
Dua hari telah berlalu, Bella melakukan tugasnya sebagai seorang pelayan, mencuci piring, menyapu dan segalanya ia bersihkan dengan rasa iklas, tapi hanya satu yang tak pernah ia masuki, ketua pelayan telah mengingatkannya, hanya ketua pelayan lah yang boleh memasukinya.
Ia tidak bertanya, karena ia tau siapa pemilik kamar rahasia itu. Dan selama dua hari ini, Jhonatan tidak menghubunginya sama sekali, jangankan memberinya kabar, menanyakan pada ketua pelayan saja keadaannya dirinya tidak ada. Ia benar-benar telah di buang dan tak berarti pagi.
Seperti hari-hari biasa, kini langkah terakhirnya menyiram bunga mawar di seluruh taman.
"Hah!"
Bella bernafas lega, akhirnya pekerjaannya telah selesai, ia menghapus peluh keringat di dahinya dengan punggung tangannya. Sambil melihat ke arah langit yang berwarna biru. Ia mengelus perutnya yang masih rata dan tersenyum kecut.
Hanya kau satu-satunya kekuatan ibu, Nak.
"Bella, kau mau ikut ke Supermarket?" tanya Ana. Dia sengaja mengajak Bella untuk menghilangkan rasa bosannya berada di istana megah ini.
"Boleh," ucap Bella.
Bella mematikan krannya lebih dulu sebelum pergi dan setelahnya berlalu menuju sebuah mobil dan meminta seorang supir untuk mengantarkannya.
Mobil putih itu pun berhenti di sebuah Supermarket. Bella dan Ana, kedua wanita itu mendorong masing-masing troli, membeli semua bahan yang sudah tercatat di kertas kecil di tangan Ana.
Setelah memilih beberapa bahan, Ana dan Bella menuju ke tempat sayuran dan daging. Keduanya memilih beberapa sayuran dan daging, lalu memasukkannya pada sebuah troli.
"Ya sudah, biar aku saja yang ke kasir. Kamu tunggu saja di depan," ucap Bella.
Ana pun mengangguk, di menunggu Bella menyelesaikan pembayaran, walaupun agak lama karena sedang mengantri.
Bella memutar tubuhnya, ia memasukkan sisa uangnya ke dalam dompet, karena sedang fokus tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
Bruk
__ADS_1
"Maaf-maaf," ucap Bella. Dia mengambil beberapa bahan yang terjatuh ke lantai, lalu menaruhnya ke dalam kresek putih. "Aku tidak sengaja," ucap Bella.
Ia mendongak dan kedua matanya pun tak bisa ia kedipkan begitu saja. Baru kali ini ia melihat seorang laki-laki yang tak kalah tampannya seperti sang suami.
"Hey!" sebelah tangannya melambai di depan wajah Bella. "Apa ada yang salah?"
"Aha, tidak," ucap Bella dengan gugup. Ia menggaruk pipinya yang tak gatal untuk menghilangkan rasa canggungnya. Kemudian sekilas kembali menatap wajah tampan yang mempesona itu.
"Maaf," ucap Bella. Dia melirik di sekitarnya, banyak wanita yang tersenyum ke arah pria tampan di depannya dan kini ia menjadi pusat perhatian.
"Bella, ayo cepat!" ucap Ana, dia menarik lengan Bella dan belum menyadari di depannya ada seorang laki-laki tampan.
"Ma-maaf aku pergi dulu," ucap Bella.
"Tunggu!"
"Karena kau tadi tanpa sengaja menabrak ku, sebagai tanda permintaan maaf, aku ingin mengajak mu untuk makan bersama ku."
Pria itu merogoh saku jasnya, kemudian memberikan kartu tanda identitasnya. "Ini, tidak perlu buru-buru untuk menolaknya."
Bella ingin menolaknya, ia takut Jhonatan akan salah paham dan berakhir mengerikan.
"Baik tuan, Bella akan segera menghubungi mu," ucap Ana sambil mengambil kartu identitas yang di sodorkan itu.
"Oh jadi namanya Bella, cantik, cantik seperti orangnya."
Blush
Kedua pipi Bella merah merona, ia malu dengan pujian pria di depannya. Ini baru kedua kalianya, dua orang pria yang pernah memujinya. Bella menunduk, ia menyenggol Ana.
__ADS_1
"Apa sih, Bella? tidak ada salahnya kamu kenalan dengan dia. Dia tampan, tidak kalah sama tuan." jelas Ana berbisik, ia ingin Bella dekat dengan pria lain. Majikannya yang kejam tidak cocok dengan Bella.
"Tuan kami permisi dulu, teman saya akan secepatnya menghubungi anda." ucap Ana. Dia mengambil bahan-bahan yang telah di beli tadi. "Ayo!"
Sebelum pergi, Bella menatap pria di depannya dan tersenyum ramah.
Dia cantik, wanita itu memang tidak pantas dengan Jhonatan batinnya
###
Di sebuah ruangan yang tampak elegen, sepasang kekasih sedang tengah bermanja-manja, saling berpelukan di dalam satu selimut. Sepasang kekasih itu sedang bermanja-manja saling mencium, mengecup begitu pun seterusnya.
"Honey, aku ingin secepatnya pulang," ucap Gladies.
Deg
Jhonatan hampir lupa, kalau Bella berada di rumahnya dan belum ia pindahkan. Saking sibuknya dengan Gladies, ia lupa bahwa masih ada Bella di rumahnya.
"Iya sayang, tapi kamu harus pulih dulu. Aku saja sangat khawatir, kamu ngeyel mau pulang dan akhirnya kita harus menginap di hotel. Hemp.... "
Gladies mengecup bibir Jhonatan, ia sangat berterima kasih karena telah di berikan suami yang sangat penyayang dan perhatian padanya.
"Maafkan aku, kalau aku pernah menyakiti mu, Jho."
"Aku sudah memaafkan mu, aku sudah melupakan semuanya."
Jhonatan mengecup kening Gladies dengan sangat dalam. Ia pun teringat akan Bella, bagaimana dengan keadaan wanita itu saat ini. Sudah dua hari ia tidak pernah menanyakan keadaannya. Ia menggeleng, saat ini satu tujuannya hanya fokus pada Galdies.
Kenapa aku merasa kosong batin Jhonatan.
__ADS_1