
"Tidak ada lagi yang mau kau katakan, pergilah."
Dominic keluar dengan wajah lesu, semua cara ia lakukan, mewah, sederhana. Ingin sekali ia mengobrak-abrik seluruh kota ini. Susah sekali menaklukkan hati tuan Alexander.
"Apa ya?"
Selepas kepergian Dominic, tuan Alexander menerima sebuah panggilan dari Bella.
"Iya, putri ku? apa ada sesuatu?" tanya tuan Alexander dengan lembut. "Atau cucu ku menginginkan sesuatu?"
"Tidak ayah, aku cuman ingin bertemu dengan ayah dan ingin mengatakan sesuatu," ucap Bella. Dia ingin mengatakan kalau ia sudah memberitahu Jhonatan tentang kehamilannya dan ingin meminta bantuan sang ayah sebelum menemukan barangnya. Apa lagi kalau sampai di temukan oleh istri Jhonatan, ia tidak mau merusak hubungan mereka.
"Baiklah, malam ini ayah akan pulang. Kau tunggu saja," ucap tuan Alexander.
"Iy ayah," Bella mematikan panggilannya. Dia lebih suka dengan panggilan ayah, karena menurutnya lebih nyaman di lidahnya.
"Bagaimana kalau Jhonatan atau Gladies tau?" gumam Bella. Ia merutuki kebodohan dirinya, kenapa ia harus meninggalkan surat seperti itu.
"Ada apa nyonya?"
"Bi, aku melakukan kesalahan," ucap Bella dengan mata berkaca-kaca. Ia takut Jhonatan akan mengambil anaknya, tapi ia berpikir Jhonatan tidak mungkin mengambil anaknya.
"Sebelum aku pergi dari sini, aku meninggalkan surat dan surat itu, aku memberitahukan kehamilan ku. Bagaimana kalau suatu saat nanti Jhonatan akan mengambilnya?"
Bibi tersenyum, tidak akan mudah mengambil sesuatu yang menjadi milik tuan Alexander. "Apa nyonya lupa? siapa ayah nyonya sekarang? tuan Alexander, apa pun yang sudah menjadi miliknya, jangankan di ungkit, mengambilnya saja tidak mungkin. Nyonya hanya perlu menjaga dirinya nyonya dengan baik dan memberikan tuan Alexander cucu yang menggemaskan."
__ADS_1
Bella tersenyum senang, ia yakin ayahnya tidak akan memberikan anaknya. "Benar, kau benar," ucap Bella.
"O iya, aku ingin melukis, ya untuk menghilangkan kejenuhan ku," pinta Bella.
"Aku akan segera menyiapkannya, kebetulan di sini tuan Alexander juga menyukai lukisan. Kalau ada waktu luang, tuan pasti melukis."
Bella mengangguk, dia menikmati angin sejuk dan duduk di bawah pohon sambil menatap hamparan laut yang tenang.
Beberapa menit kemudian, bibi datang dengan dua pelayan yang membawakan beberapa alat lukisan. Mereka membantu sang nyonya menyiapkan segalanya.
"Silahkan nyonya," ucap bibi.
Bella berpindah tempat duduk, dia mulai fokus pada kuas dan kertas putih itu di depannya.
###
"Jho, kau sudah pulang," ucap seorang wanita. Dia berdiri di depan pintu sambil menunggu kedatangan sang suami. Jhonatan menghubunginya, ia sangat senang jadi menyiapkan makan siang.
"Maaf Honey, aku sibuk dan belum sempat mengabari mu, ini." Jhonatan memperlihatkan sebuket bunga mawar di belakang punggungnya yang ia sembunyikan sejak tadi.
"Makasih Honey, kau selalu membuat ku senang." Gladies mengecup singkat bibir Jhonatan, lalu beralih pada pipi kanannya.
"Sayang, ayo makan siang, aku sejak tadi menunggu mu."
"Ayo, aku juga sudah lapar," ucap Jhonatan. Dia memeluk pinggang ramping Gladies dan berjalan beriringan, tidak hanya itu, Jhonatan sering mencium pucuk kepala sang istri.
__ADS_1
Gladies pun dengan cekatan menaruh nasi dan sayur serta lauk pauk, bahkan ia mengupas sendiri udang untuk sang suami.
"Sayang, aku khawatir terjadi sesuatu."
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, hanya sibuk kerja," ucap Jhonatan. Dia pun memakan masakan sang istri, meskipun rasa makanan itu di lidahnya hambar dan perutnya kembali mual. Tapi ia sekuatnya menahannya, takut mengecewakan sang istri.
"Sayang, jangan terlalu banyak udangnya, aku makan sup dan nasi saja."
"Tidak suka?" tanya Gladies.
"Bukan, aku bosan," ucap Jhonatan. Untungnya hanya mual, kalau sampai tidak menyukai parfum Gladies, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"O iya, Daddy tadi menghubungi ku."
Jhonatan terkesiap, ia langsung menatap sang istri. "Apa Daddy mengancam mu? katakan pada ku? biar aku yang melawannya." cecar Jhonatan. Ia begitu takut sang istri terluka.
"Tidak," Gladies tersenyum. "Justru aku senang, Daddy akhirnya menerima ku dan Daddy menitipkan pesan pada mu 'Masa lalu harus di lupakan, apa pun yang terjadi, jangan di ingat agar hidup kita nyaman', begitulah Daddy mengatakannya."
Jhonatan menelan sisa makanan di mulutnya dengan kasar, dia langsung meneguk air putih di sampingnya. Ucapan sang ayah sangat menusuknya, bahkan menancap jantungnya dan seakan tak bisa di cabut sama sekali. Sang ayah memberikan isyarat padanya, kalau ia harus melupakan masa lalunya.
"Sayang, aku kenyang. Aku ke atas dulu," ucap Jhonatan meninggalkan Gladies tanpa menunggu jawaban darinya.
##
Puas kan Crazy Upnya, jadi mohon tinggalkan Like, Komentar dan Hadiahnya yaðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1