalanya, jangan tanyakan apa dia tidak sedih, tentu saja ia sedih. Hatinya terluka, hatinya telah di tusuk oleh belati. Sampai ia ingin mengatakan bahwa hatinya telah mati.


Hiks


"Ayah.. Aku tidak kuat, Tuhan... "


Cetar


Bella masih terdiam, ia menangis di tengah-tengahnya hujan deras. Ia ingin mendinginkan hatinya, namun, hati yang telah panas itu, tak mampu ia dinginkan.


###


Keesokan harinya, Bella merias wajahnya sebaik mungkin. Agar tidak ada yang tahu, bahwa wajahnya pucat pasi. Ia tidak berharap orang akan kasihan melihat keadaannya.

__ADS_1


Saat ini ia telah berniat akan mengantarkan suaminya untuk pergi menemui istrinya, mungkin hanya saat ini terakhir ia menemui suaminya.


__ADS_2