Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#Perasaan Jhonatan


__ADS_3

Jhonatan mengambil baby Gio yang menangis di dalam gendongan bibi Mira. Sejak tadi bocah kecil itu rewel, seolah dia mengerti apa yang terjadi pada kedua orang tuanya.


"Sayang,"


Baby Gio tetap menangis dan hal itu membuat Jhonatan semakin bersalah. "Maafkan Daddy, Daddy gagal membuat ibu mu bahagia. Daddy gagal menjaga ayah mu."


Bibi Mira menghapus air matanya dengan sapu tangan yang ia pegang. Dia merasakan bagaimana semua orang kehilangan sosok Dominic.


"Kau harus menggantikan Daddy mu menjaga ibu mu. Daddy akan membantu mu dari jauh,"


Jhonatan semakin memeluk erat baby Gio. Dia enggan sekali meninggalkan anak Dominic, sebulan ini dia berada di samping baby Gio, ia menganggapnya seperti anaknya sendiri. "Maafkan Dad .... "


Jhonatan menghentikan perkataannya, dia mengingat perkataan Bella dan matanya yang seakan menghunuskan pedang kebencian.


Dia kembali teringat lagi perkataan Dominic.


"Hallo sayang, dia Daddy kedua mu," ucap Dominic meraih sebelah tangan baby Gio untuk meraba wajah Jhonatan.


Jhonatan meraih tangan mungil itu dan mengecupnya.


"Kenapa kau mengatakan aku Daddynya?" tanya Jhonatan yang tak mengerti. Dia bingung dengan sebutan Daddy.


"Kau berhak menjadi Daddy nya Gio, aku menjadi Daddy si Kembar, jadi menurut ku adil," ucapnya. Kedua mata Dominic berkaca-kaca. "Aku ingin kau juga membantu ku menjaganya. Dia juga membutuhkan mu."


"Aku bisa membantunya, tapi rasanya sangat aneh." Jhonatan tak merasa enak hati.


"Kau tidak menyukai anak ku?" tanya Dominic.


"Bukan, bukan begitu, aku tidak ingin salah paham."


Dominic tersenyum, "Tidak akan ada yang salah paham, aku sudah menjelaskan pada Bella. Aku harap kau juga mencintai putra ku sama seperti aku mencintai si Kembar. Aku rela melakukan apa pun untuknya."


Jhonatan mencium pipi gembul putranya, dia tidak jadi mengatakan dirinya sebagai Daddy, seorang Daddy seharusnya membahagiakan putranya, tapi sepertinya ia tidak layak.

__ADS_1


"Maafkan Om, kau seharusnya tidak memanggil Om Daddy, sebutan itu tidak pantas untuk Om, sayang."


***


Suara derasnya hujan dan petir yang menggelagar itu membuat seorang pria yang tengah tertidur pulas di samping seorang bayi langsung beranjak. Mulai tadi siang sampai malam dia menimang baby Gio yang sangat rewel, karena kelelahan tanpa sadar ia tertidur di samping baby Gio.


"Bella?!"


Jhonatan pun panik, dia langsung keluar dari kamar baby Gio, melihat ke kamar Bella namun tidak ada seorang pun.


"Apa dia masih di sana?" tanya Jhonatan.


Benar saja, dari jauh dia melihat Bella yang masih duduk di makan suaminya.


Sebesar itukah cinta mu padanya Bella? bagaimana kalau aku pergi? apa kau juga akan sesedih itu.


"Bawakan aku satu payung," titah Jhonatan pada salah satu pelayan wanita yang sepertinya sejak tadi melihat majikannya. Di samping Bella ada Bi Mira yang sepertinya membujuk.


Jhonatan membuka payung itu, dia bergegas menuju ke arah Bella. Tubuh wanita itu menggigil dan terus menangis dalam diam.


"Untuk apa kau kesini? pergi! jangan datang kembali!" sentak Bella dengan sengit.


Jhonatan membuang payungnya, dia memutari rumah terkahir Dominic dan menatap mantan istrinya. "Sampai kapan kau seperti ini? apa kau pikir Dominic senang melihat mu seperti ini? kau tidak ingat pesan terakhirnya, mungkin kau sudah lupa? Giordan dan si Kembar membutuhkan mu, Dominic sudah berkorban banyak, apa kau akan mengorbankan mereka?" sentak Jhonatan.


Dalam hatinya ia beribu-ribu meminta maaf, tidak ada niatan dalam hatinya menyentak Bella. Tetapi ia ingin menyadarkan wanita di depannya, ada beberapa orang yang membutuhkannya.


"Kau boleh marah pada ku, kau boleh melampiaskan kemarahan mu, tapi jangan melibatkan ketiga anak mu. Dia butuh kekuatan mu saat mereka merasakan kehilangan, terutama baby Gio. Dia sangat butuh kekuatan mu."


Bella semakin terisak, dia meremas tanah yang bercampur bunga mawar berwarna pink, tidak menyangka, warna yang bunga mawar yang ia sukai harus berada di pusaran suaminya.


Kedua mata Bella mulai berkunang-kunang, kedua matanya terasa berat dan kepalanya jatuh di atas gundukan tanah itu.


Jhonatan berteriak membangunkan Bella, dia langsung membopong tubuh Bella yang terasa panas dan berteriak pada Bi Mira dan seluruh pelayan untuk memanggilkan Dokter.

__ADS_1


"Kalian bantu ganti baju nyonya kalian, aku akan menunggu di luar," titah Jhonatan. Dia berlari ke kamar satunya, melihat Baby Gio yang masih memejamkan kedua matanya.


Huft


"Daddy!" kedua anaknya berteriak, mereka berlari ke arah Jhonatan.


"Kenapa Daddy berteriak? apa terjadi sesuatu pada Mommy?" tanya Vello. Dia mulai takut melihat baju Jhonatan yang basah kuyup.


"Tidak sayang, Mommy pingsan dan sekarang sedang di bantu oleh dua pelayan untuk mengganti bajunya. Kalian tidak perlu khawatir, Mommy pingsan pasti karena khawatir."


Vello langsung berbalik, dia membuka pintu kamar Bella dan melihat dua pelayan telah mengganti baju sang ibu. "Mommy!" lirih Vello. Dia menggenggam tangan sang ibu yang begitu dingin.


"Mommy jangan meninggalkan Vello dan adik, jangan seperti Daddy Dom." Vello mengusap kedua air matanya dengan lengan bajunya. Hidungnya kembang kempis, rasa takut dan khawatir bercampur menjadi satu. Dia tidak mau kehilangan kedua orang tuanya.


"Sayang, Mommy tidak apa-apa. Daddy berjanji akan membangunkan Mommy."


"Tuan," sapa Bi Mira. "Dokternya sudah datang,"


Jhonatan pun melangkah ke belakang. "Tolong periksa Bella," ucapnya. Kerutan di dahinya semakin mengerut, wajahnya terlihat bingung dan ketakutan.


Dokter itu pun memeriksa Bella, mulai dari nadi, jantung dan kedua matanya. "Nyonya Bella pingsan karena demam tuan, di tambah dengan beban pikiran. Saya akan meresepkan obatnya,"


Jhonatan pun mengambil resep obat itu. Dia hendak membalikkan tubuhnya, tapi Bi Mira menghentikannya.


"Biar saya saja yang menebusnya di apotik tuan, sebaiknya tuan menjaga nyonya Bella dan tuan membersihkan diri," ucap Bi Mira.


Jhonatan pun mengangguk, dia memberikan resep obat itu pada bibi Mira.


Selang beberapa saat Jhonatan kembali lagi melihat keadaan Bella, dia pun duduk di kursi kayu minimalis tepat di samping Bella. Sedangkan si Kembar, Velli dan Vello pun ikut berjaga.


"Sayang, sebaiknya kalian tidur. Biar Daddy saja yang menjaga Mommy," ucap Jhonatan merasa kasihan. Kadang Velli duduk di sofa sambil menguap, kadang dia juga beranjak melihat Bella, Vello pun ikut berjaga, dia mondar mandir sambil menguap.


"Baiklah Dad, kalau ada apa-apa. Katakan pada Vello dan Velli,"

__ADS_1


Jhonatan mencium salah satu pipi kedua anaknya secara bergantian. Mereka bersyukur Vello dan Velli seperti anak dewasa yang mengerti keadaan orang tuanya, tapi kadang ia merasa kasihan saat seumuran anak di usia mereka yang harus di tuntut mengerti keadaan orang tua mereka.


__ADS_2